Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Nafa Pingsan


__ADS_3

Nafa tidak sadarkan diri, tubuhnya melayang. Untung saja ada Sakti yang sigap menahan tubuhnya. "Wa... Wa Rasih....!" Sakti berteriak memanggil Wa Rasih. Wa Rasih dengan cepat datang berlari tergopoh.


"Iya, Den?"


"Ambilkan minum dan minyak kayu kencana untuk dicium dihidungnya!" perintah Sakti. Wa Rasih segera mematuhinya walau dengan raut wajah bingung dan panik.


Nafa dibaringkan Sakti di sofa ruang tamu. Satu persatu orang rumah berdatangan dan heran melihat Nafa terbaring lemah.


"Sakti, ini ada apa?" Bu Sukma cemas dan penasaran.


"Tidak tahu, Ma. Yang jelas Nafa barusan di depan mendengar tetangga kasak kusuk membicarakannya sebagai pelakor," ucap Sakti. "Sebetulnya ada apa Ma, kenapa orang-orang itu membicarakan Nafa seperti itu?" Sakti keheranan.


"Sebenarnya... tadi siang mantan ibu mertuamu datang dan ngamuk serta berbicara kasar menantang Mama. Mereka datang untuk melabrak Nafa istrimu. Karena istrimu tidak ada, maka mereka teriak-teriak menantang Mama. Mama malu Sakti, sampai tetangga semua tahu, dan menuding kita yang menjahati Meta." Bu Sukma bercerita dengan wajah bermuram durja.



"Apakah Meta juga ikut mengata-ngatai Nafa?"


"Mama hanya melihat mertuamu saja yang turun dan berbicara kasar dan berteriak-teriak," ucap Bu Sukma.


"Kurang ajar, Sakti harus membuat perhitungan dengan mereka. Mereka telah melanggar surat perjanjian yang telah disepakati." Sakti begitu marah dan kecewa.


"Kalau begitu, Nafa sudah tidak aman lagi tinggal di sini. Mama takut Nafa ngedrop dan berpengaruh pada kehamilannya yang masih muda."


"Itu juga menjadi kekhawatiran Sakti, Ma. Kalau mereka terus-terusan mengata-ngatai Nafa. Sakti takut Nafa stress dan kehamilannya terganggu."


"Bawalah Nafa pergi dari kota ini Sakti, ke kota *Dingin* itu lebih baik. Biarkan dia tinggal di sana sampai semua keadaan terkendali dan Nafa siap mental dengan omongan orang-orang." Bu Sukma memberikan saran. Sakti sejenak merenung seakan berpikir.



"Ide Mama ada baiknya. Mungkin itu lebih baik buat Nafa, Ma. Tapi... Nafa tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya sebagai Perancang. Dia hobi dengan merancang sehingga mampu menghasilkan gaun-gaun yang banyak disukai kalangan tertentu. Jadi... Sakti tidak menjanjikan bisa membujuk Nafa bisa dibawa ke kota *Dingin*." Sakti terlihat putus asa.



"Kenapa pekerjaannya tidak dibawa saja ke kota *Dingin*, dengan begitu Nafa masih bisa mengerjakan pekerjaannya di sana. Gaun hasil rancangannya bisa dia kirim ke butik tempat dia bekerja, atau istrimu buka butik saja di kota *Dingin*. Setelah itu dia bisa bekerjasama dengan bosnya di butik Syafana," ujar Bu Sukma memberi saran. Sakti berpikir dan sepertinya ide Mama Sukma benar-benar solusi yang tepat, jika Nafa menyetujuinya.



"Mama, benar Ma. Sakti akan bilang ke Nafa soal ide dan solusi dari Mama ini. Sakti pikir dengan menempatkan Nafa di kota *Dingin*, untuk sementara keadaan Nafa akan aman. Jauh dari gangguan Bu Mala yang masih belum terima Sakti menceraikan Meta." Sakti seakan mendapat durian runtuh dengan ide dan solusi dari Mama Sukma.



"Mantan mertuamu memang kelihatannya belum terima kamu menceraikan Meta, sehingga dia bersikap arogan seperti itu. Hati-hati saja Sakti, mulai hari ini jangan biarkan Nafa sendirian pergi ke luar tanpa pengawasanmu," peringat Mama Sukma risau.



