
Setelah acara makan merika bertiga Zidan pamit untuk pergi lebih dulu karna dia masih ada keperluan lain, tidak lupa dia meminta nomor telpon kanya Sebelum dia pergi..
Saat di dalam mobil Kanya dan Riyan Masih saling diam tak bersuara hanya terdengar suara lagu yg ada di dalam mobil
Dreeett.. dreett..
telpon Riyan bergetar, lantas Riyan langsung mengangkat panggilannya
"Hallo.. ada apa?!"
"Riyan apa ada kemajuan?" tanya seseorang yang ada diseberang panggilan
"belum!"
"Kalau begitu kamu kemarilah aku perlu bicara dengan kamu!" perintahnya
"Baeklah aku akan kesana"
Riyan menatap Kanya sebentar dia masih merasa bingung harus berkata apa, setelah perdebatan tadi dia merasa ada kecanggungan antara merika.
"Kanya aku...
"Turunkan saja aku disini aku akan pulang sendiri!" ucap Kanya dia sudah mengerti saat mendengar panggilan pada ponsel Riyan saat ini, dan dia langsung memutung perkataan Riyan.
"tidak, aku akan mengantarmu dulu!"
"Tidak apa-apa, kamu pergi saja aku bisa pulang sendiri Revan sudah menunggu kamu!"
Riyan menepikan mobilnya di pinggir jalan dan setelah itu Kanya turun dan memanggil taksi, Riyan hanya diam melihatnya pergi ada perasaan sedih dihatinya melihat sikap Kanya yg dingin padanya.
"Aakkhhh..!!!
Riyan membanting stir mobilnya dan kembali menjalankan mobilnya menuju kediaman Revan dengan perasaan tak karuan
Di kediaman Revan
Amanda sedang menonton tv sambil merebahkan kepalanya dipaha Revan sebenarnya itu bukan kemauan Amanda tapi Revan lah yg merebahkan kepala Amanda di atas pahanya.
__ADS_1
Revan asik memeriksa email di ponselnya sambil membelai kepala Amanda dengan sebalah tangannya sesekali dia akan melirik wajah Amanda yg cemberut karna ulahnya.
"Revan,, aku tadi ketemu Zidan adiknya Dinda"
tiba-tiba Riyan datang dari belakang, dia tidak tahu kalau disana juga ada Amanda yg sedang merebahkan tubuhnya disofa dengan kepalanya yg di pangku oleh Revan di pahanya
Revan langsung menatap tajam kepada Riyan dia tidak ingin melukai Amanda dengan salah paham menyebut nama Dinda lagi.
"oohh..!! Maaf Presdir saya akan keluar" Riyan merasa canggung Setelah mengetahui bahwa ternyata Amanda juga ada disana.
"Tunggu..kamu disini saja tidak apa-apa, aku akan keatas kamu pasti ada hal penting yg harus di bicarakan dengan Revan"
Revan menatap Amanda dan membelai pipinya lembut, dia tidak ingin Amanda salah paham " tidak apa-apa kamu disini saja aku Hanya meminta Riyan kemari untuk pekerjaan yg ingin ku tugaskan untuknya"
"aku akan ke atas aku juga lupa tadi kak Ramon menelpon ku" tulak Amanda beralasan
"Ya sudah" Revan berjalan menuju ruang kerja nya di ikuti oleh Riyan di belakang nya Amanda hanya menatap sendu punggu Revan yg semakin menjauh darinya.
"Revan apa keputusan ku saat ini benar atau salah?, aku takut jika suatu hari nanti Dindamu itu kembali dan kamu akan berpaling dan meninggalkanku dan kembali padanya aku tahu Revan kamu sangat mencintai nya tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti akulah yg paling berharga, aku tahu Revan di belakang ku kamu masih mencari informasi tentang Nya" ucapnya lirih didalam hati
Didalam ruang kerjanya Revan menatap wajah Riyan dengan tajam dia sangat kesal, dia hanya tidak ingin Amanda merasa tidak nyaman dengan menyebut nama Dinda lagi dihadapan nya.
