JANJIKU

JANJIKU
Kenapa harus kamu Sayang


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi Ramon masih ada didalam ruang IGD Revan menunggu di luar dengan sangat gelisah, semua orang sudah mulai berdatangan ke rumah sakit berkumpul menunggu dan ingin tahu bagaimana keadaan Amanda saat ini, kedua orang tua Amanda sangat syuk setelah mengetahui Putri merika kalau saat ini sedang kritis dan sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup.


Tidak berbida dengan Mama Nadine dia sangat merasa bersalah atas kejadian itu, karna Om Firman adalah adiknya yg merasa sakit hati di masa lalu.


"Tasya aku benar-benar minta maaf karena...''


Mama Nadine berlutut meminta maaf pada Mama tasya namun sebelum Mama Nadine dapat menyelesaikan perkataannya itu sudah di putung Mama Tasya dan memeluknya.


"Tidak Nadine, kamu jangan meminta maaf ini sudah terjadi, kamu jangan menyalahkan diri kamu ya, kita berdoa saja semoga anak kita bisa meliwati masa kritisnya"


"Eemmhh" Mama Nadine hanya bisa mengangguk lemah dan mulai duduk di bangku di depan ruangan yang saat ini sedang menangani Amanda


Ramon keluar dari ruangan dimana Amanda saat ini ditangani, nampak jelas wajahnya nampak sedih dan tarluka.


"nak bagaimana adikmu?!" Mama tasya langsung berdiri mendekati Ramon

__ADS_1


"Ma ini agak sulit, peluru yg mengenai dada Amanda hampir mengenai hatinya dan itu hanya beberapa centimeter saja jaraknya, di tambah lagi keadaan yang tidak memungkin kan karena kondisi nya yg sudah terluka parah akibat di siksa"


"lalu bagaimana nak?! nampak jelas Mama Tasya sangat terluka dan syuk mendengar penuturan Ramon


''Kita harus menguperasinya, tapi...


"Tapi kenapa nak jangan membuat kami disini bingung?!"


Ramon melirik sebentar ke arah Revan yg sejak tadi juga mendengar kan pembicaraan mereka "Amanda hamil, kami tidak bisa mengambil tindakan lebih lanjut karna jika kami memberikan obat-obatan itu akan membahayakan janin"


"Apa..!!! Lalu bagaimana, kita tidak bisa membiarkan Adikmu begitu saja tanpa mengambil tindakan?!


"Revan kita Tidak ada pilihan, kita harus menggurkan janinnya agar kita dapat menyelamatkan Amanda''


Deggg

__ADS_1


Revan semakin merasa tersudut dunia nya seakan runtuh, Matanya terbuka lebar dan ada buliran bening yg mulai menderas menggenani pipinya, bagimana bisa dia membunuh darah dagingnya sendiri yang bahkan dia belum dapat melihat dunia namun jika dia tidak mengambil keputusan untuk tindakan nyawa Amanda kapan saja bisa terancam dengan peluru yg masih bersarang di dadanya saat ini.


Revan berlutut dilantai dia menangis sejadi-jadinya menyesali apa yg telah terjadi bagimana bisa kabar bahagia itu datang di saat itu pula kebahagiaan itu harus dia hilangkan untuk keselamatan Amanda.


"Revan kamu harus mengambil keputusan, kamu adalah suaminya kalian bisa memiliki anak lagi suatu hari nanti, namun berbida dengan Amanda dia harus cepat di selamatkan" ucap Ramon tak kalah sedihnya dengan semua orang yang ada disana saat mendengarkan kabar yg semakin membuat semua orang terluka


"Lakukan apapun yang terbaek, aku mohon tolong selamatkan istriku Ramon" Revan menangkup kedua belah tangannya sambil berlutut menghadap Ramon


""Baeklah, kita akan melakukannya besok, aku tidak bisa melakukannya sendirian temanku sudah di seperjalanan dan besok dia akan sudah tiba"


"Eemmhh.. aku mengerti, Ramon apa aku boleh melihatnya?" Revan sedikit memohon pada Ramon yg terlihat masih marah padanya


"Baeklah" Ramon menjauh setelah itu dan mulai mengambil ponsel miliknya mencuba menghubungi seseorang lagi.


Revan tanpa berpikir lagi dan langsung masuk kedalam ruangan dimana Amanda terlihat terbaring tidak berdaya dengan segala macam alat yg ada ditubuhnya Revan sendiri tidak mengerti pungsi semua itu namun yg pasti itu bisa membantu Amanda untuk tetap bertahan, perlahan Revan mendekat dan mulai duduk di samping Ranjang tempat Amanda terbaring "Sayang aku benar-benar minta maaf, Aku janji setelah kamu sembuh kita akan memilikinya lagi" Revan menyentuh perut Amanda yg masih rata namun di dalam situ sudah ada benih cinta merika adik dari Alka dan Alika.

__ADS_1


"Seharusnya aku yg ada disini bukan kamu sayang, kenapa kamu melakukannya? kenapa tidak kamu biarkan aku saja yg kena peluru itu? kamu tahu aku selalu melukai perasaanmu, Air mata kamu tiada hentinya karna aku, bahkan dosa terbesarku saat aku mengusirmu di saat kamu sedang hamil anak kita, dan sekarang saat kamu mengandung lagi aku harus mengambil keputusan untuk membuat anak kita pergi untuk selamnya, Aku minta maaf Sayang aku tahu ini hukuman untuk ku dengan keadaan kamu yg seperti ini duniaku seakan hancur, hidupku terasa tidak ada artinya lagi aku mohon sayang tetaplah bertahan untukku dan anak-anak kita"


Semua orang yang ada di luar ruangan menangis saat melihat Revan yg begitu terpukul akan keadaan Amanda, namun apalah daya itu sudah terjadi dan merika tidak tahu apa yg akan terjadi setelahnya


__ADS_2