
Revan tertidur disamping ranjang Amanda yg saat ini masih tidak sadarkan diri, dia terbangun saat seseorang mengusap punggung nya dengan lembut.
"Mama kenapa masih disini?" Revan menoleh pada Mama Nadine yg ada di sampingnya menatap bingung
"Nak Sebentar lagi Ramon dan temannya akan membawa Amanda keruang operasi merika akan mengambil tindakan"
"Maa... Revan tertunduk lesu pandangan nya begitu kosong
"Sayang kamu harus kuat, ini demi kesembuhan istri kamu jika kamu terus menerus sedih bagaimana nanti kamu akan menguatkan istri dan anak-anak kamu nanti"
"iya mah aku tahu" lirih Revan sambil mengusap pelan pipi Amanda yg masih bengkak akibat pukulan.
"Sudah sayang, kita tidak bisa terus disini kamu juga harus makan sejak semalam kamu belum makan kan?, dan sebelum itu kamu bersihkan diri dulu Revan, Riyan sudah membawa baju ganti kamu, lihat diri kamu!, ini tidak seperti Revan yg di cintai menantu kesayang mama"
"Ma... aku tidak lapar, dan bajuku dimana aku akan mandi dulu"
"Ya kamu mandi dulu, tapi Mama akan menunggu kamu untuk kita makan bersama"
"Tapi ma... sebelum Revan menyelesaikan perkataannya Mama Nadine sudah menutup mulut Revan dengan tangannya "Kamu cerewet sekali sayang, cepat sana mandi".
Setelah beberapa jam berlalu tibalah waktunya untuk Amanda melakukan segala macam tindakan, semua orang telah berkumpul lagi, termasuk Alka dan Alika juga ada disana untuk menghibur Revan sudah beberapa waktu berlalu tapi masih belum ada juga tanda-tanda bahwa Amanda akan keluar dari ruang operasi .
"Sayang aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mohon bertahanlah, kamu orang yang kuat sayang aku tahu kamu tidak akan pernah bisa menyerah begitu saja"
gumam Revan dalam hati nya sambil terus duduk diam tanpa suara.
"papa.. ika mau Mama"
__ADS_1
Revan mengangkat kepalanya, dilihatnya wajah putrinya yang pulus dan menggemaskan entah kenapa saat melihat Alika ada perasaan sakit tak tertahan dan tidak rela rasanya jika dia harus kehilangan Amanda.
"iya sayang nanti kita ketemu Mama yah, Mama kan lagi sakit sayang"
bujuk Revan pada Alika
"Nanti kita jalan-jalan lagi yah papa, makan es krim sama Mama?"
"tentu Sayang, tapi nanti setelah Mama sudah sembuh, baru kita jalan-jalan lagi yah?'' Revan tersenyum melihat tingkah laku putri yang selalu banyak bicara dan itu membantunya sedikit lebih tenang.
"Sayang apa kalian sudah makan?"
"Sudah papa, Nenek sudah memberi kita makan sebelum berangkat kesini" sahut Alka yg duduk di samping Revan dan Alika tentunya dia duduk di pangkuan Revan Alka tak kalah berbida dengan Revan dia juga merasakan hal yg sama seperti Revan dia sangat mengerti dengan apa yg terjadi pada Amanda
di sela-sela pembicaraan mereka, terlihat Ramon sudah keluar bersama salah satu dokter spesialis bedah yg datang khusus dari luar negeri yang menangani Operasi Amanda.
"Bagaimana Ramon apa semuanya baek-baek saja''
"eemmhh.. kita berhasil semuanya sudah berlalu Revan, tapi kita tidak tahu kapan dia bangun karena kamu tahu sendiri dengan keadaan nya yang sangat lemah"
"ya aku mengerti maksud kamu, Terimakasih banyak"
"Kamu tidak perlu berterima kasih, dia adikku sudah tugasku sebagai seorang kakak harus menolong nya"
Setelah pasca operasi nya Benar saja yg dikatan Ramon Amanda tak kunjung sadar, namun itu tidak menyurutkna semangat semua orang untuk menunggunya tetap sadar, dan seiring waktu berlalu tubuh Amanda sudah perlahan mulai pulih tapi dia tak kunjung membuka matanya.
Revan terus menjaga Amanda dirumah sakit, setiap hari dia sendiri yang akan membersihkan tubuh Amanda, bahkan Alka dan Alika juga dia jaga bersamaan, terlihat jelas di wajahnya yang mulai tumbuh bulu-bulu halus badan yg nampak kurus, tapi Revan tak sedikit pun mengeluh atau patah semangat..
__ADS_1
"Revan ini semua berkas yg kamu minta aku bawakan" Riyan berjalan masuk kedalam ruangan dimana Amanda sedang dirawat bersama Kanya
"Eemmhh.. terimakasih Riyan, bagaimana keadaan di perusahaan?''
"kamu tidak perlu memikirkan hal itu, semuanya Baek-baek saja, bagaimnaa apa ada perkembangan?"
"Belum, dia masih betah menutup matanya" Revan merlirik Amanda yg berbaring di tempat tidur
"Bersabarlah, dia sudah meliwati masa kritisnya mungkin sebentar lagi dia akan bangun dan berlari memeluk suaminya yg posesif ini" kekeh Riyan sambil melidik Revan
"Sial!!! Kau akan tahu jika istri mu di dekati orang lain rasanya seperti apa"
"Tidak, istriku setia"
"Apa maksudmu dengan kata-kata kamu itu?"
"Hahahaha Revan sudah kukatan bukan, kau ini Di saat Amanda tidak sadar saja kau seperti ini, aku pikir jika dia sadar nanti dia akan sangat kesulitan menjalani hidupnya yg memiliki suami soper posesif seperti ini"
Tidak akan dia sangat mencintai ku"
"hahahaha pede sekaki kamu"
Riyan tertawa terbahak-bahak
"haiss... sudah Riyan ini di rumah sakit kamu tertawa sepeti itu seperti sedang tidak di rumah sakit saja, kasian orang yg mendengarkan suaramu itu"
"hahahaha Riyan lihat istri kamu, bahkan dia saja tidak ingin mendengar tawamu'' Gelak Revan dalam tawanya Riyan senang melihat Revan bisa tersenyum dan tertawa lepas lagi dia tahu betul bagaimna Revan dia sangat pandai menyimpan perasaan Nya karna itulah dia sengaja mencuba untuk membuatnya tertawa.
__ADS_1