"KATAKAN!!!"
Revan nampak sangat dingin menatapnya tajam, Riyan yg Melihat itu menelan ludahnya susah payah dia merasa takut jika Revan sudah marah
"Presdir saya tadi bertemu dengan Zidan adiknya nona Dinda bersama dengan Kanya" Saat di Mall tadi
"sedang apa dia ada di kota ini?!" tanya Revan heran
"Dia mengatakan kalau dia akan bekerja, sudah beberapa minggu dia ada disini dan dia ...
"KATAKAN!!!"
"______"
"Kawan bisakah kamu lebih lembut?!" Riyan merasa tidak tahan lagi melihat wajah dingi. Revan yg sudah seperti ingin menerkam nya kapan saja dia memasang wajah memohon nya pada Revan.
__ADS_1
Revan menghembuskan nafasnya kasar dia tersulut emosinya sejak kedatangan Riyan barusan yg tiba-tiba merubah Mut baeknya
"dimana dia akan bekerja?!"
"Astagaaaaa.. aku lupa menanyakan nya!" Riyan menepuk kepalanya dia benar-benar lupa menanyakan dimana Zidan akan bekerja
"kenapa tidak kau bawa saja dia padaku! aku bisa mempekerjakan nya dan memberi dia jabatan yg sesuai untuknya"
"Aku sudah mengatakannya dan menyuruh Zidan untuk mendatangi kamu, tapi dia menulak, dia tidak ingin menikmati kehidupannya dengan mengatas namakan kakaknya karna dia tahu kamu baek padanya karna kamu mencintai kakaknya"
"eemmh.. aku mengerti, kamu pantau saja dia jika dia perlu sesuatu bantu dia"
"Baek.. lalu ada apa kamu memanggilku?
Revan menaruh dagunya dia atas kedua tangannya dan tersenyum "Tebakanku benar Dinda adalah Amanda"
"Kamu serius? Waah selamat kawan!" Riyan berdiri dari sofa dan belari memeluk sahabatnya, Revan hanya tersenyum mendapati dirinya di peluk sahabatnya itu yg nampak sangat bahagia dengan kebahagiaan nya.
"Tunggu.. bagaiman kamu bisa yakin kalau Amanda adalah dinda?!" Riyan melepaskan pelukannya dan menatap bingung dengan Revan yg masih tersenyum.
Revan menceritaka kejadian malam itu dari awal sampai akhir tapi dia menyisihkan sisi cerita dimana dia tidur dan menikah dengan Amanda setelahnya
"heemm. pendapatku juga seperti itu sekarang aku yakin Amanda adalah dinda yg kamu cari selama ini, tapi yg perlu kita cari tahu lagi bagaimana bisa dinda jadi Amanda?
"Kita tidak akan menemukan jawaban kecuali ingatan Amanda kembali" ucap Revan tegas
"Kamu benar, kita sudah mencari informasi selama sepuluh tahun tapi hasilnya tidak ada, dan ternyata orang itu sangat dekat dengan orang tua kamu"
"Kamu juga harus menyelidiki kecelakaan mobilnya!" ucap Revan serius sambil duduk kembali dikursi meja kerjanya
"Kenapa kamu tidak menanyakan langsung saja pada Amanda?!" usul Riyan pada Revan yang langsung menggilingkan kepalanya tanda ke tidak setujuan nya
"aku tidak ingin jika dia memaksakan ingatannya, itu hanya akan mempengaruhi kesehatan Amanda saja nantinya"
"Baeklah aku mengerti.."
Revan dan Riyan terus saja berada di ruang kerjanya sampai merika tidak tahu sudah berapa lama merika di dalam sana membicarakan tentang Dinda yg entah Kenapa bisa jadi Amanda.
__ADS_1