Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kapal


__ADS_3

"Sudah selesai makan siang nya An ?"


Tanya mama Sherly mengejutkan ku. Dari pagi aku sudah tidak sabar menantikan kepergian ku, untuk berkumpul dengan emak dan dua adik ku. Baru saja aku selesai makan saat mama Sherly datang menghampiri ku. Ia membantu membereskan piring bekas makan ku.


"Iya... Ma... Ana sudah selesai makan." Jawab ku sambil melemparkan senyuman penuh ucapan terima kasih pada nya. Aku juga kagum pada Mama Sherly yang tidak segan membantu ku merapikan piring makan.


"Ana... kamu berangkat sekarang, ingat tidak ada yang boleh tahu kemana pun kamu pergi. Disana pakai identitas baru. Nanti mama akan berikan uang untuk bertahan hidup di tempat baru. Semoga kalian bisa bahagia di sana." Kata mama Sherly sambil tersenyum tipis. Aku melihat senyuman mama Sherli bukan senyuman bahagia tapi senyuman dingin yang seketika membuat hati ku was- was. Tapi aku segera mengabaikannya. Mungkin aku salah melihat nya.


"Ma... terimakasih atas bantuan nya selama ini. Ana akan selalu mengingat kebaikan mama pada Ana , Emak dan adik- adik Ana." Kata ku tulus.


"Ya... mama akan bahagia kalau kalian pergi jauh dari sini. Ehm... maksud mama, kalian bebas dari ancaman Angga."


7Mama Sherly menyerahkan sebuah amplop coklat tebal pada ku. Pasti itu berisi gepokan uang yang cukup banyak. Aku ingin menanyakan pada mama Sherly, namun sepertinya ia mengetahui isi pikiran ku.


"Ana... itu sedikit uang untuk kalian bisa bertahan di sana, sampai kalian bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Kamu tidak perlu berterima kasih, Mama yang sepantasnya meminta maaf dan berterima kasih pada mu. Mama tidak bisa mengantar mu, sampaikan saja salam ku pada keluarga mu ya."


Kata Mama Sherly dengan suaranya yang lembut menenangkan. Aku spontan memeluk nya, mama Sherly telah menempati hati ku setara dengan tempat emak. Aku tidak bisa memungkiri hati ku, aku sudah menyayangi mama Sherly seperti seorang ibu bagi ku.


"Sudah... segera berangkat, di bawah sudah ada sebuah mobil menunggu mu. Ingat, jangan melakukan sesuatu apa pun yang menarik perhatian. Supaya Angga tidak bisa melacak mu atau pun keluarga mu."


Aku mengangguk,namun hati ku terasa pedih. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang pelarian. Yang harus bersembunyi demi keamanan dari ancaman suami sendiri. Walau dalam hati kecil masih ada cinta yang sedikit tersisa untuk Angga. Namun aku harus merelakan untuk menjauh selamanya dari nya. Agar tidak jadi bulan- bulanan dan pelampiasan kekejaman Angga.


Aku melakukan penyamaran. Rambut ku yang hitam dan panjang, tadi pagi telah dipotong pendek sebahu dan dicat warna coklat terang, dengan poni pendek menutupi dahi. Membuat ku sangat berbeda, terlihat lebih fresh dan muda. Perawat itu rupanya mahir dalam memotong rambut ku sedemikian rupa.


Baju yang ku kenakan sebuah kaos oblong putih bergambar menara eifel. Sebuah destinasi wisata yang menjadi mimpi ku bertahun- tahun. Yang tak juga tereralisasi. Dilengkapi dengan jaket jeans biru muda senada dengan celana panjang jeans pensil. Dan sepatu sneakers putih. Saat aku berkaca tadi, seakan aku kembali ke masa remajaku. Aku tersenyum puas dengan penampilan ku.


Tak lupa, amplop coklat berisi uang kertas pemberian mama Sherly aku simpan dalam kantong kresek hitam. Aku takut kalau dijalan nanti ada yang tiba- tiba merampas uang ku.


Saat aku menuju ke halaman, tempat dimana mobil menunggu ku. Aku kebingungan, dihalaman hanya ada sebuah mobil box bertuliskan merk Roti terkenal. Apakah aku akan menumpang mobil box roti itu?


"Non, mari silahkan masuk," Seorang pria berbaju seragam karyawan Roti membukakan bintu box belakang. Aku tertegun. "Cepat non, jangan berlambat- lambat nanti kita bisa terlambat sampai ke pelabuhan."


Kata pria berseragam itu menyuruh ku bergegas. Aku pun tidak punya pilihan, karena inilah satu- satu nya jalan agar aku bisa terbebas dari Angga. Aku segera naik ke dalam box dan pria itu mengunci pintu dibelakang ku.


Dalam kegelapan aku meraba- raba mencari tempat duduk. Di sebuah celah diantara dua kardus bertumpuk aku memilih nya menjadi tempat duduk ku yang lumayan nyaman. Tercium aroma roti yang sangat harum. Seketika aku membayang kan nikmat nya roti legendaris kesukaan keluarga ku itu.


