
Hari ini aku mencoba menghubungi Bu Delia, berbasa-basi sedikit dan menceritakan niat aku yang akan pindah dari kota Cemara ke kota Dingin atas perintah suamiku. Tapi lebih enaknya memang harus bertemu langsung dengan Bu Delia, sebab bagaimanapun Bu Delia adalah orang yang selalu mendukung aku dan sangat besar jasanya dalam memberikan aku rasa percaya diri dan memberi ruang untuk aku berkarya.
Panggilan pertama tidak ada respon, akhirnya aku biarkan sejenak untuk tidak menelpon dulu takutnya Bu Delia sedang sibuk. Namun sepuluh menit kemudian Bu Delia malah menelpon balik. Aku segera mengangkat panggilan telpon itu.
"Assalamu'alaikum, Bu Delia!" [Nafa]
"Wa'alaikumussalam, Nafa! Apakabar?" [Bu Delia]
"Saya baik Bu. Bagaimana kabar Butik Delia?" [Nafa]
"Alhamdulillah, semakin banyak saja permintaan dari pelanggan, terutama gaun hasil rancanganmu. Bagaimana ya, sebenarnya saya ingin bicara banyak sama kamu, Naf. Tapi kalau di telpon kayaknya kurang pas, lebih baik tatap muka langsung ya." [Bu Delia]
__ADS_1
"Sebetulnya Nafa juga ada yang ingin disampaikan sama Bu Delia. Kalau begitu sebaiknya Nafa datang menemui Bu Delia saja." [Nafa]
"Ya sudah deh Naf, kamu datang kapan saja, kalau bisa secepatnya." [Bu Delia]
Perbincangan aku dengan Bu Delia berakhir. Aku dan Bu Delia bersepakat akan bertemu di Butik Delia di kota Kaktus.
Besoknya, aku dan Mas Sakti bersiap dan berpamitan pada Mama Sukma. Mas Sakti terpaksa menitipkan Rafa kembali pada Mama Sukma. Saat kami akan pergi, Rafa nampak sedih. Mas Sakti harus membujuk Rafa dulu sebelum kami pergi.
Rafa baru mau dibujuk setelah Mas Sakti bilang bahwa Rafa akan selalu dekat kami setelah Rafa pindah sekolah. Mas Sakti memang merencanakan kepindahan sekolah Rafa, kalau harus menitipkan terus pada Mama Sukma, kasihan. Mama Sukma sudah saatnya bersenang-senang dengan cucu, bukan ngurus cucu terus. Walaupun sebenarnya Mama Sukma ikhlas-ikhlas saja.
Setelah Rafa berhasil ditenangkan, akhirnya kami benar-benar pergi meninggalkan kediaman Mama Sukma. Mama mertua yang bagiku sangat baik dan aku sangat bersyukur memiliki Mama mertua seperti Mama Sukma.
__ADS_1
"Kami pamit Ma. Kami akan selalu merindukan Mama," ucapku seraya mencium punggung tangan Mama Sukma lalu memeluknya lama. Aku merasakan kasih sayang Mama Sukma saat aku peluk seperti pelukan almarhumah ibu kandungku.
"Iya, Hati-hati ya Nak. Jaga kandungannya. Mama akan selalu merindukan kalian. Jika Mama senggang dan sehat, Insya Allah Mama atau kalian mengunjungi Mama. Dan satu lagi, semoga gaun rancanganmu selalu sukses dan banyak peminatnya, sehingga kamu bakal menjadi Perancang busana yang diperhitungkan," ucap Mama Sukma diakhiri dengan sebuah doa tulus untukku.
Perjalanan kamipun dimulai. Mobil mulai melaju membelah jalanan kota Cemara menuju kota Dingin yang jauhnya sekitar 3 jam dari sini.
"Mas, Nafa harap keputusan pindah ini adalah baik untuk Nafa dan kita semua."
"Iya, sayang. Semoga saja di kota Dingin kamu bisa mewujudkan keinginan kamu menjadi Perancang Busana terwujud. Mas hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kebaikan kamu dan kita semua," ujar Mas Sakti seraya mengusap kepalaku dengan sentuhan sayang.
"Terus bagaimana rencana kamu selanjutnya, sayang?"
__ADS_1
"Nafa akan menjumpai dulu Bu Delia dan membicarakan tentang pekerjaan Nafa, apakah bisa dibawa ke rumah di kota Dingin atau tidak? Nafa harap bisa, sebab Nafa tidak ingin hobi Nafa ini tenggelam begitu saja," ucapku penuh harap.
"Iya, sayang. Mas doankan. semoga Bu Delia memberikan kebijaksanaannya buat kamu."