Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kecemasan Nafa


__ADS_3

Aku masih membaringkan tubuhku di dipan Mess. Keberadaan Mbak Meta dan ibunya yang tadi sempat aku lihat, membuat sedikitnya pikiranku tidak tenang. Jantungku tiba-tiba berdebar sangat kencang, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap.


"Ya, Tuhan... semoga tidak ada apa-apa dengan aku dan janin yang aku kandung ini." Aku berdoa dalam hati menenangkan kegundahanku.


Jam istirahatku masih lumayan lama, yakni 25 menit lagi. Aku gunakan untuk makan siang. Tadi sebelum istirahat aku nitip lotek dan rujak sama Santi. Kebetulan warung sebelah butik jualan nasi rames dan lotek.



Jam istirahat sebentar lagi habis, aku segera beranjak dan membereskan bekas aku makan. Perutku terasa kenyang makan lotek satu pincuk yang rupanya banyak, namun aku memakan semuanya tanpa sisa. Kehamilanku ini benar-benar menyukai sayur-sayuran dan buah-buahan. Terlebih buah-buahan yang sudah diracik menjadi sebuah rujak, membuat rasa mualku menjadi berkurang.



Aku kembali ke butik disertai rasa was-was. Bukan apa-apa, aku hanya takut Mbak Meta melakukan hal-hal yang membuat aku celaka bahkan mencelakai janinku.



Sampai di ruanganku, Santi langsung menghampiriku dan memberi sebuah laporan khusus. "Nad, ada pengunjung yang menanyakan kamu. Dia merasa penasaran siapa gerangan yang telah merancang gaun malam yang dia sukai itu. Tapi aku jawab saja sesuai permintaan Bu Delia, Bos kita. Aku bilang, Perancang di butik ini tidak melakukan tugasnya disini. Dia mengirim barang yang sudah jadi."



"Tadi dia juga meminta nama perancangnya siapa. Aku tunjukkan di dekat leher, disitu kan ada nama kamu," sambung Santi memberi tahu.



"Ohhh.... gitu ya! Kalau begitu, terimakasih ya San. Kamu sudah mengikuti arahan Bu Delia untuk tidak mengungkap siapa Perancang gaun ini."



"Tapi, aku jadi heran kenapa Bu Delia sampai melindungi banget identitas kamu di butik ini. Padahal kan bagus kalau kamu dikenal di butik ini. Aku jamin bukan kamu saja yang terkenal, tapi butik ini bisa-bisa mengalahkan butik Fortuna milik artis papan atas kita."



"Ahhh... itu tidak masalah buat saya San, saya malah tidak ingin orang lain mengenal saya. Saya hanya ingin karya saya yang terkenal," tepisku. Santi tersenyum mendengar ucapanku.



Jam pulang tiba, aku segera berkemas membereskan semua peralatan kerjaku. Satu persatu karyawan butik berhamburan menuju pintu keluar. Aku menunggu Pak Maman Supir yang diutus Mas Sakti menjemput.



Sudah hampir lima menit aku menunggu Pak Maman, tapi Pak Maman belum datang. Entah kemana dulu. Aku sudah gelisah menunggu Pak Maman. Aku berdiri dan merogoh Hpku bermaksud mengirimkan pesan WA ke Mama Sukma. Namun belum sampai aku menghubungi Mama Sukma, tiba-tiba Hpku berbunyi. Mas Sakti menghubungiku.


"Iya Mas, Assalamu'alaikum....!"


"Sayang... masih di butik? Pak Maman belum menjemput?"


"Belum, Mas. Mungkin mobilnya mogok atau kejebak macet."


"Mas khawatir banget nih kalau begini."


"Awwww....!" jeritku tiba-tiba saat ada mobil di depan sana yang posisinya mepet ke sisi kiri dengan kecepatan lumayan tinggi. HPku langsung terpental, suara Mas Sakti tidak lagi terdengar.


Tubuhku terpelanting ke belakang menimpa sesuatu yang seakan menopang tubuhku. Aku sigap menghalangi perutku untuk melindungi dari benturan atau apapun itu yang sekiranya membahayakan janinku.



"Nafa....!" suara pekikan itu terdengar seiring derit mobil yang tadi ingin menabrakku berlalu dengan kecepatan yang tinggi. Aku sempat melihat warna mobilnya hijau metalik. Namun aku tidak sempat melihat nopolnya.



"Mas Raka....!" desahku sambil merasakan sakit di perutku yang keram.


"Awww... sakit... !" pekikku mendesah menahan sakit dari perutku seraya memeganginya.


