Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Penguntit Tampan


__ADS_3

Melihat Aldin salah tingkah begitu, Nafa ada jalan untuk melanjutkan sandiwaranya tentang Nara yang pura-pura akan dia kenalkan dengan seseorang. Nafa penasaran dengan Aldin yang cuek-cuek saja pada Nara, padahal Nara merupakan perempuan ayu, menarik, dan baik. Daripada Aldin harus terjatuh ke pangkuan Shera Sekretaris Aldin di kantor, Nafa lebih setuju Aldin bersama Nara. Syukur-syukur berjodoh, Nafa hanya akan memberi jalan dan mengsugesti pikiran Aldin.



"Mas, besok boleh kan Nafa makan sore bersama Nara," ijin Nafa pada Sakti.


"Boleh, asal besok perginya bersama Supir, kalau tidak dengan Supir maka mas tidak akan ijinkan." Sakti memberi syarat.


"Baiklah," ujar Nafa setuju.


"Tapi ... bagaimana dengan perut kamu, apakah tidak akan kenapa-kenapa dibawa jalan, bukankah tadi terasa mulas?" Sakti menjadi was-was akan perut Nafa, mengingat tadi pagi dia kesakitan karena mulas.


"Setelah dipikirkan, Nafa memang harus dibawa jalan-jalan Mas, supaya kondisi bayi yang sungsang perlahan-lahan bisa kembali letaknya di jalan lahir. Lagipula Nafa bukan melakukan pekerjaan, cuma berjalan ke tempat makan dan duduk di sana sambil menghabiskan makanan." Nafa memberi alasan. Sakti manggut-manggut mendengar penjelasan Nafa.



"Jadi, Mas Sakti mengijinkan Nafa?" Nafa senang, sebab jika dia tidak diijinkan, maka sandiwara untuk berpura-pura akan mengenalkan Nara pada seseorang akan gagal dan ketahuan bohongnya oleh Sakti juga Aldin.



"Iya, Mas ijinkan, asal kamu hati-hati. Dan kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi Mas. atau Pak Supir," ujar Sakti berpesan. Nafa tersenyum dan setuju.



"Ngomong-ngomong mau makan sore di mana kalian?" tanya Sakti.


"Mungkin yang dekat dengan rumah saja, Mas. Paling Cafe Delicious," jawab Nafa sambil melihat ke arah Aldin.


"Ok, kalau begitu Mas ijinkan."


"Asikkkk, terimakasih ya, Mas," ujar Nafa sambil bergelayut manja di lengan Sakti.


*


*


Besoknya, saat sore tiba, sehabis Asar, Nafa bersiap ke tempat yang dijanjikan bersama Nara. Nara akan sampai setelah pulang kerja.


"Masih jam 15.45, waktunya masih lama." Nafa berguman seraya melihat jam di tangannya.


"Non, jam berapa berangkatnya? Ini hampir mau jam empat sore." Pak Nurdin, Supir yang disiapkan Sakti menghampiri dengan sopan.


"Sebentar lagi, Pak. Dari sini jam empat pas saja, soalnya saya janjian dengan teman saya sekitar jam empat lebih, lagipula kita hanya ke Cafe Delicious," jawab Nafa. Pak Nurdin membalas dengan anggukan.


"Ayo, Pak! Sudah jam empat nih." Nafa mengingatkan Pak Nurdin, Pak Nurdin sigap dan bersiap membukakan pintu mobil untuk Nafa.


__ADS_1


Mobil melaju menuju alamat tujuan, yaitu Cafe Delicious. Hanya butuh waktu 10 menit mobil yang ditumpangi Nafa sampai di Cafe Delicious.


"Pak, sebentar ya. Pak Nurdin tidak usah menunggu kita di parkiran. Lebih baik jalan-jalan saja. Nanti kalau mau jemput, nunggu dihubungi saya saja, ya. Ini buat jajan, jika Pak Nurdin mau jajan," ucap Nafa seraya memberikan satu lembar uang merah dua lembar.


"Aduhhh, tidak usah Non, terimakasih." Pak Nurdin menolak pemberian Nafa, namun Nafa memaksa dan langsung dikepalkan ke tangan Pak Nurdin. Pak Nurdin tidak bisa menolak lagi. Meskipun ia malu, terpaksa dia terima uang itu.



"Terimakasih banyak Non, terpaksa saya ambil. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Non," pamit Pak Nurdin dan segera beranjak dari tempat itu.



Nafa berdiri seraya celingukan mencari Nara. Tidak lama dari itu Nara tiba dengan motor matic yang ditumpanginya. Nara memarkirkan motornya di samping Cafe dan berjalan menuju Nafa yang sudah berdiri menunggunya. Nara masih menggunakan seragam kerjanya, beruntung atasannya dia tutupi dengan jaket, sehingga kesan pulang kerja langsung nongkrong, sedikit tersamarkan.



"Di situ saja Nar, meja ujung masih kosong. Enak kayaknya di sana, *viewnya* juga lumayan bisa melihat pohon Mangga," ujar Nafa menuju meja paling ujung incarannya.



Saat mereka duduk, Pelayan Cafe dengan cepat menanyakan pesanan Nara dan Nafa padahal mereka belum sampai meletakkan pantatnya di kursi. Sepertinya ini standarisasi cara kerja pelayanan di sini, reaksi cepat. Pengunjung yang baru mau duduk langsung direspon dan ditanya apa pesanannya.



