
Amanda merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya wajahnya sudah penuh dengan lebam merah kebiruan dan darah
"Alka Alika" Rintihnya teringat anak-anak nya Amanda tidak tahu bagaimana keadaan merika apa merika Baek-baek saja atau tidak air matanya terus mengalir ada perasaan takut akan terjadi hal buruk pada anak dan suaminya.
"Bagaimana? apa dia masih tidak menyadari kalau istrinya menghilang?"
"Seperti nya masih belum tuan"
"hahahaha kepunakan ku yg malang, bagaimana bisa dia tidak menyadari istrinya ada di tanganku, ternyata dia lebih mementingkan kepentingan perusahaan miliknya"
Amanda mendengar penuturan orang yg ada di dalam gedung itu dan mengangkat kepalanya perlahan
"ternyata tebakanku benar itu benar Om Firman" gumam Amanda dalam hatinya kini Amanda sedikit lega karena dia yakin Om Firman tidak akan melakukan hal buruk pada Revan lagi, karna Amanda tahu yg dia inginkan hanya untuk menyakiti Revan dengan menggunakan orang-orang yg dia sayangi tapi tidak melukai Revan.
Om Firman masuk dan mendekati Amanda yg terikat dengan badan yg terkulai lemah karena sudah terlalu banyak di siksa para bawahan Om Firman
"Gadis keras kepala.. aku sudah pernah menyiksa kamu, ternyata kamu tidak jera juga dan tetap memilih bersama dengan nya"
"Itu hak ku lalu itu tidak ada urusannya dengan kamu!'' ucap Amanda dingin dengan suara lemahnya
"hahahaha!! ya itu memang hak kamu, tapi apa kamu sadar sekarang nyawa kamu ada di tangan ku!!
"Apa kamu sadar perbuatan kamu ini hanya akan membuat kamu mendekam di penjara" Amanda mencuba mengingatkan Om Firman akan kejahatan yang dilakukan
"Penjara?!! Om Firman menangkup dagu Amanda dengan sebelah tangannya. "Tidak akan ada yg bisa memenjarakan ku disini bahkan suami mu saja tidak peduli dengan kamu yg sudah tidak berdaya!!"
"Aku tidak peduli dia datang atau tidak!" tatapan Amanda tajam menatap Om Firman yg ada di depannya
Plaaakk
__ADS_1
Plaaakk
Plaaakk
Terdengar suara tamparan yg sangat keras digedung tua itu,, para bawahan Om Firman masih menatap ke arah Om Firman yg terus memukul Amanda
"Beraninya kamu menatapku, apa kamu tidak sayang pada nyawamu itu?!!!
"A'akku tidak peduli, bahkan jika kau membunuhku saat ini juga aku lebih senang"
"wanita pintar! apa kamu pikir aku akan melepaskan kamu begitu saja? tidak semudah itu!!!
"Apa maksudmu?!!
"Lihat kulit mulus terawat dan indah ini! tunjuk Om Firman pada tubuh Amanda "aku tidak akan pernah membiarkan kamu memiliki tubuh yg indah dan bersih saat kamu mati nanti, aku ingin kamu merasakan rasa yg begitu sakit hingga kamu merunta meminta kematian itu padaku!!!
"hahahahaha... bukankah kamu sudah tahu itu? apa kamu pura-pura lupa?!
Amanda Hanya diam saja sambil menatap langit-langit gedung tua yg penuh dengan sarang laba-laba, ada kesedihan yang mendalam dihatinya
"Aaahhhhhh!! Amanda memekik kesakitan saat Om Firman menendang perut Amanda yg tersungkur di lantai tidak berdaya dan menginjak kakinya beberapa kali tanpa ampun hingga Amanda terkulai tak berdaya dan jatuh pingsan lagi dan lagi akibat siksaan yang dia terima.
"lepaskan ikatannya, seret dia kedalam ruangan gelap dan kunci jangan sampai dia lari!!
"Baek tuan".
Om Firman berjalan keluar dari Gedung tua itu dan merasa puas karena sudah menyiksa Amanda sampai dia tidak sadarkan diri
waktu menunjukkan jam sembilan malam Ramon merasa mulai gelisah bukan dia tidak senang menjaga anak-anak tapi dia merasa tidak tenang ada perasaan buruk dan selalu khawatir pada Amanda entah kenapa beberapa hari ini dia tidak bisa dihubungi bahkan Revan tidak pernah mengangkat telponnya
__ADS_1
Dreett.. Dreeett
Revan sedang berjalan menuju kamarnya di ikuti oleh Riyan yg sudah nampak wajah kelelahan merika Revan merasakan getaran ponsel miliknya didalam jas yg dia kenakan.
melihat id penelepon Revan merasa sedikit terkejut, tidak biasanya Ramon menelponnya
"Hallo?"
"Akhirnya kamu menganggkatnya juga Revan"
"Ada apa Ramon?''
"Kalian ini, jika terlalu asik bersama ingat juga untuk mengabari kami disini, kasian anak-anak merika juga merindukan ibunya"
Revan mencoba mencerna kata-kata yang di luntarkan Ramon padanya "apa maksud kamu? aku tidak mengerti Ramon"
"bukankah kalian sedang bersama? maksudku Amanda sedang bersama dengan kamu?
Revan terkejut dan langsung menghentikan langkah kakinya "Tidak,, aku tidak bersama Amanda aku sedang di luar kota beberapa hari lalu sampai sekarang bahkan Amanda tidak menghubungi ku sama sekali"
"Apa?!! lalu dimana dia?" Ramon mulai merasa semakin khawatir setelah mengetahui ternyata Amanda tidak bersama dengan Revan
"Revan aku tahu kalian sedang ada masalah tapi kalian juga tidak harus saling menghindar seperti ini"
"Aku tidak menghindari nya Ramon aku disini ada urusan mengenai masalah perusahaan ku!"
"Lalu dimana adikku!"
"Aku... Tut Tut..... Ramon langsung mematikan telpon miliknya dia sangat marah pada Revan, bagaimana bisa dia tidak menghubungi istrinya sama sekali dan tidak tahu dimana istrinya Sekarang.
__ADS_1