
Setelah lama merika berbincang mama Nadine mulai merasa bosan dia ingin mencari Amanda.
"Sayang.. dimana Amanda kenapa dari tadi mama ngga liat Amanda sama sekali?!" tanyanya heran
Revan terdiam dia bingung harus menjawab apa, pasalnya Revan malu jika harus menceritakan tentang dirinya yg lepas kontrol.
"Sudah beberapa hari ini manda tidak masuk ma" Revan nampak murung
"apa dia tidak mengabarimu?
"eemm..."
"yasudah mama akan menanyakan pada Tante Tasya dulu! mama Nadine mengambil ponselnya didalam tas tapi sebelum mama Nadine memencet tombol power ponselnya bergetar.
dreett..dreett
"Orang ini benar-benar tahu kalau akan di panggil". ucap mama Nadine tertawa
"Hallo?
"Nadine apa bisa kamu kesini?
"kamu dimana tasya? kebetulan aku juga mau memanggilmu tadi, Revan menanyakan Amanda kenapa dia tidak masuk kerja?!"
"Nadine, Amanda saat ini dia ada bersamaku bisakah kamu kesini sekalian ajak Revan juga"
"ada apa kenapa kamu nampak sedih?" resah Mama Nadine mendengar suara sedih Mama Tasya.
"datang lah aku akn mengirim alamatnya" mama tasya tidak memberikan jawaban apa-apa akan pertanyaan mama Nadine, dia hanya menyuruh nya datang saja kealamat yg sudah dia kirim dan mematikan telpon.
__ADS_1
"Bagaimana ma? tanyanya Revan penasaran
"Tante Tasya cuma menyuruh kita pergi ke alamat ini, ayu kita pergi!
Revan mengangguk dan berjalan mengambil kunci mobil nya.
Setibanya merika di alamat yg di arahkan Mama Tasya merika kebingungan, pasalnya alamat itu mengarahkan merika ke rumah sakit.
Revan dan mama Nadine saling memandang ada banyak pertanyaan dikepala merika masing-masing.
"Ya sudah kita masuk aja nak"
"eeemmm'"
Saat revan sampai di pintu ruangan VIP entah kenapa perasaan Nya tidak menentu ada keresahan yg bergejulak di hatinya.
tok..tok..tok..
"hay.. tasya
"eemm.. Masuklah"
mama Nadine terlebih dahulu masuk dan di iringi Revan dibelakangnya, Revan diam mematung saat melihat siapa yg terbaring di atas ranjang, mulutnya kaku tak bisa berucap apa-apa, mama Nadine menututup mulutnya saking kagetnya.
"Amanda..!! Revan berjalan pelan-pelan matanya tertuju pada Amanda yg terbaring lemah tidak berdaya dan tak sadarkan diri, segala macam alat menempil di setiap bagian tubuh nya
Revan duduk di sebelah Amanda sambil memegang tangan nya "Hay.. apa yang terjadi? Revan menahan diri dia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Mama Nadine dan Mama Tasya yg melihat kesedihan Revan keluar ruangan itu untuk memberikan Revan waktu bersama Amanda, Revan menundukkan kepalanya memegang tangan Amanda di pipinya dia mulai menangis terisak.
__ADS_1
"Ya Tuhan... apa lagi ini, tidak kah cukup 10 tahun aku kehilangan wanita yang sangatlah penting untuk ku, setelah aku bertemu dengannya apa kau ingin mengambil nya kembali? apa ini? bagaimana ini bisa terjadi padanya? baru beberapa hari yg lalu aku bersamanya dan hari ini aku mendapatinya kuma disini!! apakah masih belum cukup kau mengujiku?!" ucap Revan pelan sesenggukan
Revan membelai dengan lembut kepala Amanda sambil menangis terisak dia kembali berucap. "Hay... Sayang bangunlah aku disini, aku janji setelah itu aku tidak akan menyakiti kamu lagi sayang, kumohon jangan tinggalkan aku lagi" pundak Revan bergetar dia merasa jiwanya kembali menghilang matanya menatap kosong ke tempat lain.
Tiba-tiba ada tangan yg membelai kepalanya pelan, Revan yg merasa ada yg menyentuh nya mengangkat kembali kepalanya, Amanda sudah membuka matanya terlihat dia sangat lemah.
"Sayang!! kamu bangun? katakan bagian mana yg sakit? tunggu sebentar aku akan memanggil dokter" saat Revan berdiri ingin berbalik, Amanda memegang tangan nya.
"A'air"
"kau haus?" tanya Revan
Amanda mengerjabkan matanya mengiakan keinginan nya."tunggi sebentar aku akan mengambilnya"
setelah itu revan mengambil air dimeja dia memberi minum Amanda dengan sedutan lalu memencit tombol di atas kepala Amanda untuk panggilan dokter.
dokter datang dan memeriksa keadaan Amanda, sedangkan Revan tetap setia menemani Amanda didalam ruangan sedang kan mama Nadine dan Mama Tasya masih menunggu diluar.
Para perawat mulai melepas alat pernapasan dan beberapa alat yg ada ditangan dan tubuhnya Amanda. "Semuanya Baek-baek saja tuan, istri anda sudah meliwati masa kritis nya, dan luka nya juga sudah mulai mengering tapi ingat untuk jangan terlalu banyak bergerak takutnya luka sobekan di perut anda akan terbuka lagi"
Revan menoleh menatap dokter dia bingung dengan penuturan dokter.
"maksudnya apa dokter? anda mengatakan ada luka sobekan di perut istri saya! apa yg sebenarnya terjadi?!" ucapnya dengan datar dan tanpa rasa bersalah sama sekali karena menyebutkan Amanda istrinya.
"Tuan apa anda tidak tahu apa yg tengah menimpa istri anda?!" tanya Sang Dokter terkejut.
"Saya baru tahu hari ini dengan kondisi istri saya!"
"oohh.. baeklah saya mengerti, sangat wajar jika memiliki suami pengusaha yg sukses, begini tuan istri anda beberapa hari yg lalu di serang seseorang dan di tusuk di bagian perut nya karna ada beberapa luka yg cukup dalam dan istri anda kehilangan banyak darah dia kehilangan kesadaran nya sampai hari ini, tapi syukurlah saat tuan sudah ada disini istri anda sudah bisa mendapatkan kesadarannya kembali, saya baru percaya kalau ikatan cinta itu benar-benar bisa menguatkan dan memiliki ikatan yg mendalam" tutur dokter dengan senyuman
__ADS_1
"Terimakasih dokter" ucap Revan dia begitu geram saat mengetahui bahwa ada yg dengan sengaja ingin mencelakai Amanda bahkan membuatnya mengalami koma, merasa tidak ada yg diperlukan lagi dokter pun keluar ruangan dan bergantian Mama tasya dan mama Nadine yg masuk kedalam ruangan...