Jangan Sebut Aku Pelakor

Jangan Sebut Aku Pelakor
Kepindahan Kembali ke Kota Kaktus


__ADS_3

Mas Sakti memarkirkan mobilnya dengan benar di depan halaman Bungalownya, lalu segera turun dan menghampiri kami yang sedang ngobrol. Dengan sorot mata curiga dia menatap ke arah kami berdua.



"Tamu, atau kalian sedang janjian? Kok bisa dia berada di sini?" Mas Elang menatap kamj curiga.


"Kami tidak janjian, Mas. Mas Raka datang hanya bermaksud bekerjasama, Mas Raka menawarkan untuk menjadi Suplier kain di tempat Nafa." Nafa memberi alasan.


"Suplier? Apa tidak ada yang lain, kenapa harus dia?" tunjuk Mas Sakti dengan raut muka kesal.


"Memangnya kenapa kalau saya? Kan tidak ada salahnya?" balas Mas Raka tidak kalah berang.


"Dia istri gue, jadi hak gue mau menentukan siapa partner dia dalam berbisnis," tegas Mas Sakti ketus. Aku hanya bisa melongo melihat perdebatan mereka.


"Saya datang kesini dengan cara yang baik, lho. tapi Anda memberi sambutan yang kurang baik terhadap saya. Lagipula saya berniat menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan buat bisnis istri Anda. Jika saya menjadi Suplier kain di bisnis istri Anda, maka istri Anda tidak perlu jauh-jauh mencari kain ke kota lain atau keluar daerah," debat Mas Raka memberi alasan yang telak.



"Jangan memberi alasan apapun terkait ini, pokoknya saya tidak ijinkan istri saya menjalin kerjasama bisnis dengan kamu, bocah ingusan!" hardik Mas Sakti berapi-api.


__ADS_1


"Huhh ... Anda rupanya masih menyimpan cemburu terhadap saya, itu makanya Anda ketakutan istri Anda berdekatan dengan saya," timpal Mas Raka tanpa rasa takut. Melihat perdebatan mereka yang semakin sengit, aku pergi meninggalkan mereka dengan perasaan dan kesal. Terutama pada Mas Sakti yang tanpa mau dikompromi, langsung menilai buruk terhadap Mas Raka.



"Sayang ....!" Mas Sakti mengikutiku dan menyusul ke ruangan Desainer. Dia meraih tanganku dan menatap tajam.



"Lepaskan, Nafa tidak suka dengan cara Mas Sakti seperti itu. Mas Raka bukan bermaksud yang tidak-tidak, tapi dia mau menawarkan kerja sama dengan butik yang baru dirintis Nafa. Mas Sakti hanya cemburu, kan sama Mas Raka?" serangku tidak suka.




"Lagipula, Mas masih mampu mendatangkan Suplier kain yang lain, tapi bukan dia!" tandasnya menolak keras. Aku diam tidak menjawab, sementara Mas Sakti pergi meninggalkan aku yang terpaku.



Aku masih memikirkan perkataan Mas Sakti tadi. Kalau dia masih mampu mendatangkan Suplier kain yang baik kenapa nggak, akhirnya aku pasrah saja pada apa yang menjadi keputusan Mas Sakti.


__ADS_1


Seminggu kemudian tiba-tiba Mas Sakti mendatangi ruanganku, lalu berbicara serius.


"Sayang ... kita harus pindah dari sini ke kota Kaktus?"


"Kenapa, Mas?" heranku.


"Rafa sebentar lagi pindah sekolah, dan sekolah yang hampir sama dengan di kota Cemara hanyalah di kota Kaktus. Jadi terpaksa kita pindah ke kota Kaktus. Lagipula di sana Mas sudah ada rumah yang lumayan besar, sebagian ruangan bisa dijadikan tempat usahamu, malah tempatnya lebih strategis dari pada ini," jelas Mas Sakti panjang lebar.


"Kalau itu baik buat semua, Nafa ikut saja apa yang Mas Sakti katakan," ucapku sepakat dengan apa yang Mas Sakti putuskan.



Akhirnya seminggu kemudian, khususnya yang bekerja padaku, ikut pindah ke rumah dan tempat baru. Suasana rumah lumayan luas, Mas Sakti sengaja memilih tempat yang sangat strategis, tidak jauh dari pasar, sekolah ataupun restoran milik Mas Sakti yang kini masih dibangun.



Wa Rasih kini kembali pada posisi semula sebagai ART, ada juga ART lain yang sengaja dicarikan Mas Sakti untuk bekerja paruh waktu.



Suasana rumah ini menjadi ramai terutama sejak Rafa pindah sekolah. Rafa senang bisa bersama-sama dengan Papanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2