Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Cemburu


__ADS_3

Saat aku keluar dari toilet, aku terkejut melihat Angga berdiri persis di depan pintu toilet.


"Darling... sudah lama menunggu ku disini?" Tanya ku keheranan, akan keberadaan Angga di toilet perempuan.


Angga tersenyum aneh, senyuman paksaan yang seakan menyimpan kemarahan yang sementara ditahannya. Untuk kemudian meledakkan amarah yang meluap- luap. Angga tetap diam, hanya melemparkan pandangan yang seakan menghakimi ku.


Angga mendekat dan langsung mengurung ku dengan tubuh kekarnya. "Kata kan pada ku, siapa pria yang mengejar- ngejar mu tadi?"


Aku tak menyangka sama sekali kalau Angga ternyata melihat ku ngobrol dengan Rio. Seketika aku merasa kalau Angga telah cemburu pada Rio?


"Rio.. teman SMA ku dulu." Jawab ku jujur.


"Angga... ini tempat umum, kalau ada yang memergoki kita gimana? Pasti akan menyulitkan kita nantinya." Ku coba mendorong Angga agar menjauhi ku. Hanya untuk menjaga kemungkinan ada yang tiba- tiba datang memergoki kami.


"Hei... ingat kau ini istriku. Kenapa kamu tidak mau ku sentuh? Sementara tadi kau bermesraan dengan pria lain? Apakah kau merencanakan perselingkuhan di belakang ku?" Kata- kata Angga dengan sarkas. Sambil berusaha mencari- cari kesempatan untuk menciumiku.


Kata- kata Angga membuat panas kuping ku. "Darling... cukup aku tidak mau bahas ini. Terserah Darling percaya atau tidak terserah!" Kata ku sambil memalingkan muka menghindari ciumannya.


"Aku tidak mau ada yang melirik mu, oke... Sekarang juga kamu keluar dari perusahaan ini! Kalau kamu tidak mau mengundurkan diri, Aku sendiri yang akan memecat mu!" Angga mengeram menyalurkan kemarahannya. Mata nya berkilat dengan penuh kemarahan.


"Ya... lebih baik aku keluar dan mengurung diri selamanya dalam kamar. Kau puas?" Tanya ku menantang nya.

__ADS_1


Air mata merembes keluar dari kedua sudut mata ku. Aku tidak menyangka Angga begitu posesif terhadap ku. Semula aku membayangkan pernikahan kami sebuah awal menuju kebahagiaan. Namun saat Angga menunjukkan wajah aslinya yang posesif, seketika membuat ku tersadar bahwa kebahagiaan yang kuimpikan secara perlahan menjauhi ku.


"Ayo sekarang juga kita pulang!!!" Angga segera menarik tangan ku. Aku belum siap, membuat tubuh ku seketika tertarik paksa.


Di sepanjang jalan Angga terus menciumi ku. Ia tidak peduli pada Deni sopirnya yang sedari tadi mencuri- curi melihat kami dari kaca spion. Aku sangat tersiksa, Angga memperlakukan ku seperti boneka. Ia terus menciumi ku, padahal aku tidak ingin melakukannya. Aku masih marah pada nya, namun sepertinya ia tidak memperdulikan perasaan ku.


"Angga... please stop...!!!" Protes ku yang tak juga dipedulikannya.


Setiba di rumah, Angga langsung menyeretku menuju kamar. Namun tidak berhenti di situ saja, ia langsung membawaku ke kamar mandi. Menjeburkan ku ke dalam bathup berisi penuh air. Angga menjeburkan ku masih dengan baju kerja ku lengkap. Seketika aku megap dan terbatuk, mengusir air yang tersedak masuk ke dalam tenggorokan ku.


"Ini untuk menghapus jejak pria selingkuhan mu itu, aku tidak rela wanita ku disentuh pria mana pun!" Teriaknya sambil terus membenamkan kembali kepala ku dalam bathup. Kecemburuan Angga benar- benar membabi buta. Meskipun aku sampai megap- megap kehabisan udara, ia terus saja memasukkan kepala ku dalam air.


