Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Peringatan Pertama


__ADS_3

Saat kami meneruskan perjalanan untuk makan malam, Doni dan Nita tak henti- hentinya bercanda. Aku sangat lega melihat Adik bungsu ku yang terlihat ceria. Hingga tak ada sedikit pun tanda- tanda kalau ia sedang sakit.


Doni dan Nita sudah berjalan lebih dulu menuju kaki lima. Warung penjual nasi dan Mie goreng. Aku segera memanggil mereka. Kebetulan warung nya juga cukup ramai.


"Kak... warung nya penuh" lapor Doni. Padahal aku juga bisa dengan jelas melihatnya.


"Kita makan di tempat lain," kata ku berteka- teki.


"Makan di mana Kak?" Tanya Doni dan Nita penasaran. Sementara Emak hanya tersenyum melihat kami.


"Ikuti Kak Ana!" Aku menggandeng tangan Emak, membawanya berjalan menuju 'Restoran Raja Seafood'. Emak tiba- tiba menghentikan langkah nya. "Kenapa Mak?" Tanya ku penasaran.


"An... itu restoran mahal. Cari warung sederhana saja!" Emak terlihat kawatir, mungkin ia takut uang ku gak cukup untuk membayar makan kami nantinya.


"Gak papa, Mak. Sekali ini saja, biar Doni dan Nita sekali- kali merasakan makanan enak." Aku terus meyakinkan Emak.


"Pesan satu porsi aja An," bisik Emak dekat telinga ku. Aku tersenyum simpul. Hari ini aku akan membuat keluarga ku menikmati makan enak.


Doni dengan cepat segera mencari tempat kosong. Dia memilih tempat duduk lesehan dekat kolam ikan. Sementara aku bergegas ke kasir untuk memesan berbagai macam makanan. Kemudian aku mendatangi keluarga ku, berpura- pura mengajak mereka untuk mendiskusikan makanan apa yang akan kami pesan. Doni bersikeras, ia sangat ingin makan cap seafood. Akhirnya kami sepakat menyetujui nya. Kebetulan menu itu tidak ada dalam pesanan ku sebelumnya.


Beberapa saat menunggu, akhirnya makanan kami tiba. Ada ayam bakar madu, Cumi asam manis, Kepiting bumbu padang, cap cay dan empat piring nasi hangat yang masih mengepul. Juga ada macam- macam sambal an lalapan dalam piring kecil - kecil. Saat melihat banyaknya makanan datang di meja kami. Doni dan Nita berpandang - pandangan. Mereka pasti bingung, bagaimana bisa pramusaji menyajikan makanan yang tidak kami pesan? Nita berinisiatif bertanya pada pramusaji.


"Mas ... ini bukan makanan pesanan kami. Apa salah meja?"


"Enggak Dik, itu tadi kakaknya yang pesan," kata mas pramusaji mengarahkan jempolnya pada ku. Kompak Emak, Nita dan Doni menatap ku.

__ADS_1


"Benaran kak Ana pesan semua makanan ini?" Tanya Doni penasaran.


"Iya, malam hari ini kita makan mewah. Kita nikmati dengan ucapan syukur ya," kata ku sambil mengajak mereka berdoa.


"Amin..." Doni dengan semangat segera mengakhiri doa makan. Rupanya ia tidak sabar untuk segera menikmati semua hidangan di atas meja. Kami tertawa melihat tingkah Doni yang menggemaskan. Ia begitu lahap menikmati makanannya. Nita juga tidak kalah seru. Ia membantu membukakan cangkang kepiting untuk Doni.


Malam ini kami sangat puas dengan makan malam kami yang super mewah. Aku mulai membayangkan, kalau saja aku punya banyak uang. Pertama yang ingin kulakukan adalah membeli rumah yang layak untuk keluarga ku. Kedua, aku ingin sekali membawa keluarga ku bertamasya, ke Monas, Ancol, Mall dan Bali.


Kami pulang dengan hati gembira. Perut kenyang dan sangat puas.


"Kak Ana baru naik pangkat ya?" Rupanya Doni sangat penasaran. Karena memang, aku tidak pernah sekalipun mengajak makan diluar kalau tidak bertepatan karena gajian. Itu pun hanya makan nasi goreng atau mie goreng dua porsi untuk kami berempat.