"Iya Ma, benar. Sakti juga takut membiarkan Nafa pergi sendirian keluar. Tadi saja saat pulang kerja, Nafa sudah terancam keselamatannya. Rupanya setelah Sakti selidiki dan menyamar, orang yang berusaha mencelakakan Nafa adalah Meta dan ibunya. Tadi Sakti melihat sendiri setelah Sakti berhasil mengawasi mereka. Rupanya Meta dan ibunya tidak bisa dipercaya, Meta telah mengingkari surat perjanjian yang ditandatanganinya sendiri." Sakti mengepalkan tangannya geram.



"Benarkah? Itu sangat bahaya Sakti, Mama jadi sangat khawatir dengan keadaan Nafa sekarang ini. Nyawa dia terancam, mental dia juga pasti terganggu akibat orang-orang yang ikut campur mencemooh dia sebagai pelakor," pungkas Mama Sukma seraya mengusap lembut kepala Nafa yang masih terbaring.

__ADS_1



"Sakti janji akan menyeret Meta dan Bu Mala ke meja hijau jika mereka tidak berhenti mengganggu Nafa," tegas Sakti dengan sorot mata yang tajam.


...****************...


Hari ini Sakti pergi dengan alasan ada pekerjaan di luar kota. Nafa dan Rafa nampak keberatan dengan kepergian Sakti. Sebab mereka inginnya hari Minggu ini *quality time* bersama keluarga. Namun Sakti meyakinkan jika kepergiannya kali ini hanya sebentar dan dipastikan sore nanti kembali.



Sakti menepikan mobilnya di tepi jalan. Dia segera turun dan menekan bel yang terdapat di pintu gerbang rumah itu. Entah rumah siapa yang Sakti tuju, yang jelas kali ini raut wajahnya memperlihatkan emosi yang sangat tinggi.



Beberapa menit kemudian pintu gerbang dibuka, tapi hanya pintu gerbang kecilnya saja. Muncul seorang Satpam rumah tersebut.


"Umar... bapak dan ibu ada?" Sakti bertanya, sepertinya dia sudah mengenal Satpam rumah tersebut dari cara dia memanggil nama Satpamnya.


"Den Sakti....?" Umar Satpam rumah itu terkejut. "Ibu dan bapak kebetulan ada, Den. Itu mobilnya juga ada," jawab Umar seraya menunjuk ke arah mobil yang terparkir di dalam halaman rumah yang lumayan besar itu. Di sinilah Sakti kini berada, di depan rumah mantan mertuanya Bu Mala dan Pak Malik.



Umar mempersilahkan Sakti masuk. "Den, mobilnya tidak dimasukkan?"


"Biar saja di luar, saya tidak akan lama," ujar Sakti sambil tergesa masuk.


Sakti tiba di depan pintu rumah mantan mertuanya, segera dia mengucapkan salam dengan raut muka yang tidak sabar.


"Assalamu'alaikum....!" ucapnya lantang. Tidak berapa lama ucapan salam itu disambut dengan dibukanya pintu rumah oleh seorang ART paruh baya.


"Saya mau bertemu bapak, dan ibu, juga Meta, mereka ada?" Belum sampai ART tersebut menjawab, Pak Malik dan Bu Mala muncul beriringan menghampiri Sakti yang nampak. tegang.


Deru nafas Sakti tiba-tiba semakin cepat saat melihat Bu Mala semakin mendekat. Namun Sakti berusaha menenangkan diri, walau emosi sudah di ubun-ubun.



"Sakti....!" seru Pak Malik masih hangat pada mantan menantunya itu, sementara Bu Mala saat Sakti berbasa-basi saja memperlihatkan muka yang masam dan jutek.



Sakti menyalami Pak Malik, sementara pada Bu Mala yang masam Sakti cukup mengangkat kedua tangannya di depan dada. Bu Mala mendelik dan membuang muka. Nampaknya Bu Mala masih belum ikhlas anaknya diceraikan Sakti.



"Begini Pak, maksud kedatangan Sakti kesini hanya ingin mengingatkan istri Bapak. Tapi... sebelumnya Sakti mau minta maaf jika kedatangan Sakti dianggap tidak sopan. Namun, masalah ini harus segera Sakti luruskan secepatnya, sebab jika berlarut-larut hanya akan ada orang yang menjadi korban," ucap Sakti membuat Pak Malik mengerutkan kening seketika.



