Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Syarat Aneh


__ADS_3

Aku tidak sabar lagi ingin menunjukkan gaun baru ku pada emak dan adik. Saat aku berjalan hendak membuka pintu. Ada suara panggilan di hp ku. Ternyata vc dari tuan Angga. Aku belum menyisir rambut juga belum ber make up. Tapi kuangkat juga dari pada nantinya dapat peringatan ke dua.


"Hai.... Darling. Trimakasih ya buat semua yang darling lakukan hari ini. Darling sudah menolong kami sehingga tidak perlu menggelandang di jalanan. Juga trimakasih buat gaun nya cantik banget. Oh iya aku juga mau tunjukin baju emak juga adik- adik ku ya?" Kata ku sambil hendak keluar kamar.


"Tidak usah, cukup aku lihat kamu secara langsung saja!" Kata tuan Angga membuat ku bingung.


"E... Darling dimana sekarang? Apa aku perlu ke sana sekarang?" Tanya ku ragu.


"Ya sekarang juga, buka pintu kamar mu!"


Kata- kata tuan Angga sangat mengejutkanku.


Aku pun segera membuka pintu. Benar saja, pria tampan nan gagah itu telah berdiri tepat di depan pintu kamar ku. Membawa sebuah buket bunga yang cukup besar. Seketika aku mematung, ini sebuah kejutan besar bagi ku. Setelah sekian lama belum ada seorang priapun yang serius mendekati ku. Yang ada cuma pria- pria genit yang hanya datang merayu, sambil bergombal sana- sini.


"Apakah engkau hanya akan memandangi ku seperti itu?" Seketika menyadarkan ku. Membuat ku auto tersipu, hingga membias rona merah dipipi ku.


Aku segera memberinya jalan untuk masuk ke dalam kamar ku. Tuan Angga menyerahkan buket bunga yang sedari tadi di bawanya.


"Aku ke sini mau memastikan satu hal. Apakah kamu benar- benar mau menikah dengan ku?" Tanya tuan Angga dengan sungguh- sungguh.


Aku mengangguk "Darling, jangan lah kita berbuat zinah. Kalau Darling memang mau menjadikan ku wanita simpanan, sebaiknya kita menikah secara agama. Setidaknya kita tidak berdosa kepada Allah." Kata ku perlahan.


Tuan Angga menghembuskan nafas dalam- dalam.

__ADS_1


"Aku akan menikahi mu, kalau kamu sudah pandai mencium ku." Kata- kata tuan Angga mengejut kan ku. Mana ada ceritanya orang harus pandai berciuman baru dinikahi? Jangan - jangan ini hanya jebakannya saja? Tanya ku dalam hati.


"Dar... ling, a... aku bisa kok." Kata ku terbata. Ini sebuah syarat nikah yang aneh. Tapi bagaimana pun, aku harus dinikahi tuan Angga. Meskipun hanya nikah siri.


"Kalau bisa. Cepat buktikan kalau kamu benar- benar bisa berciuman." Kata- kata tuan Angga benar- benar memojok kan ku. Sebenarnya aku belum pernah berciuman dengan pria mana pun. Aku hanya melihatnya di televisi. Aku segera mendekati tuan Angga. Berjinjit dan secepat kilat ku cium pipinya.


"Ana... ini kah yang kau sebut ciuman? Kamu amatiran banget." Kata- kata tuan Angga memprovokasi ku.


Menempelkan bibir satu sama lain apa susahnya? Masalah nya adalah perasaan risih yang menggangguku. Berdekatan dengan tuan Angga saja sudah membuatku grogi, gemetaran dan serba salah. Apalagi kalau harus mencium bibir nya. Bisa- bisa aku pingsan nanti.


Dengan sok percaya diri kuutarakan keinginanku,"Saya tidak bisa mencium Darling karena terlalu tinggi, bisakah Darling duduk saja di sofa?" Kata ku menekan ketakutan yang seketika membuatku gentar berhadapan dengannya.


"Oke." Tuan Angga segera duduk di sofa dekat ranjang ku. Aku jadi tambah kebingungan, posisi seperti ini akan membuat ku lebih tidak nyaman. Karena bisa saja tangan kami nanti saling bersentuhan. Atau bagian tubuh yang lain, bisa saja saling menyenggol.