"Nafa... ayo... aku antar ke klinik. Kakimu keluar darah." Mas Raka panik seraya mengangkat tubuhku. Aku meringis menahan keram yang terasa di perutku.



"Istri Anda pendarahan, untung saja bukan keguguran. Darah yang keluar ini, akibat panik dan keram perut," jelas dokter setelah kami tiba di sebuah klinik, membuat aku terbelalak tak percaya. Mas Raka yang mendengar Dokter menyebut aku istrinya, nampaknya santai saja malah terkesan menikmati.


"Terimakasih, Dok....!" ucap Mas Raka sambil tersenyum.


"Istri Anda, sudah boleh pulang. Tidak ada yang mengkhawatirkan dari keadaan janinnya, aman. Ini resep obat yang harus Anda tebus," ucap Dokter seraya memberikan secarik kertas resep kepada Mas Raka. Mas Raka masih tidak protes saat Dokter bilang 'istri anda' padaku. Dia hanya tersenyum datar sembari menerima kertas resep.



Aku bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan perutku terutama dengan janinku. Saat Mas Raka menyudahi perbincangannya dengan Dokter, Mas Raka menghampiriku.

__ADS_1



"Ayo... kamu sudah boleh pulang. Kita pulang sambil tebus obatnya di Apotek." Mas Raka dengan sigap mendorong kursi roda yang aku duduki menuju keluar. Ada perasaan campur baur menyelimuti diriku. Merasa malu karena bantuan Mas Raka yang tiba-tiba datang menjadi penyelamatku.



"Jangan melamun... kondisi kamu sedang kurang baik, aku takut kamu drop!" peringat Mas Raka tiba-tiba, yang sudah berada dekat di sampingku dengan kantong kresek obat di tangannya. Aku tersentak lalu tersipu malu.



"Mas... makasih banyak ya. Kalau tidak ada Mas Raka, mungkin Nafa sudah terpelanting dan jatuh. Mungkin... bisa jadi Nafa keguguran...." ucapku sambil berkata-kata mengingat kejadian tadi, dan jika tidak ada orang yang menumpu tubuhku, bisa jadi aku terjerembab dan jatuh.



"Sudahlah Naf, tidak usah memikirkan itu. Mungkin aku memang sengaja dikirim Allah untuk menolongmu disaat kamu akan kena musibah. Dan aku tidak tahu, jika yang aku tolong itu adalah kamu."



"Nafa jadi nggak enak, selalu setiap kali Nafa dapat musibah, Mas Raka selalu ada menolong Nafa. Nafa benar-benar tidak enak menerima bantuan ini," ucapku sendu.



"Jangan dipikirkan, kan tadi aku bilang mungkin saja Allah sengaja kirim aku untuk menolongmu," bujuknya.



"Ayo... ngomong-ngomong kamu mau pulang atau mau di RS saja?" tanyanya dengan Nada penuh canda.


"Pulang dong, Mas," sahutku sambil menyembunyikan rasa malu.


"Tapi kenapa Mas Raka tiba-tiba bisa berada di kota ini, terutama di dekat butik Syafana ini? Jangan bilang Mas Raka menguntit Nafa ya!" tanyaku heran.



"Aku juga heran, kenapa bisa bertemu kamu disini. Apa kita ditakdirkan jodoh... ups....!" Mas Raka dengan repleks menutup mulutnya seakan merasa keceplosan. Aku hanya tersenyum simpul dengan ucapan Mas Raka barusan.


"Nafa kerja di butik Syafana, Mas."


"Kerja di butik Syafana? Tapi selama ini, aku belum melihat kamu di butik?" Mas Raka heran.


"Iya Mas, Bu Delia sengaja menutup identitas Nafa di butik Syafana. Tujuan Bu Delia untuk melindungi keselamatan Nafa. Nafa tidak masalah, yang penting Nafa masih bisa bekerja," tandasku.



"Nasib baik kita dipertemukan disini. Dan kebetulan aku memang Suplier kain di butik Syafana juga. Tapi, aku tidak melihat kamu selama aku ke butik ini."



"Iya Mas, Bu Delia sengaja memberikan arahan supaya Nafa tidak menampakkan diri di ruang pemasaran. Bu Delia rupanya tahu keberadaan mantan istri pertamanya Mas Sakti, dia tinggal di kota ini juga. Jadi untuk antisipasi, Bu Delia sengaja menyembunyikan identitas Nafa dan keberadaan Nafa. Walaupun Nafa berada di butik ini, namun orang-orang luar tidak tahu kalau Nafa berada disini," beberku dengan penuh haru, mengingat kebaikan Bu Delia memberikan pekerjaan sekaligus berusaha melindungi aku dari kejahatan Mbak Meta. Itu kesimpulan Bu Delia kenapa beliau berusaha melindungi keberadaanku.