"Apa... maksud Nak Sakti?" Pak Malik semakin penasaran.


"Sekali lagi saya minta maaf jika kedatangan Sakti dianggap lancang."

__ADS_1


"Katakanlah!" pinta Pak Malik tidak sabar.


"Maksud kedatangan Sakti kesini adalah ingin memperingatkan Bu Mala istri Bapak, dan Meta anak Bapak, supaya tidak lagi menteror keselamatan istri saya, Nafa," tegas Sakti dengan sorot mata tajam.



"Apa... meneror?" Pak Malik kaget lalu menatap istrinya dengan lekat, berjuta pertanyaan hadir di sana. Bu Mala masih bergeming dia berdiri angkuh dengan wajah tanpa rasa takut.



"Apakah benar apa yang dikatakan Nak Sakti, Bu?" tanya Pak Malik pada istrinya.


"Apanya yang benar, Pak? Paling si Sakti hanya mengada-ngada. Dia kan tipe orang yang suka menyakiti, dengan menfitnah Ibu dan Meta dia masih berusaha menyakiti, padahal sudah menceraikan Meta," ujar Bu Mala berdiri dengan angkuhnya. Sakti yang emosi hampir meledak mendengar ucapan sinis dan mengada-ada Bu Mala.


"Itu semua benar, Pak. Yang saya katakan barusan benar. Saya ada bukti rekamannya saat mobil Bu Mala mau menyerempet istri saya, bahkan kejadian ini sudah dia kali mereka lakukan. Dan yang kemarin adalah yang kedua kalinya, dan saya ada bukti." Sakti sembari meraih Hp di saku celananya.



"Coba Bapak lihat sejenak bukti rekaman ini, ini jelas bukan fitnah dan tidak mengada-ada," tandas Sakti seakan ingin membungkam kesombongan Bu Mala.



"Alaah... ini paling rekaman yang diedit dan direkayasa, si Sakti kan pandai memutar balikkan fakta!" cibir Bu Mala membuat Sakti terpancing emosinya.



"Jangan menyangkal lagi Bu! Sudah jelas ini Ibu dan Meta yang melakukan penyerempetan. Bukti ini akan saya bawa ke pihak berwajib untuk diproses secara hukum, jika Ibu dan Meta masih tidak menyesali perbuatannya," ancam Sakti membuat Bu Mala sedikit terperangah.



"Mana Meta, Saya ingin bertemu Meta. Dengan begini itu artinya dia telah mengingkari surat perjanjian yang ditandatangani diatas materai, dia bisa dijebloskan ke penjara karena mengingkari perjanjian itu," tandanya lagi menggebu-gebu.



"Meta, tidak ada Nak Sakti. Dia sedang pergi keluar," ucap Pak Malik resah seraya memberikan kembali HP milik Sakti.



"Ingat ya, 24 jam mulai dari sekarang, apabila salah satu diantara kalian berdua tidak ada yang minta maaf. Maka, Saya akan melaporkan semua kejadian penyerempetan itu ke pihak berwajib. Camkan itu, mantan Ibu Mertua!" Tandas Sakti seraya meninggalkan kediaman Pak Malik.



Pak Malik menatap kepergian Sakti dengan nanar. Hatinya kecewa dan teriris mendengar ancaman mantan menantunya itu. Semua ini tidak terlepas dari perbuatan anak dan istrinya yang selalu membuat ulah. Kini atas perbuatan Meta dan Bu Mala, ancaman penjara di depan mata.



"Bu, Bapak minta... mohon maaflah sama keluarganya Sakti sekarang, jika tidak ingin dipenjara!" mohon Pak Malik sungguh-sungguh. Bu Mala menatap Pak Malik dengan tatapan bengis dan tidak terima.



"Buat apa, Pak? Kenapa kita harus minta maaf? Biarkan saja si Sakti mengancam, toh itu hanya gertak sambal semata." Bu Mala seolah meremehkan.

__ADS_1


"Jangan meremehkan, Bu. Sakti itu serius dan dia tidak akan main-main. Jika Ibu dipenjara, Bapak lebih baik pergi daripada membela Ibu yang tidak pernah mendengarkan ucapan suaminya!"


Mendengar ucapan suaminya, Bu Mala mendengus kesal seraya melengos pergi dengan wajah yang dipenuhi kemarahan.


__ADS_2