
"Jangan... Darling ku mohon jangan lakukan itu. Bukan kah tadi Darling bilang kalau kita harus segera berangkat? Jangan sampai kita terlambat." Tolak ku halus, supaya tuan Angga tidak gelap mata. Dan akhirnya membuang- buang waktu. Bagaimana kalau tuan Angga mengajak ku kembali bercumbu. Memikirkan nya membuat ku salah tingkah. Darah ku langsung berdesir, menyalurkan keinginan merasakan kembali sensasi luar biasa bersama tuan Angga. Aku segera menepis pikiran kotor ku. Tadi tuan Angga bilang kalau kita sudah sangat terlambat menghadiri acara. Bagaimana kalau acara itu sangat penting? Dan ujung- ujung nya akujuga nanti yang akan disalahkan.
Tuan Angga tetap berjalan mendekati ku, ia membawa sesuatu. Sebuah kotak perhiasan bersampul beludru hitam. Ia menyerahkan kotak itu kepada ku. Aku sempat bertanya- tanya dalam hati ku, aku belum berulang tahun. Mengapa ia memberi ku hadiah? Tanpa bertanya aku menerimanya. Karena pikir ku, mungkin ini kebiasaan orang kaya, memberikan hadiah kapan pun ia mau.
Saat ku buka kotak itu, aku begitu terkejut. Isi kotak itu membuat ku tercengang. Di dalam nya ada satu set perhiasan berlian: Kalung, gelang dan anting berhiaskan berlian yang berkilauan. Meskipun aku belum pernah membeli perhiasan, namun aku bisa memperkirakan harga perhiasan itu pasti ratusan juta.
"Sini aku bantu pakai!" Tuan Angga menawarkan bantuan nya. Ia segera mengambil seuntai kalung dari dalam kotak dan memasangkan nya di leher jenjang ku.
"Apakah perhiasan ini semua untuk ku?" Tanya ku dengan kegembiraan yang membuncah. Belum pernah sekalipun aku memakai perhiasan asli. Dan baru kali ini aku mendapatkan hadiah perhiasan yang begitu indah dengan berlian sebagai hiasannya. Aku merasa seperti wanita yang sangat diistimewakan tuan Angga. Anting dan gelang semua ku pakai. Terlihat elegan dan mewah. Aku tersenyum melihat pantulan diri ku terlihat sangat berkelas.
"Ya.. untuk mu. Apakah masih kurang?" Tanya tuan Angga menggoda ku. Sembari mengecup mesra leher ku.
"Ti... dak. Ini sudah lebih dari cukup. Darling... trimakasih banyak." Kata ku tulus.
"Ucapan trimakasih mu tidak bisa ku trima sekarang. Aku maunya nanti malam kamu bisa berterimakasih dengan melakukan sesuatu," ucap tuan Angga dengan senyuman licik nya. Aku hanya berharap kalau permintaan tuan Angga bukanlah sesuatu yang aneh- aneh.
"Sudah... ayo, cepat kita keluar." Tuan Angga menyeret tangan ku tak sabar.
"Darling... aku belum pakai sepatu." Kata ku sambil balik menarik tangannya. Aku berhasil mengambil sepatu silver high heel bertali. Tuan Angga tidak sabar lagi. Ia mengangkat ku dan menggendong ala bridal style. Aku malu banget kalau nanti dilihat orang. Untung saja lantai Dua puluh lima, tempat kamar kami berada sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang berpapasan dengan ku. Hingga membuat ku bernafas lega.
Setibanya di dalam lift, tuan Angga tetap mempertahankan gendongannya. Namun aku memaksa untuk turun. Aku harus memakai sepatu ku, agar nanti saat di lobi tuan Angga tidak perlu lagi menggendong ku. Saat kami tiba di lobi, banyak pasang mata yang terang- terangan memandangi kami. Ada juga yang tidak segan- segan mengambil foto kami dengan kamera hp nya.
Orang- orang itu pasti kurang kerjaan buat apa mengambil foto ku? Atau mungkin mereka mengambil foto tuan Angga yang notaben nya adalah seorang pengusaha kaya raya? Aku segera mengimbangi langkah tuan Angga yang semakin cepat. Rasanya ribet banget untuk jalan cepat karena rok yang ku pakai model sepan panjang.
__ADS_1
Sampai juga di jalan keluar. Di depan hotel Deni sudah menunggu di samping mobilnya. Ia menyambut kami dengan senyuman hangatnya. Saat ia berniat membukakan pintu, tuan Angga menolaknya.
Tuan Angga sendiri yang membukakan pintu mobil mewahnya untuk ku. Aku merasa sangat tersanjung pada sikapnya yang manis. Mobil itu hanya ada satu jok panjang untuk penumpang. Aku duduk merapat dekat kaca jendela.
Tanpa ku sadari kebaya brokat yang ku pakai kancing paling atas terbuka. Hingga gundukan di dada ku terpampang jelas. Aku baru menyadari saat tuan Angga melemparkan pandangan penuh hasrat saat memandang dada ku. Reflek segera ku tutup dada ku, dan kuperbaiki kancing nya yang tak terpasang. Sungguh aku malu banget pada tuan Angga. Hingga tak berani menatapnya. Aku memilih memalingkan muka memandang pemandangan kota dari balik kaca mobil.
