Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Season 2 Kesialan Nara


__ADS_3

B"Silahkan diminum, Kak!" Nara meletakkan nampan berisi satu cangkir teh pahit untuk Aldin di meja depan rumah. Aldin mengangkat bibir kanannya ke atas, dia pikir Nara akan meninggalkan dia begitu saja di teras depan. Rupanya Nara membawakan dia minuman.



"Kok, sepi? Pada ke mana bapak dan ibu?"


"Bapak ke bengkel, sedangkan ibu mengantarkan pesanan ke tetangga sebelah," jawab Nara.


"Kamu, tidak pergi bekerja?"


"Nara masuk malam, Kak."


"Dengan siapa kamu pergi bekerja?"


"Sendiri. Biasanya juga sendiri." Nara diam sejenak.


"Maaf, Kak Aldin ada perlu apa ke mari?" Akhirnya Nara memberanikan diri bertanya walaupun dalam hatinya was-was.


"Aku hanya kebetulan lewat, dan mampir ke sini."


"Ada yang perlu Nara bantu?"


"Tidak, sudah aku bilang aku hanya kebetulan lewat dan sengaja mampir ke sini," tegasnya membuat Nara terkesima.


"Ihhh, jutek amat sih." Nara ngedumel dalam hati.


"Kalau begitu, Nara mau ke dalam dulu.Nara masih ada pekerjaan rumah." Nara akan masuk, akan tetapi Aldin menahannya.


"Kenapa lagi, Kak?"


"Temani aku sarapan pagi!" Tanpa basa- basi menarik lengan Nara. Nara terperanjat, berani-beraninya Aldin main tarik tangannya.


"Ayo, tidak usah nolak!" Sekali lagi Aldin menarik lengan Nara dengan sedikit memaksa. Nara berusaha melepaskan, namun saat akan menepis, tiba-tiba tubuh Nara tersungkur dan menimpa tubuh Aldin.



"Aduhhh," ringisnya seraya berusaha bangkit dari tubuh Aldin. Tepat ketika tubuh Nara tersungkur mengenai tubuh Aldin, dari jarak beberapa meter dari rumah orang tuanya Nara ada tetangga sebelah yang mengawasi sambil bergosip.



"Kenapa kamu bisa lemah begini, ditarik sedikit saja jatuh?" Aldin bertanya sewot membuat Nara kesal.



"Kak Aldin, kan yang narik lengan Nara sehingga Nara jatuh, padahal Nara mau menolak ajakan Kak Aldin," alasan Nara.

__ADS_1



"Ayo, berdiri yang benar. Kita pergi keluar sebentar. Temani aku sarapan pagi." Aldin setengah memaksa.



"Kak, tapi Nara sudah sarapan, barusan banget. Kalau Nara meninggalkan rumah, nanti takutnya Ibu mencari Nara." Nara menahan langkahnya. Aldin diam sejenak. Aldin berbalik arah dan duduk kembali di kursi depan teras itu.



"Ok, kalau begitu, aku pulang. Sampaikan salam aku sama Bapak dan Ibu," pamit Aldin tiba-tiba. Nara menatap heran dan berdiri menatap langkah Aldin.


"Kak Aldin!" panggil Nara yang langsung ditoleh Aldin. Aldin menatap Nara dan bertanya dengan isyarat matanya.


"Hati-hati!" Nara memberi ucapan, lalu membalikkan badan, tidak kuasa rasanya menatap lama-lama wajah tampan pria dewasa di hadapannya yang kini berhasil menyentuh hatinya.


Aldin seakan kecewa saat Nara langsung pergi dan membalikkan badan. Tidak menunggu lama Aldin meninggalkan depan rumah Nara.


*


*


Sore ini Nara berangkat kerja seperti biasanya. Jam masuk sudah mendekati pukul 4 sore. Nara tadi bangun terlambat saking ngantuknya. Dan saat bangun jam di tangan sudah menunjukkan pukul 15.30 Wib. Terpaksa Nara melakukan segalanya dari mulai membersihkan diri dan berdandan memakai sistem kebut sepuluh menit.




Nara berjalan menuju parkiran motor, dia menaiki, motor dan keluar dari area parkiran. Sejenak dia bingung harus ke mana dia jam. segini pergi, sedangkan jika pulang lagi ke rumah maka akan menimbulkan banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya.