Mobil box berjalan sangat kencang, berkali- kali mobil bergoncang saat melewati lubang jalan. Membuat badan ku terasa terbanting- banting. Apakah sopir di depan itu gila? bagaimana bisa ia menjalankan mobilnya seperti kesetanan. Tidak pedulikah ia pada keadaan ku di box belakang seperti barang yang terlempar- lempar karena kecepatan mobil yang tidak konstan, dan cenderung ngebut seperti sedang terburu- buru.


Perut ku mual sekali, aku meraba- raba mencari sesuatu yang bisa kupakai untuk tempat muntahan ku nanti. Sangat tidak bijaksana kalau aku sampai memuntahi kemasan roti itu. Namun tidak ada kertas atau kantong plastik satu pun. Untung nya aku teringat pada kantung kresek tempat uang. Ku pindahkan amplop uang ke dalam saku jaket ku.


Perut ku rasanya seperti diaduk- aduk. Perjalanan cukup panjang dan sangat tidak nyaman. Tempat gelap, sesak ditambah goncangan mobil yang seakan tidak ada hentinya mengocok perut ku. Aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin sekali muntah. Rasa nya berjam- jam aku, di dalam mobil box. Dalam kegelapan dan sangat menyiksa. Aku pingsan, mungkin karena keadaan fisik ku yang belum pulih benar. Menghadapi perjalanan panjang dalam mobil box tertutup.

__ADS_1


Sudah tak terhitung berapa kali aku memuntahkan isi perut. Rasa nya semua sudah terkuras habis. Tanpa kusadari Kantong plastik ku masih tergenggam aman di tangan ku. Aku beringsut menjauhi bekas muntahan ku. Aku mencari tempat baru, dimana aku tidak mencium muntahan ku sendiri.


Di tempat ku yang baru, teraba oleh ku sebuah kardus terbuka. Aku mengambil dua buah roti. Satu bungkus ku simpan dalam kantong plastik, sementara satunya segera ku memakan. Perut ku sudah mulai terasa perih. Untunglah sebuah roti mampu meredakan perih di perut ku. Sayang nya tidak ada air minum, membuat ku hampir kesedak potongan roti yang sulit ku telan.


Aku berusaha mencari celah cahaya, untuk melihat dimana sebenarnya saat ini aku berada. Mobil box yang ku tumpangi, sudah mematikan mesin nya dari tadi. Tapi aneh nya aku masih merasa bergoyang. Apakah ini faktor pingsan ku tadi di mobil?


Kembali aku berusaha mencari celah untuk mengintip keluar. Namun tak ada celah yang mampu ku jangkau. Membuat ku kembali terduduk dalam keputus- asaan.


Kudengar gembok box mobil dibuka dari luar. Aku segera mempersiapkan diri.


"Non... cepat keluar, kuantarkan kau ke tempat ibu dan adik- adik mu berada." Kata si pria pegawai roti itu.


Aku segera bergegas keluar. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar mobil box. Aku kebingungan melihat deretan berbagai jenis mobil terparkir rapi. Ternyata aku sudah berada di deck kapal?


Pria itu menyuruhku mengikutinya, dan aku pun berjalan mengikutinya. Beberapa saat kami sudah berada di dekat sebuah mobil box, sama persis yang aku naiki tadi. Pria itu segera membuka pintu box mobil. Dari dalam nya aku melihat emak dan dua adik ku. Emak langsung mengenaliku dan segera memelukku saat aku hendak menyusulnya naik ke dalam mobil box.


"Ana.. kamu tidak apa- apa nak?" Tanya emak mengkuatirkan ku.


"Ana, baik- baik saja. Emak, Nita dan Doni apa kalian baik- baik saja?" Tanya ku cemas melihat Nita dan Doni pucat pasi.


Aku menoleh pada pria yang tadi membawa ku.


"Cepat naik, dan jangan buat keributan!" pria itu mendorong ku masuk kedalam box mobil. Ia merampas kantong kresek yang ku pegang. Dan mengunci gembok pintu segera setelah aku sudah masuk.


Keadaan box mobil roti tempat emak dan adik- adik ku tidak jauh berbeda dengan tempat ku tadi. Tercium bau menyengat muntahan. Juga bau pesing. Aku meraba- raba mengabsen Emak dan adik- adik ku.


Suara Nita lemah, ia minta minum. Aku pun segera menyodorkan botol air mineral pada nya. Ku dengar Nita meneguk air banyak- banyak. Mungkin ia sudah sangat kehausan dari tadi. Selesai minum Nita memberikan botol minum kembali pada ku. Ku oper botol itu pada Emak yang segera meminum nya.


Aku menghela nafas berat, aku sangat menyesali pada apa yang terjadi pada kami.


"Emak maafkan Ana, gara- gara aku juga kalian harus menderita lagi." Kata ku sambil menangis.


"Ana, jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Percayalah, kesulitan yang kita hadapi saat ini adalah jalan menuju kebahagiaan kita ke depannya. Pasti ada pelangi setelah badai menerpa" Kata emak menguatkan kami.