"Kalau tahu lama kayak gini, mending aku segera balik kantor." Kata tuan Angga mengancam. Membuat ku tanpa pikir panjang lagi langsung ku serbu bibir pria tampan di depan ku. "Asal dua bibir saling menempel itu sudah cukup sebagai ciuman," mantra itu terus kuucapkan dalam hati. Ku tempelkan bibir ku yang basah ke atas bibir tuan Angga yang tebal berisi.


Sesaat dapat kurasakan lembutnya bibir tuan Angga yang kemerahan segar. Dan aroma mint langsung menyeruak masuk dalam indra penciuman ku.


Namun tiba- tiba ada perasaan minder menguasai hati ku. Apakah orang seperti ku pantas bersanding dengan tuan Angga yang begitu sempurna? Bahkan mungkin untuk menjadi pembantu di rumahnyapun belum tentu layak. Apalagi menjadi istrinya?


Secepat bibir ku menyentuh bibir tuan Angga, secepat itu juga kutarik kepala ku menjauhi tuan Angga. Siapalah diriku. Aku hanyalah seperti bumi yang penuh kekekurangan. Sementara tuan Angga laksana langit dengan segala kemuliaannya. Bumi tidak akan pernah bisa menyentuh langit. Itu lah diri ku. Tidak pamtas aku meminta terlalu banyak pada tuan Angga.


"Apakah ini yang kau sebut ciuman?" Ledekan tuan Angga menciutkan nyaliku.

__ADS_1


"E.. Darling, kalau engkau tidak mau menikahi ku aku tidak apa- apa. Kebaikan mu sudah lebih dari cukup. Bahkan mungkin aku tidak bisa membalasnya." Kata ku menyesali diri. Aku hanya menundukkan kepala tidak berani memandang mata nya.


"Sebenarnya aku akan melakukan apapun yang darling minta asalkan keluarga ku aman." Kata ku merendah. Aku benar- benar tidak punya nyali untuk meminta tuan Angga menikahi ku.


"Benar, kau tidak mau ku nikahi secara agama?" Pertanyaan tuan Angga membuat lidah ku kelu. Aku ingin dinikahi syah secara agama. Agar aku tidak berdosa kepada Allah, namun disisi lain aku merasa begitu rendah dihadapannya.


Aku memilih untuk diam..


"Sekarang aku mau dicium dengan benar. Setidaknya sebagai ucapan trimakasih atas bucket bunga yang sudah ku berikan pada mu." Kata Tuan Angga menuntut.


Waktunya aku harus jujur padanya.


"Darling... maaf aku belum pernah berciuman dengan pria sebelumnya." Saat mengatakannya ada rasa malu menguar keluar dari mukaku. Pastinya itu akan meninggalkan rona merah di pipi ku dan pasti akan tetlihat lucu seperti badut.


Tuan Angga mendekatkan wajahnya pada ku. "Tutup mata mu!" Perintahnya tegas. Aku pun menurutinya, segera kututup rapat- rapat kedua pelopak mata ku.


Deru nafas hangat menyapu permukaan wajah ku. Aku hanya menunggu, menantikan kejadian apa selanjutnya.


Tuan Angga menyapukan nafasnya yang hangat di daun telinga ku. Seketika menyebarkan senyar yang membuat ku merinding.


Bibirnya menyusuri permukaan leherku, aku menggelinjang geli, hingga tanpa sadar bibir ku mengeluarkan lenguhan. Bibir tuan Angga menyusuri pipi ku yang kurasa semakin panas. Dan akhirnya bibir tuan Angga menempel ketat di bibir ku. Tangan kanannya memegang erat tengkukku. Seakan memastikan agar kepalaku tak akan menjauh darinya.


Bibir tuan Angga mengecap nikmat bibir ku. Aku terus merem, tidak berani membuka mata. Ada sesuatu yang mencoba mendesak masuk ke dalam mulut ku. Ternyata itu lidah tuan Angga yang segera memilin lidah ku. Perlakuan tuan Angga, membuat ku seperti kena strum. Ada senyar merambat ke seluruh tubuh ku. Membuat ku menggelinjang merasakan sensasi luar biasa.

__ADS_1


Aku pun mulai berani meresponi ciuman tuan Angga secara impulsif. Aku mengikuti apa pun yang tuan Angga lakukan pada ku. Saat ia memasukkan lidahnya kemulut ku. Aku pun segera melakukan hal yang sama. Saat senyar yang lebih kuat melanda tubuh ku, tanpa malu lagi segera ku peluk tubuh atletisnya. Ku tempelkan bukit kembar ku pada dadanya yang bidang. Aku benar- benar menikmati ciuman pertama ku.


__ADS_2