"*Ya ampun, kenapa aku harus bangun terlambat* *tadi sih? Jadinya begini, dapat SP dan skors*," gerutunya dalam hati. "*Aku harus ngumpet ke* *mana ini, jika tidak pulang ke rumah*?" Nara semakin dilanda bingung.



Tiba-tiba saat Nara bingung dan tidak tahu harus pergi ke mana, sebuah mobil URV membunyikan klakson dan berhenti menghadang motor Nara yang baru mau keluar area Supermarket.



"Nara!" teriak Aldin seraya membuka pintu mobil dan menghampiri Nara. "Kamu belum masuk kerja, kenapa masih keliaran di sini?" Aldin heran melihat Nara yang masih belum masuk Supermarket, sementara Nara mengarahkan motornya keluar area Supermarket. Nara tidak menjawab dia bingung harus jawab apa.



"Nara, apa yang terjadi?" Pertanyaan Aldin kali ini dijawab Nara dengan suara yang sedikit bergetar.

__ADS_1


"Nara diskors, Kak. Tadi Nara datang terlambat dan Supervisor menegur Nara dan Nara dikasih skors selama tiga hari.


"Apa? Diskors?" Aldin terkejut tidak percaya. "Terus sekarang kamu mau kemana?" Aldin bisa menebak kebingungan Nara. Nara tidak menjawab, diaw benar-benar bingung.


Nara bisa saja pergi ke rumah Nafa, namun Nafa baru lahiran, dan dia tidak mau menggangu moment suka cita keluarga kecil Nafa.



Saat Nara masih dalam keadaan bingung, Aldin justru sibuk menghubungi seseorang. Dan tidak lama dari itu seseorang yang diyakini adalah orang kepercayaan Aldin, menghampiri ke arah mobil Aldin yang sedang menghadang motor Nara.



"Turunlah, dan masuk mobil!" Sebuah kalimat perintah dari Aldin membuat Nara terkejut. Nara masih bingung dengan perintah Aldin dan bingung apa yang mesti dilakukan. Sementara orang kepercayaan Aldin mendekati Nara d


seakan mau mengangkat tubuh Nara dan menurunkan Nara dari mobil itu. Sebelum itu terjadi, Nara turun lebih dulu dan membiarkan motornya diambil orang tinggi besar itu. Sebenarnya Nara bingung, mau diapakan motornya.


"Masuklah, nanti kamu dilihat orang yang mengenali kamu!" perintah Aldin seraya menarik lengan Nara menuju pintu mobil. Narapun masuk dengan terpaksa.



"Kak, sebenarnya mau dibawa kemana motor Nara, dan Nara mau diajak kemana?" tanya Nara bingung.



"Motor sudan diamankan, jadi kamu tidak perlu khawatir. Sekarang ikuti saja aku, dan jangan banyak protes" tegas Aldin tidak terbantah. Nara diam tidak membalas lagi. Sepertinya kali ini dia akan ikuti permainan Aldin.



Tidak butuh waktu lama, mobil Aldin sampai di depan halaman apartemen Aldin. Aldin membuka pintu mobil dan segera menarik tangan Nara. Di depan pintu unit apartemen.



Nara sudah berada di dalam apartemen Aldin dengan hati yang dilanda bingung. Dengan perasaan was-was Nara menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu di apartemen Aldin.



"Kak, apa yang akan Nara lakukan di sini?" Aldin menyeringai puas melihat Nara kebingungan.


"Kamu menemani aku di kasur, " jawab Aldin menyeringai puas. Nara langsung terperanjat.


"Apa yang ada di otakmu gadis kecil? Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan, aku masih waras dan masih punya nurani?"Aldin seakan mampu membaca pikiran Nara.



Nara sedikit lega dengan ucapan Aldin barusan sehingga dia tidak merasa takut lagi.

__ADS_1


" Tinggallah dengan nyaman di sini, aku pergi dulu. Aku segera kembali. Jika kamu lapar, ambillah di kulkas makanan siap jadi." Aldin bergegas meninggalkan apartemen meninggalkan Nara yang masih dilanda bingung.


__ADS_2