JANJIKU

JANJIKU
Kaget


__ADS_3

Semua orang diam tidak ada yg berani meninggalkan luby saat melihat atasan Merika yg tiba-tiba saja muncul dan terlihat begitu murka dengan salah satu pegawai nya.


"Presdir ini semua salahnya! dia sudah kurang ajar!" ucap Marisa seolah-olah dia tidak bersalah dan pura-pura menangis seakan akan dialah yg menjadi korban.


"Tau apa kamu tentang dia? Apa kamu mencuba menutupi kesalahan kamu dengan menyalahkannya!! bentakan Revan Membuat semua orang semakin takut bahkan nyali Marisa seketika menciut.


"Presdir dia...


"CuKuP..!!! Teriak Revan semakin keras dia paling tidak suka jika pekataannya dibantah apa lagi dia tahu bahwa pegawai nya itu membuat Kesalahan.


" Kanya kamu urus dia! saya tidak ingin melihat dia ada perusahaan saya lagi!! ucapan Revan membuat semua orang bertambah kaget, biasanya Revan selalu mentulerir setiap kesalahan bawahannya tapi hari ini kesabarannya benar-benar menghilang.


Revan berjalan mendekati Amanda yg menundukkan kepalanya. Amanda merasa sangat malu menjadi bahan tuntunan semua orang apa lagi hanya karna hal seperti ini, dia harus membuat Revan memecat bawahannya.


"Hay.. ucap Revan lembut


Amanda menganggkat kepalanya sedikit,


nampak terlihat air mata nya yg menggantung di pelupuk matanya Revan merasa hatinya berdenyut sakit melihat kondisi Amanda yg pipi nya nampak lebam bahkan darah yg ada disudut bibirnya membuatnya tanpa sadar meremas genggaman tangannya yang sudah sedari tadi ingin dia layangkan jika Marisa bukan seorang wanita.


Revan menarik dan memeluk Amanda kedalam dekapannya "Maafkan aku" ucapnya pelan dan Revan langsung mengangkat tubuh Amanda membawanya kedalam lift khusus Presdir


semua orang-orang yang ada semakin terkejut dengan perlakuan Revan pada Amanda yang terlihat bagitu peduli dengan nya, bahkan dia tanpa ragu sedikitpun menggendung nya dalam dekapannya dan membawanya pergi tanpa sepatah katapun lagi.


Kanya diam tak bergeming, dia bingung siapa sebenarnya perempuan itu sampai Revan bisa semarah itu dan begitu lembutnya pada Amanda yg di sebutkan salah satu stapnya, Kanya sangat tahu selama ini Revan selalu menjaga jarak dengan Wanita manapun karna dia tahu Perhatian Revan hanya tertuju pada satu wanita yaitu sahabat lamanya Dinda yg menjadi Cinta pertama nya.


sesampainya Revan di ruang kerja nya, Revan mendudukkan Amanda di sofa dengan pelan


dia bergegas mengambil kotak P3K dan kembali mendekati Amanda Sambil duduk disampingnya.


"Kamu terluka sayang!" ucapnya pelan sambil nengobati sudut bibir Amanda dengan lembut, Revan tidak menyadari apa yg sudah dia ucapkan hingga membuat Amanda merasakan denyutan yg begitu sakit didadanya namun dia hanya diam dengan perlakun Revan padanya saat ini.


"Aauu.. pelan-pelan Revan inu sangat perih" Amanda meringis kesakitan sambil memegang sebelah pipinya yang habis kena tamparan itu


"Maaf"

__ADS_1


"eemmm.. tidak apa''


"kenapa tidak menghubungiku langsung kalau kamu mau kesini, hemmm?! aku bisa turun kebawah dan menjemput kamu" ucap Revan dia benar-benar lembut pada Amanda saat berbicara bahkan pandangan matanya yang tajam itu berubah melembut tak pernah lelah untuk menatap nya lekat.


"orang tua ku bilang tante Nadine datang menemui merika, meminta tolong agar aku datang membantu kamu menstabilkan perusahan kamu kembali, mama bilang kalau perusahaan kamu sedang tidak stabil"


"Dan kamu langsung berangkat kesini?!'' tanya Revan tersenyum tak terlukiskan bagaimana betapa bahagianya Revan Setelah mendengar penuturan Amanda


"hemmm.. apa kamu tidak tahu? tanya Amanda


"Jadi ini rencana mama sekarang?!, wah sungguh aku tak pernah menduga, terimakasih mama kamu benar-benar ibuku" ucap Revan senang dalam hati


"Tidak mama sudah memberitahu ku" jawab Revan berhobong dia benar-benar meras senang, dengan cara ini dia bisa lebih mudah dekat dan bisa mendapatkan informasi tentang kehidupan Amanda.