"Ohhh begitu... baik juga Bu Delia. Bu Delia memang seorang Bos yang baik dan bertanggungjawab pada anak buahnya, aku juga senang bekerjasama dengan beliau," ungkap Mas Raka merasa terharu dengan kebaikan Bu Delia mitra kerjanya.


"Tadi, kamu bilang mantan istri pertama suami kamu. Mereka sudah berpisah?" tanya Mas Raka nampak heran. Aku hanya mengangguk kecil.


"Aku pikir kamu yang akan berpisah," ceplos Mas Raka seraya melihat ke depan dengan tatapan hampa.


"Kenapa Mas, Mas Raka ingin Nafa berpisah dari suami Nafa?" Aku begitu penasaran dengan jawaban Mas Raka.


"Ohhh... tidak juga. Tapi... jika Tuhan memberikan jalan, maka aku senang. Dan aku bisa punya kesempatan memiliki kamu." Jawaban Mas Raka penuh percaya diri tidak merasa ragu lagi.


"Sebab... jujur saja aku pernah mengharapkan kamu. Tapi, rupanya kamu sudah menikah ketika bertemu aku. Dan aku sangat kecewa, ketika tahu kamu menikah dengan lelaki beristri," ungkapnya terus terang. Wajah tampan lelaki muda di sampingku itu nampak diliputi kecewa.



"Itu... sudah takdir Nafa, Mas. Dan saat itu Nafa tidak tahu jika Nafa dinikahi oleh seorang pria beristri. Andai boleh memilih, Nafa hanya ingin menikah dengan pria singel," balasku tidak kalah merasa kecewa dan bersalah mengingat kejadian masa lalu yang mengetahui Mas Sakti sudah beristri, ketika Mbak Meta dan ibunya datang mendamprat ke kediaman aku di kota *Kaktus*.



"Jadi ini gimana nih, kamu mau langsung pulang ke rumah atau....!!!??"


"Nafa pulang ke rumah Mamanya Mas Sakti. Biar Nafa naik Grab saja, Mas. Mas Raka tidak usah mengantar Nafa sampai rumah. Nafa tidak enak merepotkan Mas Raka terus," potongku cepat.


"Tidak, biar aku yang antar. Lagipula ini sudah di depan mobilku." Akhirnya obrolan kami terhenti saat roda yang di dorong Mas Raka tiba di dekat parkiran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kekhawatiran Mas Sakti

__ADS_1


Mobil Mas Raka tiba di depan rumah Mama Sukma, aku segera turun sebelum Mas Raka terlihat ingin membantu aku turun. Sebetulnya rasa sakit di perut karena keram, masih saja aku rasakan saat aku mau turun mobil. Mas Raka menyadarinya, lalu memapah aku menuju pintu gerbang rumah Mama Sukma.


Bersamaan dengan itu di belakang mobil Mas Raka, tiba-tiba mobil Mas Sakti juga sampai. Mas Sakti nampak turun tergesa-gesa dan menghampiri kami. Aku yang dipapah Mas Raka segera melepaskan pegangan tangan Mas Raka.



Mas Sakti nampak sangat khawatir dan kesal melihat aku yang dipapah oleh Mas Raka. Mungkin Mas Sakti cemburu.


"Sayang... ada apa ini? Tadi saat Mas telpon, kenapa kamu menjerit dan HP kamu tidak bisa lagi Mas telpon?" Mas Sakti sangat khawatir dan meraih tubuhku tanpa menghiraukan Mas Raka yang sudah membantu aku.


"Dijagain dong istrinya, jangan dibiarkan sendiri. Anda tahu, ada yang ingin mencelakai istri Anda. Kalau Anda tidak becus jadi suami, kasih Nafa buat saya!" ujar Mas Raka geram. Mas Sakti membalas tatapan Mas Raka tidak kalah geram mendengar Mas Raka berbicara seperti itu, yang menurutnya sangat meremehkannya.



"Jangan sembarangan bicara, kau bocah! Aku masih becus jadi suami. Aku tidak berada di sampingnya saat dia mengalami musibah bukan berarti aku tidak peduli. Seenaknya kau ngomong yang tidak-tidak, ku patahkan kakimu," ancam Mas Sakti geram.



Mas Raka membalas perkataan Mas Sakti dengan senyum mencibir.


"Sudah Mas, tidak perlu berdebat lagi. Nafa sudah tidak kuat ingin membaringkan tubuh Nafa," leraiku menghentikan perselisihan antara Mas Raka dan Mas Sakti. Keduanya nampak tidak ingin mengalah.