Tangan tuan Angga menggenggam jari- jari ku erat. "Honey... berjanjilah pada ku, kamu akan jadi istriku yang setia, dan mencintai ku apa adanya." Katanya pelan.
Aku hanya memberinya senyuman pias. Bagaimana tidak, aku bukan lah wanita seberuntung itu. Mana mungkin aku bisa menjadi seorang istri resmi. Karena kenyataan nya, tuan Angga sudah punya istri.
Tangan tuan Angga terasa dingin. Aku pun mencoba untuk menghangatkannya. Dengan menggenggamnya semakin erat. Mengharap bisa menyalurkan kenyamanan pada nya. Aku tidak habis pikir, sebenarnya kami mau ke mana? Sepertinya acara yang kami akan hadiri sangat penting, karena tuan Angga terlihat gugup. Setelahnya kami terdiam dalam kebisuan.
Setengah jam kemudian kami sampai di sebuah rumah mewah. Deni menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah.
Saat kami melangkah ke dalam rumah. Disana sudah menunggu beberapa orang, ada emak juga dua orang adik ku. Membuat ku semakin kebingungan. Emak tersenyum bahagia, ia segera menggandeng dan menyuruh ku duduk.
"Ada apa ini Mak?" bisik ku pada emak yang duduk di belakang ku.
"Sssttt.... tenang kamu nanti pasti tahu An." jawab emak juga dengan berbisik.
Tuan Angga juga duduk di dekat ku. Emak tiba- tiba memakaikan kerudung pada ku dan tuan Angga. Apa ini? Aku masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi ini? Namun saat tuan Angga menyampaikan ijab khobul, jantung ku berdebar- debar hebat. Air mata ku mengalir deras. Setelah selesai pak penghulu membacakan doa nya. Aku spontan menoleh ke Emak mengharap mendapat jawaban dari nya.
Emak hanya mengangguk. Seakan mengatakan apa pun yang ku pikirkan itu benar ada nya. Aku semakin terpana saat pak penghulu menyerahkan dua buah buku nikah pada kami. Benarkah ini? Aku benar- benar menikah? Pertanyaan yang membuat ku semakin bingung. Jangan- jangan ini cuma mimpi? ku cubit tangan ku, terasa sakit.
__ADS_1
Tuan Angga mengangsurkan tangannya. Aku bingung. Dari belakang emak membisiki ku untuk mencium tangan tuan Angga. Aku menurutinya.
Semua orang yang hadir, bangkit dan menyalami kami berdua memberikan ucapan selamat. Dalam waktu kurang dari setengah jam kami telah resmi menjadi suami- istri yang syah.
Acara ditutup dengan jamuan makan yang sangat mewah. Sepertinya dipesan dari restoran ternama. Aku hanya bisa makan sedikit sekali. Rasanya ini adalah sebuah kejutan yang telah membuat ku syok berat.
Emak menghampiri ku, dan menyampaikan wejangan- wejangan untuk ku.
"Ana... kamu sudah jadi istri tuan Angga, jadilah istri yang baik, yang akan selalu melayani suaminya dengan suka cita, dan yang terpenting, kamu harus bisa membawa kebahagiaan dalam rumah tangga mu."
Emak memeluk ku erat- erat, seakan kami akan terpisah. Air mata ku tumpah oleh kebahagiaan dan kesedihan yang datang bersamaan.
Acara selesai sudah. Tamu undangan yang tak berapa banyak telah lama pulang. Tersisa hanya keluarga inti. Ibu dan adik- adik ku berpamitan pulang. Aku belum sempat bertanya kemana mereka akan pulang. Namun aku menduga, Ibu dan adik- adik ku pasti kembali ke hotel. Seperti info yang disampaikan Deni tadi pagi. Bahwa rumah kami yang baru masih di renovasi.
Rasanya berat sekali saat Emak dan adik- adik ku berpamitan pulang. Rasanya seperti mau ditinggal pergi jauh. Tuan Angga seperti tahu kesedihan ku.
"Udah Honey... besok kan bisa bertemu lagi dengan emak," hibur tuan Angga sembari memeluk pinggang ku.
"Darling... benarkah kita sudah menikah?" Aku menoleh dan mencoba mencari kejujuran di mata tuan Angga.
"Honey... kamu belum percaya kalau kita sudah menikah? Ayo kita periksa di dalam." Kata tuan Angga langsung merengkuh ku dalam gendongan ala bridal style. Ia membawaku ke kamar utama. Aku hanya pasrah dalam gendongan nya. Bagaimana pun aku sudah jadi milik tuan Angga secara resmi.
Saat sampai di depan pintu, tuan Angga kesulitan membuka pintu namun ia tidak mau menurunkan aku dari gendongan nya. Aku pun membantunya membukakan pintu. Ranjang di hias dengan taburan bunga mawar merah hati. Juga tercium pengharum ruangan yang sangat segar. Beberapa rangkaian bunga menghiasi sudut- sudut kamar, menambah kesan romantis.
__ADS_1
Tuan Angga dengan sangat hati - hati meletakkan ku di atas ranjang.