"oohh.. sudah cukup aku baek-baek saja, sekarang apa pekerjaan ku?"


Revan memasukkan kembali obat-obatan kedalam kotak P3K dan menaruhnya didalam lemari penyimpanan di meja Revan.


"ini sudah waktunya makan siang, lebih baek kita makan dulu" ucap Revan setelah melihat jam tangannya dan kembali menatap Amanda yg masih duduk di sofa.


"Apa kamu bisa berjalan? kalau kamu merasa tidak enak badan kita bisa memesan saja? Revan merasa khawatir dengan kondisi Amanda saat ini dia tidak ingin terjadi apa-apa padanya


Amanda masih merasa canggung dengan Revan dia selalu merasa jantungnya berdetak kencang setiap berdekatan dengan Revan


"a'apa.. kita bisa makan di sini saja, aku merasa masih malu jika harus meliwati luby kembali lagi"


Revan tersenyum mendekati Amanda dan membelai pipi mulus Amanda, "tidak apa, kita bisa memakai lift khusus Presdir dan langsung ke tempat parkir jadi kamu tidak perlu bertemu merika lagi" tapi jika kamu ingin makan disini juga tidak apa-apa aku akan memesan tunggulah sebentar"


"Eemmm..


Setelah Revan keluar ruangan, dia masuk lagi keruangannya, dia melihat Amanda sedang bermain ponselnya dan Revan kembali duduk disebelah Amanda.


"Amanda setelah aku bertemu kamu aku semakin yakin kamu adalah dindaku"


ucapa Revan dalam hati nya dan tersenyum

__ADS_1


"Kenapa kamu tersenyum?


"Hahhh??.. kapan aku tersenyum, tidak ada aku tidak tersenyum" Revan menyentuh wajahnya sendiri dan mendekatkannya kewajah dinda dan itu berhasil membuat Amanda tersipu malu bahkan pipinya nampak merah meruna.


"cuba lihat dengan jelas" Revan memperlihatkan wajah lucunya yg dibuat-buat.


"hahahahaha.." merika tertawa bersamaan


"tok..tok..tok tiba-tiba ada yg mengetuk pintu


Ceklek


Kanya masuk ruangan Revan perlahan dengan membawa beberapa kantung makanan yg dia pesan sejak tadi.


"Presdir ini makanan pesanan anda"


Revan mengambil bungkusan yg dibawa Kanya"Terimakasih kanya" ucap Revan sambil tersenyum.


Kanya kaget dia membuka mulutnya lebar-lebar dia tidak pernah mendengar Revan berterima kasih sebelumnya apa lagi sampai tersenyum, tapi hari ini dia mendapati hal yg begitu berbida dari hari biasanya.


Kanya menoleh pada Amanda ingin melihat seperti apa wajahnya, bagai mana bisa perempuan ini bisa membuat sikap atasan nya yg sangat dingin tidak tersentuh bisa menjadi seceria ini.


tapi sayang Amanda duduk membelakang dan kanya tidak dapat melihat wajah nya namun dia merasa sangat pamiliar dengan pustur tubuh nya itu.


Revan tiba-tiba menjentikkan jari tangan nya kejidad kanya "aawww... kakak Revan! ucapa nya sambil mengusap-usap jidadnya


"ada lagi? Revan menganggkat sebelah alisnya dan dengan wajah datarnya


"tidak ada!! kanya berlalu pergi dan tidak menoleh lagi dia sedikit takut Revan akan marah jika urusan pribadinya di ganggu.


Revan tahu Kanya pasti penasaran dengan Amanda, tapi dia pikir belum saatnya kanya bertemu dengan Amanda saat ini sebelum dia benar-benar yakin bahwa Amanda adalah Dinda nya..


"Ayu kita makan dulu, setelah itu kamu bantu aku memeriksa dukumen"


"eemmm.. sahut Amanda dan menyiapkan makanan yg sudah Revan letakkan di atas meja dengan Cepat.

__ADS_1


__ADS_2