Aku hanya pasrah dan menahan diri untuk tidak menangis. Angga membuat ku hancur berantakan. Semua kebanggaan ku padanya menguap begitu saja. Angga di depan ku ini tak lebih seperti orang gangguan jiwa. Aku menyesal... apakah aku memang di takdirkan untuk tidak pernah merasakan dicintai. Dada ku terasa sesak karena kesedihan.


Ya Tuhan... aku tidak mau menjadi korban pria gila di depan ku. Aku harus lari menjauh dari nya. Sebelum aku dijadikan bulan- bulanan dan berakhir di liang lahat.


Seketika berkelebat dalam fikiran ku, bagaimana dengan ibu dan dua adik ku? Apakah mereka baik- baik saja? Jangan- jangan mereka disekap oleh Angga di suatu tempat?


Aku menggigil membayangkan kekejaman Angga. Aku tahu, tidak akan pernah ada celah untuk aku bisa meloloskan diri dari nya. Namun aku harus mencoba. Lebih baik gagal dari pada mati karena menyerah kalah. Itulah tekat ku. Aku akan bertahan dan terus bertahan. Sampai aku lepas dari jeratan monster bernama Angga.


"Wanita pe*acur.... Kau sudah sadar kesalahan mu, Hah....?!! Jangan pernah sekalipun berselingkuh dari ku. Karena aku akan menghukum mu sampai jera!"

__ADS_1


Aku berusaha meronta sekuat tenaga. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Angga yang menekan kuat kepala ku. Usahaku sia- sia karena kenyataannya aku kalah kuat dengan nya.


Aku terus mempertahankan pegangan tangan ku di pinggiran bathup, karena hanya ini satu- satu nya kesempatan ku hidup. Setiap kali tekanan tangan Angga melonggar, sekuat tenaga ku dorong kepala ku naik ke permukaan air untuk mengambil nafas. Aku terus mensukuri setiap helaan nafas yang masih bisa ku dapat kan. Dan entah berapa lama lagi aku bisa bertahan.


Kemarahan Angga begitu meledak- ledak, ia terus saja menenggelamkan kepalaku. Udara dalam paru- paru ku terkuras habis, sampai dada ku terasa sesak kehabisan udara.


Sudah tak terhitung berapa banyak air sabun yang terminum dan tersedak masuk dalam paru- paru ku. Aku berteriak dalam hati "Tuhan aku tidak sanggup lagi!" tangan ku menggapai- gapai berusaha mencari pegangan di sana. Aku tidak ingin mati. Aku harus hidup demi Emak dan adik- adik ku.


Tubuh ku tiba- tiba terasa ringan. Aku melayang, hingga tubuh ku seakan terbang. Terbang semakin tinggi. Tubuh ku terbang hingga sampai ke awan- awan. Di sana hanya ada awan putih bersih. Apakah aku sudah mati? Di mana kah aku sekarang? Tanya ku kebingungan. Ku toleh kan kepala ke kanan, dan kekiri tak ada sesuatu pun selain awan putih yang terlihat.


Tiba- tiba dari dalam awan, muncul sosok seorang pria.


"Bapak...!" Seruku dengan perasaan penuh kegembiraan. Bapak tiba- tiba sudah berdiri persis di depan ku. Ia tersenyum hangat, wajah nya cerah, berbinar- binar penuh kebahagiaan.


Bukankah bapak sudah meninggal. Kenapa aku dapat melihatnya? Apakah ini berarti aku juga sudah mati? Hati ku dirasuki kecemasan luar biasa. Namun saat melihat bapak dengan wajah nya yang teduh dan penuh kedamaian, membuat ku ingin bersamanya. Aku tidak mau disiksa Angga, pria yang baru ku cintai. Secara tiba- tiba menjadi psikopat gila gara- gara cemburu.


"Bapak.... Ana mau ikut Bapak. Ajak aku Pak!"


Bapak tersenyum hangat. "Belum waktunya An... Kamu harus perjuangkan cinta mu nak." Bapak berbalik dan meninggalkan ku.


"Bapak.... bapak... jangan tinggalkan Ana Pak.... Bapak.... !" Teriakan ku tidak dihiraukan bapak. Ia terus berlalu pergi.

__ADS_1


Aku berlari mencoba mengejar Bapak, namun Bapak semakin menjauh.


__ADS_2