Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Season 2 Kekhawatiran Pak Kusuma


__ADS_3

Aldin kembali ke apartemennya dengan perasaan was-was. Sejak mengantarkan Nara pulang, pikirannya tidak lepas dari gadis itu. Aldin takut Nara kena marah Bapaknya. Bagaimanapun juga dia ikut andil dalam keterlambatan pulang Nara.



"Gadis kecil, semoga kamu tidak kena marah Bapakmu," guman Aldin penuh harap.



Besoknya di rumah Nara, sebelum Pak Kusuma pergi ke bengkel, Nara mendapatkan ceramah gratis.


"Bapak khawatir jika kamu harus pulang malam. Bapak takut kamu tiba-tiba disuruh lembur lagi dan pulang larut malam kaya tadi malam. Dan lagi kenapa Hp kamu tidak aktif? Bapak menghubungimu susah," ucap Pak Kusuma dengan diselingi minum kopi.


"Nara minta maaf, Pak. HP Nara memang habis batre, dan saat Nara mau menghubungi Bapak, batrenya mati," alasan Nara.


"Terus, bagaimana apakah hari ini kamu akan pergi bekerja?" tanya Pak Kusuma sambil meneguk kopinya lagi.


"Insya Allah bekerja, Pak."


"Ya sudah jika itu memang mau kamu, bapak tidak bisa melarangmu. Tapi, jika kamu ada lembur lagi, langsung kasih tahu bapak atau ibu biar bapak tidak khawatir," pesan Pak Kusuma lalu beranjak keluar.


"Baik, Pak. Nara akan lakukan pesan Bapak," ucap Nara seraya menyalami Pak Kusuma. Pak Kusuma menyalakan mesin motor lalu meninggalkan halaman rumahnya.



"Benar kata Bapak kamu, Nak. Kalau kamu ada lembur lagi harus langsung kasih tahu bapak atau ibu, dan satu lagi jangan biarkan HP kamu habis batre, supaya kami tidak kehilangan jejakmu," peringat Bu Melati sambil berlalu.

__ADS_1



Nara termenung sejenak memikirkan semua nasihat kedua orangtuanya barusan, Nara merasa bersalah sebab di sini dia merasa telah membohongi bapak dan ibunya. Nara menghembuskan nafasnya kasar dan berlalu ke kamarnya.



Di dalam kamar, Nara membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba bayang-bayang saat Aldin menyatakan cinta saat setengah sadar tadi malam, teringat kembali di kepalanya. Nara seakan terbawa perasaan💘.



"Benarkah Kak Aldin menyatakan cintanya tadi malam atau hanya mengigau saja?" Hati Nara bertanya-tanya.



"Iya, Bu," sahut Nara seraya bangkit dan keluar dari kamar. Saat di luar kamar, Bu Melati sudah jauh berjalan.


Nara menghampiri meja makan, saat ini perutnya terasa lapar. Nara membuka tudung saji, di dalam tudung saji ada sisa lauk yang dijual ibunya. Nara lebih memilih makan dengan sayur sop dan ikan cumi asin kesukaannya ditambah sambel. Terasa nikmatnya.



Saat Nara menyudahi makannya, tiba-tiba di depan pintu diketuk seseorang. Nara kaget dan heran siapa yang bertamu.



"Tok, tok, tok!" Ketukan itu terdengar sampai tiga kali lalu berhenti seakan bosan.

__ADS_1


"Sebentar!" teriak Nara kesal. Saat dibuka, Nara tidak kalah kagetnya.


"Kak Aldin, ada apa datang kemari?" Nada kaget plus heran.


"Kenapa, kamu kaget?"


"I-iya, ada apa Kakak kemari? Kenapa tidak ngantor saja Kak?" Nara sedikit gelagapan di depan lelaki dewasa yang hari ini begitu sangat tampan.


"Tidak usah menasehatiku, itu kantor aku dan aku bebas kapan saja masuk kantor," gertaknya membuat Nara ciut. Nara diam lalu berjalan ke dalam tanpa pamit. Aldin yang melihat sepertinya kesal.



"Naraaaa, kenapa kamu main tinggal saja? Tidak sopan!" umpatnya kesal. Namun beberapa saat kemudian, Nara datang membawa secangkir teh hangat. Aldin menatap Nara salah tingkah.


Bersambung...


Mampir juga ya di kisah Author yang lainnya.



Dijebak Nikah Paksa


Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah


__ADS_1


__ADS_2