
Kanya sedang berjalan meliwati lurung kantor menuju ruangan Revan sampai depan pintu
"Kanya kamu harus berani! dia merasa gemetar dan sedikit takut kalau Revan akan marah kalau dia salah bicara
Tok..tok..tok
"Masuk!!
kanya menekan gagang pintu dan masuk kedalam ruangan Revan, dia kaget karna Riyan juga ada disana
"Ada apa kanya!
Gleekkk
Kanya menelan ludahnya susah payah melihat tatapan dingin Revan yg sangat menakutkan menurutnya
"Persdir sa'saya.. lupa seperti nya saya harus pergi" Kanya memutar tubuhnya dan ingin melangkah meninggalkan ruangan Revan
Riyan tersenyum melihat tingkah lakunya yang membuat Riyan menjadi semakin gemas melihat Kanya.
"KATAKAN!! ucap Revan begitu dinginnya hingga membuat kanya langsung berucap.
"Presdir saya pernah bertemu seorang perempuan yg mirip Dinda, namanya Amanda dan dia sedang hamil!" Kanya langsung menutup mulutnya saking kagetnya dia sampai-sampai dia kelepasan mengatakan yg seharusnya bukan urusannya menurut nya
Deeggg
jantung Revan berdetak kencang dia langsung berdiri menuju Kanya dan meremas kedua belah bahu Kanya dengan kencang
menatapnya begitu tajam mengintimidasi
"Dimana kamu bertemu dengannya?!
"Di jalan presdir dia hampir menabrak saya dan untungnya dengan sigap dia memutar setirnya hingga menabrak trutuar jalanan, dia terus muntah-muntah dan kepalanya terluka sampai pingsan jadi saya membawanya kerumah sakit"
"APA!! lalu dimana dia sekarang? Revan mulai panik saat mendengar Amanda mengalami kecelakaan dan terluka sampai pingsan.
"Katakan kanya dimana istri saya sekarang?!! Revan semakin kencang meremas bahu kanya sampai terdengar ringisan kanya karna kesakitan.
__ADS_1
"ISTRI?!! Kanya menatap Riyan dan di jawab anggukan oleh Riyan lalu merika menatap Revan kembali
"Amanda dimana Amanda?! Revan tak menghiraukan pertanyaan Kanya yg saat ini dia peduli kan hanyalah kondisi Amanda.
"Presdir saat saya menemui dokter yg menangani kondisi Amanda dan menjelaskan semuanya, saya kembali lagi keruang UGD untuk menemuinya, saat itu juga dia sudah tidak ada lg di ruangan itu dan pergi meninggalkan rumah sakit dengan kondisi masih lemah Presdir hingga saat ini saya tidak pernah lagi tahu dan bertemu dengan nya"
"Presdir lepaska Kanya, anda menyakitinya"
Riyan mendekat dan memperingatkan Revan, dia tersadar dan melepaskan pegangannya perlahan-lahan
"Bagaimana kondisi nya saat dokter memeriksanya?!
"Dokter mengatakan kalau dia tidak terluka parah hanya kepalanya saja yg terluka, dan muntah pingsan itu di sebabkan bawaan janin yg dia kandung, dia terlalu lemah karna kekurangan asupan gizi dan sepertinya dia kehilangan banyak berat badan karna terlalu Stris"
"janin? kandungan? a'apa maksud kamu Amanda hamil?!" Revan nampak begitu syuk saat mendengar penuturan Kanya
"Iya Presdir, dokter sudah melakukan berbagai tes dan memeriksanya, pasti hasilnya akurat"
"Sudah berapa lama? air mata Revan mulai menitis saat dia mengetahui kalau Amanda sedang hamil saat ini
"sudah memasuki bulan ke3 Presdir, Tapi saya khawatir presdir karna kondisinya saat itu tidak cukup baek menurut saya, dia seperti tidak memiliki semangat untuk menjalani hidup dan dia juga masih belum tahu kalau saat ini dia sedang hamil"
"Kanya keluarlah!" Riyan mendekati kanya mengusap bahunya lembut dan berbisik agar dia cepat meninggalkan ruang kerja Revan
"Riyan aku harus mencari istri ku, aku tidak peduli apa yg terjadi aku harus menemukan nya Riyan!!" Bentak Revan yg benar-benar kacau saat ini.