"Ayo... Mas!" ajakku memelas yang akhirnya digubris Mas Sakti. "Mas Raka... terimakasih atas bantuannya!" ucapku berterimakasih sambil melambaikan tangan ke arah Mas Raka. Mas Raka mengangguk sambil berlalu dan kembali ke mobilnya. Sementara Mas Sakti, nampak tidak senang saat aku beramah tamah pada Mas Raka.



Aku dipapah Mas Sakti menuju rumah. Di ruang tengah sudah ada Mama Sukma. Dia nampak sangat cemas menunggu kehadiranku. Mungkin Mama Sukma sudah mendapatkan kabar tentang aku dari Mas Sakti.



"Sayang... apa yang terjadi? Kenapa tidak bersama Pak Maman, bukankah Pak Maman yang menjemputmu tadi? Tapi... kemana Pak Maman, sampai jam segini dia belum kembali?" Mama Sukma menggulirkan matanya kesana kemari mencari sosok Pak Maman.



"Nafa tidak dijemput Pak Maman, Ma. Tadi Nafa menunggu sudah jam 4 lebih 5 menit. Namun, saat Nafa menerima telpon dari Mas Sakti, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyerempet Nafa. Untung ada Mas Raka yang menolong Nafa," kataku menceritakan kejadian tadi sore saat pulang dari butik Syafana.



"Raka, siapa Raka?" Mama Sukma keheranan.


"Dia mitra kerja butik Syafana, Ma. Kebetulan Nafa kenal, dia dulu kakak kelas Nafa saat sekolah. Dan Mas Raka yang mengantar Nafa ke klinik, sebab... tadi Nafa sempat pendarahan," ungkapku.


"Apa... pendarahan?" Mama Sukma memekik terkejut.


"Iya, Ma. Tadi Nafa sempat pendarahan. Dan untungnya ada Mas Raka yang menahan tubuh Nafa sehingga Nafa tidak terpelanting."


"Tapi... kamu dan bayi kamu tidak apa-apa kan, sayang? Wah... bahaya ini Sakti. Kita tidak bisa membiarkan Nafa keluar tanpa pengawasan kita. Mama takut ini akibat dari perceraian kamu dan Meta. Mama menduga, jika benar ini perbuatan mereka, kemungkinan mereka masih menyimpan dendam dan Nafa jadi sasarannya," ungkap Mama Sukma khawatir.



"Sakti juga sependapat dengan Mama, tapi kita harus tanya dulu Nafa, minimal ada petunjuk barang sedikit saja sebelum menyimpulkan," ujar Mas Sakti. Mama Sukma mengangguk-angguk paham.



"Sayang, kira-kira saat kamu terserempet ada hal yang mencurigakan atau yang janggal, tidak?" Mas Sakti bertanya penuh penasaran.



"Nafa, hanya melihat mobil yang menyerempet itu berwarna hijau metalik. Tapi tidak sempat melihat nomor polisinya," jelasku sembari mengingat kembali kejadian tadi.



"Hijau metalik!" guman Mas Sakti seraya berpikir dengan memegangi kepalanya.



Tidak berapa lama, sosok Pak Maman Supir Mama Sukma muncul, dia memasukkan mobilnya ke dalam gerbang dan memarkirkan kembali seperti biasa. Pak Maman berlari kecil tergopoh menghampiri ruang tamu seraya tertunduk hormat.



"Maaf, Bu! Saya tadi tidak bisa menjemput Non Nada, tiba-tiba ban mobil saya kempes di persimpangan jalan depan sana. HP saya juga mati karena habis batre sehingga tidak bisa menghubungi Bi Nia atau Mang Bubun untuk memberitahukan kalau saya tidak bisa menjemput. Terpaksa saya tadi mencari tukang bengkel yang bisa dipanggil, dan akhirnya dapat setelah 15 menit mencari. Sekali lagi saya minta maaf, karena tidak bisa menjemput Non Nada," sesal Pak Maman karena tidak bisa menjemput aku tadi pulang kerja.



"Kok, Mama merasa aneh ya! Tiba-tiba Pak Maman bannya kempes, terus Nafa diserempet mobil." Mama Sukma keheranan.


"Sakti juga merasa ada yang janggal. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan....!"

__ADS_1


"Mama tidak ingin cucu dan mantu Mama kenapa-kenapa. Sakti coba selidiki, Mama jadi khawatir membiarkan Nafa pergi bekerja, untung tadi ada yang menolong," potong Mama Sukma. khawatir.


__ADS_2