
Nara segera menyelesaikan tugas yang diberikan Aldin dengan hati yang kesal, namun dia tidak berani protes. Sesekali Nara melihat ke arah Aldin, takutnya Aldin pura-pura tidur dan tiba-tiba menerkamnya dari belakang. Begitu pikiran Nara, masih diselimuti piktor, alias pikiran kotor.
Enam map, apakah Nara mampu menyelesaikan laporan keuangan yang harus dia isi dengan benar selama satu jam? Nara bukan tidak mampu, namun dia merasa ini keterlaluan. Memberikan tugas sebanyak ini sedangkan dia butuh waktu untuk membaca dan memahami dulu isi dari laporan keuangan itu.
"Kak ... Kak Aldin, ini kan pekerjaan seorang Sekretaris, kenapa Kak Aldin limpahkan ini semua pada Nara yang tidak pernah menangani ini?" protes Nara yang hanya disahut oleh dengkuran halus Aldin. Akhirnya walau Nara dalam keadaan bingung, dia kerjakan tugas beratnya dengan cepat namun harus hati-hati takutnya ada kesalahan.
Satu jam kemudian, laporan keuangan Nara baru selesai tiga map, sedangkan tiga map lagi masih menunggu giliran untuk dibaca dan dihayati Nara kemudian ditulis dalam sebuah laporan keuangan.
Sebentar Nara menoleh ke arah belakang di mana Aldin sedang terlelap tidur, dia menatap Aldin dari atas sampai bawah. Sungguh bongkahan yang sempurna. Kulit bersih dan wajah yang tampan seketika membuat hati Nara terpatik rasa, entah rasa apa? Yang jelas hatinya mengatakan bahwa kini Nara sedang mengagumi seorang laki-laki dewasa yang benar-benar tampan dan berada di hadapannya.
Nara tersadar dan segera membalikkan badan untuk melanjutkan mengisi laporan keuangan yang masih tersisa tiga bab lagi. Dengan bertekad akan menyelesaikan sebelum Aldin bangun, Nara serius menyelesaikan tugasnya itu.
"Beruntubg Kak Aldin masih tidur, kalau tidak, maka aku akan kena marahnya karena belum menyelesaikan laporan keuangannya.
Satu map lagi, dan Nara mampu menyelesaikan map ke empat dengan waktu 15 menit. Artinya kalau pikiran dan otaknya lagi mulus dan encer, dia bisa menyelesaikan dua map lagi dengan waktu 30 menit. Nara cepat-cepat menyelesaikan dua map lagi dengan cepat namun teliti dan hati-hati.
Akhirnya, 30 menit kemudian dua map selesai dikerjakan Nara dengan cepat. Nara bisa bernafas lega dan sejenak meregangkan kedua otot tangannya supaya tidak pegal dan kaku lagi bekas menulis tadi. Lalu Nara menyandarkan bahunya di kursi kerja yang ada rodanya.
Rasa haus dan lapar kini menyergap dirinya. Nara mendongakkan tubuhnya lalu melihat ke arah meja yang tadi Aldin letakkan air minum untuk dua orang serta cemilannya.
__ADS_1
Nara merenung sejenak memikirkan tentang minuman di hadapannya. Memang benar itu hanya dua gelas minuman biasa, tapi bisa jadi dibubuhi obat perangsang oleh Aldin, dan terjadilah hal yang tidak senonoh. Dalam pikiran Nara terbayang hal-hal itu, sehingga dia enggan meminum minuman yang disediakan Aldin.
Nara kemudian bangkit, lalu matanya mengedar melihat ke seluruh ruangan. Nara terus berjalan dan keluar dari ruangan itu dengan membuka pintunya perlahan Nara terus berjalan memindai seluruh ruangan di luar kamar.
Ruangan yang disebut apartemen oleh Aldin itu, memiliki dua kamar, dengan kamar mandinya di dalam, ada ruangan tengah dengan TV digital yang berdiri tegak di atas lemari marmer yang kokoh. Di atasnya terpasang antena WiFi dan kabel lain yang saling berhimpitan.