"Sekarang kita hanya bisa berdoa, minta petunjuk Allah SWT agar memberikan jalan bagi kita." Kami pun berdoa meminta pertolongan kepada Allah.


"Ya Allah, tunjukkan kami jalan mu. Tolonglah kami ya Allah. Lindungi Emak, hamba juga Nita dan Doni. Jauh kan kami dari mara bahaya. Selamatkan kami ya Allah. Amin" Aku dengan khusuk menaikkan doa- doa ku.


Doni menempel terus dalam pelukan emak, tak terdengar suaranya, mungkin karena ia tertidur dan sangat takut pada kegelapan. Sementara Nita beringsut mendekati ku. Aku segera menggeser kardus- kardus roti, untuk memberikan ruang yang cukup untuk Nita bisa tidur berbantal paha ku. Aku memijat tengkuk nya yang kaku. Nita mulai tenang, ia tidak lagi muntah.


"Nita, apa kamu masih merasa mual?" Tanya ku memastikan keadaan Nita. Tempat kami yang gelap membuat ku tidak dapat melihat keadaan Nita.

__ADS_1


"Hik... hiks..." Terdengar isakan lirih Nita, membuat ku semakin kawatir.


"Nita... ada apa? Apa kamu merasa sakit? Di bagian mana? Kasih tahu kakak Nit." Kata ku cemas sekali. Aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Nita. Juga aku sama sekali tidak bisa melihatnya, membuat ku semakin cemas.


"Kak Ana, jangan pergi lagi ya kak." Kata Nita dengan kesedihan yang dalam.


Aku tertegun dengan kata- kata Nita, apakah ia sangat kesakitan sekarang, hingga ia takut aku tinggalkan?


"Iya, kakak tidak akan pernah meninggalkan emak, Nita dan Doni. Kita akan terus bersama- sama selamanya." Kata ku mencoba menenangkan Nita.


"Nita... kasih tahu kakak, mana yang sakit Nit?" Tangan ku meraba- raba kening Nita yang terasa dingin.


"Kak... ibu cantik bernama Sherly itu jahat sekali." Kata Nita pelan. Aku mempertajam telingaku tidak percaya pada pendengaran ku.


"Nita.... kamu ngomong apa?" Aku mencoba mendapat penjelasan dari Nita.


"Bu Sherly kak... wanita cantik itu jahat." Kata- kata Nita membuat ku bingung, apakah yang di maksud adalah mama Sherly yang ku kenal? Aku segera menepis prasangka ku. Mama Sherly sangat ramah, lembut dan penyayang. Pasti yang dimaksud Nita adalah orang lain.


"Kemarin ibu Sherly datang ke rumah, bicara banyak sama emak. Trus saat pulang ia tidak sengaja menjatuhkan cincin nya. Aku melihat saat cincin itu jatuh. Trus Nita mengejarnya untuk memberikan cincin itu pada bu Sherly. Saat aku akan memberikan cincin itu padanya, bu Sherly sedang bicara dengan seseorang di telephon. Jadi aku menunggu nya."


Nita menjeda cerita nya. Ia berusaha bangun untuk bisa menggenggam tangan ku. Saat aku menyuruhnya berbaring, ia tidak mau.


"Kak Ana, Bu Sherly jahat sekali." Nita memeluk dan menangis, membuat emak jadi ikut kawatir.


"Nita... tenang ya nak... kita harus sabar." Kata emak berusaha memberi ketenangan.


"Kak, Bu Sherly bilang kalau ia telah gagal membunuh kakak dengan racun. Dan ia menyuruh orang menenggelamkan kita. Kak... Nita takut..." Nita beringsut merapat dalam pelukan ku.


Aku pun memeluk Nita erat- erat dalam dekapan ku. Aku tergoncang, aku tidak menyangka mama Sherly yang lembut sejahat itu. Aku mulai mengumpulkan informasi yang ku dapat selama ini. Aku hanya ingat Angga menenggelamkan ku dalam Bathup. Namun perawat itu memberi tahu kalau aku keracunan bukan tenggelam?


Potongan- potongan misteri itu menjadi semakin terang.


"Nita, saat kamu menguping apakah bu Sherly tahu?" Tanya ku mencoba mencari tahu.


"Iya kak, bu Sherly menyadari keberadaan ku. Ia sangat terkejut melihat ku berdiri di belakang nya. Aku berpura- pura tidak mendengar pembicaraan nya, aku seolah- olah baru datang dan segera memberikan cincin itu. Bu Sherly terlihat sangat lega. Ia memberikan uang seratus ribu pada ku. Juga Doni yang menyusul ku juga diberi uang. Apakah kita akan ditenggelamkan di laut ya kak?" Nita memeluk ku erat.


"Tidak, tidak segampang itu orang bisa berbuat jahat kepada kita. Kali ini kita harus berjuang, jangan pernah menyerah." Kata ku menghibur Nita.


Pikiran ku rasanya ambyar. Aku tidak menyangka mama Sherly sejahat itu. Untunglah aku tahu rencana mama Sherly, setidaknya kami masih punya kesempatan selamat.


'Klotak... ' Ada suara logam terjatuh. Dan sumpah serapah suara seorang pria mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2