"Benar banget di sini enak, Naf. Kamu pintar banget pilih tempat," puji Nara tersenyum. "Kehamilan kamu makin besar, Nafa. Kira-kira kapan debaynya akan segera launching ke dunia?"


"Kata Bidan Dina sebulan setengah lagi, tapi itu belum pasti, sebab kelahiran kadang melenceng dari perkiraan. Bisa lebih atau kurang dari hitungan Bidan," jawab Nafa.



"Makasih banyak Naf, kamu ajak aku ke sini. Nraktir aku makan di Cafe ini. Kenyang banget tahu, sampai perut aku kencang begini." Nara berterimakasih pada Nafa.


"Tidak apa-apa Nar. Aku kapan lagi bisa ajak kamu keluar berdua begini jika aku sudah lahiran nanti," alasan Nafa.


"Betul sekali, Nyonya Sakti kan sebentar lagi akan melahirkan dan jadi Ibu, waktunya bakal habis bersama debay," ucap Nara setuju.



"Nanti ke rumah aku saja, Nar. Kalau aku kangen, nanti aku hubungi kamu, hitung-hitung kamu menjenguk baby aku," ucap Nafa.


"Ngomong-ngomong HP kamu sudah bagus lagi, beli baru atau memperbaiki?" Nara penasaran.


"Ceritanya agak panjang sih, tapi aku persingkat ya?"


"Ya ampun persingkat, kayak menulis surat saja dipersingkat," ledek Nafa tersenyum.


"Coba ceritakan, kenapa selama itu kamu berhenti main HP setelah tabrakan dengan Kak Aldin?"

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang HP aku rusak sejak tabrakan itu, terus aku perbaiki di konter. Karena uang untuk nebus HP di konter belum siap, jadi aku nebusnya nunggu gajian."


"Kenapa tidak minta bantuan aku saja sih Nar untuk nebus Hp? Padahal aku lagi ada uang untuk bantu kamu, hehehe ... asal jangan seratus juta aja deh, uangku belum cukup."



"Itu tidak perlu Naf, karena aku kan pasti ada uang buat nebusnya asal nunggu gajian. Namun, uang aku selamat karena bantuan seseorang," ujar Nara seraya menyeruput es teh lemonnya.



"Siapa dia, seseorang siapa? Kamu sudah punya pacar ya?" tuding Nafa penasaran.


"Pacar, tidaklah Naf. Aku tidak punya pacar," sangkal Nara.


"Lantas siapa dia dong, Nar?" Nara diam sejenak seakan berpikir sebelum ngomong.


"Kak Aldin. Hari itu Kak Aldin tiba-tiba menghampiri aku ke Supermarket menunggu di depan parkiran, dan sengaja mencegat aku di sana." Akhirnya Nara berterus terang.


"Oh ya!" Nafa terkejut, dia tidak percaya Aldinlah yang membayarkan perbaikan HP Nara yang rusak. Nafa jadi yakin, setelah dia menyuruh Aldin bertanggungjawab atas kerusakan HP Nara tempo hari. Rupanya Aldin langsung menjumpai Nara seperti apa yang dia katakan. Karena waktu itu dia tidak bisa menghubungi HP Nara sebulan lebih. Jadi Nara menganggap ketidakaktifan Hp Nara, karena rusak setelah jatuh akibat tabrakan di depan toilet *foodcourt* sebulan yang lalu bersama Aldin.



"Dan ... yang lebih malunya lagi, besoknya Kak Aldin mengajak aku jalan, lalu setelah makan di Cafe sebelum pulang, Kak Aldin memberi aku hadiah kotak persegi panjang yang setelah dibuka di rumah, rupanya isinya Hp yang harganya empat kali lipat harga Hp aku," jelas Nara panjang lebar sambil matanya menerawang mengingat kejadian saat dirinya diajak jalan tapi malah ke apartemen Aldin. Tentu saja kejadian di apartemen dan kemana diajak jalan oleh Aldin tidak Nara sebutkan, sebab baginya itu memalukan dan privasi.



"Oh ya," Nafa meyakinkan. Nara mengangguk yakin. "Syukurlah kalau begitu, itu artinya jalan menuju Roma perlahan terbuka, tinggal menunggu eksekusi," balas Nafa merespon anggukan Nara dengan wajah bahagia. Sedangkan Nara tidak paham maksud Nafa.



"Maksudnya jalan ke Roma apa?" Nara bertanya penasaran.


"Ya, ke Roma. Maksudnya jalan menuju calon Nyonya Aldin sebentar lagi akan terwujud." Sontak Nara terbelalak, bersamaan dengan itu dengan sangat tiba-tiba seorang laki-laki yang sejak Nafa dan Nara datang ke Cafe itu dan duduk di meja paling ujung ini, telah duduk di meja samping Nafa dan Nara, tiba-tiba terbatuk.


"Uhuk, uhuk, uhuk," mendengar suara batuk yang sepertinya Nafa kenal, Nafa berdiri dan menghampiri laki-laki bertopi dan berjaket hoody mirip anak ABG itu.



"Kak Aldin," kejutnya. Disusul Nara yang juga penasaran, saat dilihat rupanya benar-benar Aldin. Nara sama terkejut dan memekikkan nama Aldin.


"Kak Aldin!" Nara ternganga.


Jangan lupa like dan komen dan bagi kalian yang penasaran dengan karya saya yang lain, mampir juga di karya saya:



Dijebak Nikah Paksa

__ADS_1


Aku Lelah Aku Ingin Menyerah



__ADS_2