Nara kini menuju dapur, di sana dia sengaja mencari sumber air, rasa haus dan lapar kini merasukinya. "Mana termos dan pocinya ya?" gumannya pelan dengan mata yang mencari kesana kemari. Namun tidak menemukan.
Pantas saja Nara tidak melihat sejak awal bahwa di sana ada dispenser air, rupanya dispenser itu ditutup oleh baju dispenser. Tidak menunggu lama, Nara meraih gelas dan meletakkan gelas di bawah guyuran lubang dispenser.
Air berhasil keluar dan memenuhi gelas yang Nara tadah di bawah guyuran dispenser, lalu dengan cepat diminumnya.
"Glek, glek," suara air memasuki tenggorokannya yang kering. Nara kini terlihat segar.
"Segarrrr," ucapnyaa lega.
Setelah menyelamatkan tenggorokannya dari rasa haus, kini perut Nara terasa lapar dan ia ingin melahapw sesuatu ke dalam perutnya. Namun Nara bingung, harus makan apa dia, sementara dia kini tidak tahu di mana Aldin menyimpannya.
__ADS_1
"Kulkas ....!" serunya baru keingatan bahwa di kulkas biasanya suka ada makanan. Nara berjalan menuju kulkas dan kini mulai mencari makanan. Namun nasib baik tidak berpihak padanya. Dalam kulkas hanya ada minuman dan buah-buahan. Nada mengambil salah satu buah apel lalu dicucinya.
Nara bermaksud kembali ke ruangan tadi dan memutar tubuhnya, namun entah apa yang membuatnya terjatuh, Nara hampir terpelanting menubruk sesuatu dan tubuh Nara terpental bertindihan dengan seseorang, yang tidak lain Aldin.
Nara terpelanting lebih dulu karena kakinya nyangkut di kaki Aldin, lalu terjerembab, kemudian kakiw Aldin yang nyangkut terbawa tarikan kaki Nara, sehingga kaki Aldin tidak seimbang dan badannya oleng lalu akhirnya terpelanting menindih langsung tubuh yang lebih kecil darinya, yaitu tubuh Nara.
"Ahhhhh!" pekiknya menahan sakit kaki yang sebelahnya yang sempat terantuk ke kaki meja makan. Aldin mengaduh dengan mulut ternganga, sedangkan Nara yang berada tepat di bawahnya ikut ternganga dengan tangan yang terjuntai pasrah di bawah lantai. Dia benar-benar kehilangan keseimbangan dan mendadak. habis tenaga untuk bangkit.
"Shittt ....!" Aldin pada akhirnya melihat Nara yang kini berada tepat di bawahnya dengan kaki Nara terbuka lebar sehingga badan dia tepat menindih bagian inti tubuh Nara.
"Sialan ... ada yang berdiri dan menegang, kenapa pula gadis ini seakan pasrah," pikir Aldin dengan berbagai rasa yang kini dirasakan. Sementara Nara merasaw lemas dan tidak berdaya, sebab saat terjerambab tadi dia sangat panik sehingga kini begitu lemas dan tidak bisa berontak.
"Apa yang akan dilakukan Kak Aldin, Ya Allah tolong aku," jeritnya dalam hati.
Saat bersamaan Aldin seakan merasakan gejolak. lain, yaitu sebuah hasrat yang selama ini tidak pernah ia rasakan pada perempuan manapun, hasrat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tanpa terasa Aldin semakin menundukan wajahnya ke arah wajah Nara, hasrat besar ingin mengecup bibir Nara yang sedikit bercelah begitu besar, lalu kecupan itu ia daratkan. Pelan dan anehnya Aldin merasakan sensasi lain di tubuhnya yang semakin panas. Aldin memperdalam ciumannya dan menganggap Nara yang berada di bawahnya pasrah dan menerima perlakuan Aldin.
"*Kak Aldin, apa yang dia lakukan? Dia telah* *menodai kesucian bibirku ini. Kak Aldin* *menyebalkan*," gerutunya dalam hati marah dan kesal.
__ADS_1