JANJIKU

JANJIKU
Siapa kamu


__ADS_3

Byuuurr...


Seseorang menyiramkan air dengan ember kewajah Amanda yg terikat dengan kuat di bangku, badannya mulai mengigil kedinginan, perlahan Amanda membuka matanya dia terkejut mendapati dirinya terikat dan berada di sebuah gedung tua yg cukup gelap.


"Dimana aku? kenapa aku ada disini?!" ucapnya Begitu kebingungan


"Akhirnya kamu bangun juga"


"Siapa kamu?


"Kamu tidak perlu tau siapa aku, tapi sebentar lagi kamu akan bertemu dengan seorang yg menginginkan nyawa kamu"


Amanda terkejut saat mendengar penuturan laki-laki tinggi yg ada di depannya, dilihatnya ada beberapa orang yang juga mengawasi tempat itu.


"Apa yg sebenarnya kalian inginkan dariku?


"Apa perkataan ku kurang jelas? Nyawa kamu!" ucapnya sambil menarik Rambut Amanda keras kebelakang dan berhasil membuat Amanda memekik kesakitan.


"Aku tidak pernah merasa memiliki musuh atau menyakiti orang lain, lantas atas dasar apa kamu ingin membunuhku?"


"hahahaha... kamu benar itu bukan karena kamu memiliki musuh, tapi salah kamu kenapa kamu jadi istri orang itu?! musuh yg sudah lami tuan kami pendam untuk Suami kamu itu!!"


Deegggh


Amanda teringat Revan, mungkin saja orang itu menculik Amanda hanya untuk memancing Revan untuk datang


"Jadi semua ini karna suamiku? Biarkan dia pergi kau boleh saja membunuhku tapi jangan pernah kamu menyentuhnya!" tatapan Mata Amanda penuh permusuhan menatap pada orang yang ada depannya


''ya tentu itu tidak akan kami lakukan, karna bagi tuanku dengan melukai orang yang sangat dia cintai itu akan lebih menyakitkan dari apapun"

__ADS_1


Amanda terdiam Air matanya mulai berjatuhan di pipinya dia sekarang mulai curiga dengan orang yang telah menculiknya


dia mulai merasa takut jika tebakannya benar maka itu tidak akan baek, karna Sebelum nya orang itu juga pernah menculiknya dulu dan tidak segan-segan untuk melukainya.


"Kalian ba****!!!"


Braakkk


"Dasar wanita jalang beraninya kau mengumpat padaku" Amanda terlempa ke sudut karna tendangan orang itu dengan kursi yg terikat di tubuhnya


"Apa aku salah?!! kalian memang orang yang tidak memiliki hati, Kalian selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segalanya!!" Amanda terus menatap tajam pada orang itu dia tidak bisa merasakan apa-apa pada tubuhnya yg sudah terluka.


"Apa kamu bilang? katakan sekali lagi!" orang itu mengangkat Amanda dan mencekik lehirnya kuat


"aaahhhhhh... Amanda tidak dapat bernapas atau melakukan perlawanan karna tangan dan kakinya yg terikat sangat kuatnya.


"hayyy.. apa yg kamu lakukan? lepaskan dia! kita harus menunggu tuan datang jangan sampai dia mati dulu"


"Jika dia tidak datang kamu sudah mati ditangan ku ja***!!


Brukkk... orang itu melepaskan Amanda dan seketika dia terjatuh kelantai taksadarkan diri lagi.


"Ma.....! mama!!" Alika menangis terbangun dari tidurnya menangis kencang sampai membangunkan Ramon yg ada di sampingnya, karna terkejut Ramon langsung memeluk dan mencuba menenangkan Alika.


"Hayyy... sayang tenanglah papa ada disini"


"heeheee... papa ika mau mama papa? mama mama?!!"tangisnya begitu memilukan seolah Alika dapat merasakan apa yg tengah dialami sang Mama saat ini.


"iya Sayang nanti kita ketemu Mama yah, ini sudah hampir pagi kita nanti telpon Mama biar mama menjemput kalian kesini" Ramo. terus mencuba menenangkan sang kepunakan yg tidak biasanya seperti ini.

__ADS_1


"Tapi ika mau Mama papa, kasian Mama mama sakit papa"


"iya Sayang tapi kamu tidur dulu yah?"


''eemmhh" Ramon mencuba terus menenangkan Alika dalam pelukannya ditatapnya wajah Alka yg juga terbangun karna igawan Alika


"Alka kamu juga tidur ya sayang''


"Papa kenapa Mama tidak menjemput kita?"


"mungkin Mama sedang tidak bisa Sayang, Mama sedang menemani papa kamu bekerja mungkin dan tidak sempat menjemput kalian karna kemalaman"


"oohhh" Alka kembali merebahkan tubuhnya disamping Alika yg terus memeluk Ramon


"Amanda kakak mengerti kamu butuh waktu untuk memperbaiki keadaan bersama Revan"


Sudah tiga hari Revan berada di luar kota tanpa memberi tahu atau menelpon sekalipun pada Amanda, bukan dia tidak ingin mengabari nya hanya saja Revan menunda dan terus bekerja memperbaiki keadaan hingga akhirnya dia lupa, tapi hasilnya masih sama, dia masih belum menemukan jalan keluar dari masalah yg ada di perusahaan tersebut.


Dreeett


Ponsel Revan terus berbunyi dan itu sudah yg ke lima kalinya, Revan sedang mengadakan Rapat dengan para pemegang saham yg ada di kota itu hingga dia tidak menyadari ada panggilan yg masuk.


"Riyan bagaimana apa ada kemajuan?"


"tidak ada priesdir, ini semakin memburuk para pemegang saham satu persatu mulai menarik saham merika"


"Apa sebenarnya yang terjadi?! Kenapa tiba-tiba merika menarik saham merika?!" tanya Revan yg semakin bingung


"Sepertinya ini sudah di rencanakan presdir"

__ADS_1


"Cepat atau lambat kita akan mengetahuinya Riyan siapa dibalik ini semua Kamu selidiki satu persatu karyawan dan juga kulega kita" perintah Revan mulai tidak bisa mengontrol emosi nya


"ya Presdir"


__ADS_2