"Bukan kah kamu sudah membuat keputusan ingin meninggalkan nya? Kamu tidak bisa seperti ini Revan kamu seolah-olah sedang mempermainkan dirinya"
"Aku tidak peduli!!"
"Lalu bagaimana dengan Om Firman yg mengincar nyawanya?
"Aku tidak peduli lagi dengan Firman sialan itu!!, dia sudah pernah menghancurkan hidup wanita yang aku cintai, dan mulai saat ini aku tidak akan membiarkan nya lagi, Anakku dan istri ku membutuhkanku Riyan!! Revan berlalu pergi meninggalkan Riyan yg masih berdiri melihat punggung Revan yg semakin menjauh darinya.
"Revan aku masih ingat saat hari kamu datang ke Apartemen ku" ucapnya pelan
Flashback on
__ADS_1
Hari dimana om Firman menemui Revan dia menjadi sangat kacau setelah kepergian Om Firman dia terus mengurung diri di dalam ruangan kerjanya bahkan dengan Amanda saja dia seakan tidak peduli
Setelah kepergian Amanda pulang dari kantor Revan masih diam dikursi meja kerjanya nampak dia berpikir sangat keras, bahkan dia sudah menghabiskan beberapa bungkus rokoknya sampai jam menunjukkan pukul 10 malam dia meninggalkan perusahaan dan menuju tempat tinggal Riyan.
"Riyan untuk saat ini aku akan tinggal di Apartemen milikmu!
"Hay.. kau punya rumah sendiri dan itu sangat besar bahkan jika kamu menampung beberapa masyarakat itu akan tetap cukup untuk menampungnya, kenapa kamu memilih Apartemen milik ku yg kecil!
"Aku akan membelinya!!
"ooohh tidak kawan terimakasih aku tidak perlu uang milikmu, cukup kau tinggal disini sudah cukup bagiku! kenapa kamu tiba-tiba ingin tinggal disini?
"Aku tidak ingin bertemu dengan nya!
"Maksud kamu Amanda? bukankah menyenangkan bisa tinggal bersama wanita cantik bertubuh sexi"
"Apa maksudmu?!! Revan menatap tajam pada Riyan, Riyan yg merasa tatapan Revan yg seolah-olah ingin membunuhnya langsung tersenyum masam.
"Aku hanya bercanda kawan, ayu katakan ada apa denganmu?
"Om Firman datang keperusahaan dan dia menceritakan semua yg telah dia lakukan padaku bahkan dia juga mengakui kalau dialah yg sudah mencelakai Dinda dia datang untuk memberiku peringatan untuk berhati-hati karna cepat atau lambat dia akan menjalankan rencana nya"
"Bukankah itu sudah biasa? dia selalu datang memberi peringatan bukan lalu apa yg kamu khawatirkan?
"Amanda adalah Dinda, dan Om Firman sudah melihat wajahnya aku tidak ingin dia melukai wanita yang kucintai lagi, aku harus menjauhinya Riyan bila perlu aku harus menceraikan nya!
"Apa!! menceraikan nya? maksud kamu kamu sudah menikahi Amanda?
"eemmh dan mulai hari ini aku tidak akan menemuinya lagi atau pun menghubunginya setelah aku siap, aku akan menemuinya dan menyerahkan surat perceraian untuk dia tandatangani dan kamu jangan pernah memberikan informasi dimana aku berada!
"eemmh.. aku mengerti Revan tapi tidakkah ini terlalu terburu-buru? Kamu tidak pernah mengambil keputusan secepat ini, aku tidak ingin suatu hari kamu menyesalinya dia orang yg sangat berharga bagi kamu"
"aku sudah memutuskan nya dan ini lah pilihan ku mungkin dengan perpisahan keselamatan nya akan lebih terjamin"
"baeklah ini sudah di tentukan dan ingat kamu harus kuat kawan"
"Eemmh!!
__ADS_1
Flashback off