"Kita makan mewah hari ini karena kebetulan kak Ana baru dapat rejeki," ku coba memberi jawab pada Doni adik ku yang kritis ini. Semoga ia tidak tanya macam- macam yang akan membuat Emak jadi ikut curiga.


Sampai rumah, Nita segera menyimpan ayam bakar madunya dan ditutup tudung saji. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Nita.


"Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur!" Kata ku, mengingatkan Nita dan Doni. Mereka segera berebut ke kamar mandi.


Saat aku memeriksa tas, tiba- tiba aku teringat pesan Deni, asisten Tuan Angga. Seketika perasaan bersalah menghantui ku. Bagaimana bisa aku lupa? Segera ku periksa Smartphone pemberian tuan Angga. Ada dua puluh panggilan tak terjawab.


Aku segera memanggil balik. Tak berapa lama terdengar jawaban dari seberang.


"Ini peringatan pertama.. Jangan mengabaikan panggilan ku!!!" Bentakan tuan Angga auto menciutkan nyali ku. Tuan Angga memutuskan panggilan ku. Sontak membuat ku jengkel. Dasar orang aneh, masak tidak mau mendengar dulu penjelasan dari ku? Sedikit kesal, ku buka pesan tuan Angga yang dikirimkan pada ku. Ada empat buah pesan.


Pesan pertama: "Angkat !!!"

__ADS_1


Pesan ke dua: "Angkat !!!"


Pesan ke tiga: "Angkat !!!"


Pesan ke empat: "Angkat !!!"


Apa coba maksudnya? Panggilannya cuma untuk ngasih SP. Sms juga cuma bilang seperti itu. Benar- benar orang kurang waras. Kalau ada hal penting, setidaknya bisa ditulis di pesan. Tapi ini? Panggilan tak terjawab sampai dua puluh panggilan. Rasa kesal bercampur rasa takut juga. Setelah menimbang- timbang beberapa saat, kuputuskan sebaiknya aku menelephonnya untuk minta maaf. Dari pada nanti, kalau ia kesal pada ku, bisa saja aku kembali dilaporkan dan dipenjarakannya.


Aku menghubungi no Hp tuan Angga. Di kontak ku di tulis nama My Darling. Sedikit membuat ku geli. Orang segalak dan sedingin Kutub Utara itu ada sisi alay nya juga. Saat panggilan ku diterima tuan Angga, tiba- tiba lidah ku kelu. Otak ku pun membeku. Hingga tak sepatah kata pun mampu keluar dari bibir ku. Terdengar panggilan telephon ku, diputus oleh nya. Baru ingatan ku kembali, aku harus minta maaf pada nya.


drrtttt.... drrrtttt


"Halo... kalau tidak juga ngomong, kumatikan telephonnya." Masih dengan emosi, tuan Angga menjawab telephon ku.


"Halo My Darling, saya minta maaf. Tadi kami sekeluarga makan malam di luar. Hp nya tertinggal di rumah. Jadi gak tahu kalau my Darling telephon. Doni tadi sempat sakit, mungkin karena dari pagi belum makan. Jadi malam ini keluarga ku sengaja ku ajak makan malam. Kasian seharian mereka tidak makan dengan benar. Darling sudah makan?"


Ampun deh, aku jadinya terlalu menghayati peran ku sebagai wanita simpanan tuan Angga. Gimana nanti kalau ketahuan istrinya? Ampun deh... bisa-bisa kulit ku di kelupasnya.


Tadi kenapa aku lupa menanyakan status tuan Angga pada asisten nya ya? Apakah ia lajang atau memang punya istri? Harusnya aku cari info sebanyak- banyak nya tentang tuan Angga juga istrinya. Supaya aku bisa waspada dan menghindari istri tuan Angga. Supaya kejadian tadi siang tak ku alami lagi. Semakin ku pikir, otak ku terasa ruwet. Ah .. Masa bodoh. Sebelum ketahuan istri nya, aku harus memanfaatkan kartu Kredit pemberian tuan Angga. Kalau perlu mengurasnya sampai habis.


"Honey aku belum makan. Kamu bisa masak? Masak kan aku sekarang!" Suara tuan Angga terdengar seperti anak yang sedang merajuk meminta dibelikan mainan. Apakah telingaku eror ya.


"Honey, kau biarkan aku kelaparan?" Rajukan tuan Angga semakin jelas.


Haduh... bagaimana ini? Hari sudah larut malam. Apa alasan ku pada Emak? "Ayo berfikir... berfikir Ana..." Gumam ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2