JANJIKU

JANJIKU
Aku merindukanmu


__ADS_3

Cahaya terang menerpa, hingga silaunya membuat mata seakan tidak bisa membukanya dengan sempurna, terlihat seperti seseorang yg sedang memanggil di setiap waktu namun sangat sulit menggapai, itu terasa sangat jauh saat sudah mulai terasa dekat entah kenapa bayangan itu menghilang lagi dan tiba-tiba cahaya terang yg selalu terasa jauh, mulai bisa mendekat saat perjuangan dan panggilan itu terus datang seperti semangat yg tidak pernah guyah.


dia membuka matanya seperti orang yg terkejut dengan terbuka lebar, dilihatnya sekeliling ruangan nampak putih, ada bunyi-bunyi benda yg ada di sampingnya dan beberapa alat yg ada di tubuh tangan dan hidung yg tertutup alat bantu pernafasan dia nampak bingung nampak mencari-cari sesuatu


Amanda duduk perlahan-lahan dengan susah payah, mulai melepas segala macam peralatan di tubuhnya dia menoleh ke arah pintu dan mulai mengulurkar kakinya ingin berjalan, namun saat ingin berjalan karna kakinya yang lemah dia langsung terjatuh kelantai.


"Aaahh" Amanda memekik pelan, suaranya nampak belum bisa ia keluarkan secara sempurna.


Amanda mulai bangkit lagi dan mencuba bangkit perlahan dan duduk di ranjang tempat dia dirawat, dan terus menatap kesetiap arah, dilihatnya tangan dan badannya dari pantulan kaca, terlihat jelas badannya yang lemah nampak kurus namun seperti terlihat terawat dan bersih.


Kreeekk


Seseorang masuk kedalam ruangan dimana Amanda di rawat, dia mengangkat kepalanya melihat siapa yg datang.


"Kamu siapa"

__ADS_1


"Nona anda sudah bangun" orang itu terkejut saat melihat Amanda yg sudah duduk di ranjang tempat dia dirawat


"eemmh"


"Nona kenapa anda melepas semua alat yg ada di tubuh anda? Kita masih harus melakukan pemeriksaan dulu, tunggu di sini saya akan memanggil dokter dan keluarga anda agar merika tahu kalau anda sudah siuman''


"Suster tunggu"


"iya ada apa nona?"


"kamu bisa memanggil dokter, tapi untuk keluarga saya kamu tidak perlu memberi tahu merika biar saya sendiri yg akan memberi merika kejutan"sahut Amanda dengan suara pelan karena dia masih merasa lemah


"lama? Amanda nampak bingung, tidak mengerti maksud dari perkataan perawat itu


"Iya nona, Anda sudah hampir enam bulan mengalami kuma pasca operasi, namun saya sangat salut, anda beruntung memiliki keluarga yang sangat peduli, dan terutama suami anda, dia tidak pernah membiarkan orang lain yang merawat anda, kecuali untuk pemeriksaan"

__ADS_1


"Benarkah?" Amanda tersenyum lembut saat mendengar penuturan perawat paruh baya yg ada di depannya dia mulai mengingat perihal apa yg terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran nya.


"Iya itu benar, walaupun kalian sudah memiliki dua orang anak tapi dia tetap menjaga dan perhatian terhadap anda, nampak jelas kasih sayangnya kepada anda dan anak-anaknya yg sangat tulus Saya kagum dengan hubungan kalian"


" Terimakasih suster" Amanda tidak menyangka kalau Revan akan benar-benar terus merawatnya yg sedang kuma bersamaan dengan dua anaknya yg masih kecil.


"Kalau begitu saya pamit, ingin memanggil dokter dulu nona, anda istirahat saja dulu"


"Eemmh" Sahut Amanda sambil menganggukkan kepalanya pelan dan perawat itu pun sudah berjalan menuju pintu keluar meninggalkan ruangan Amanda.


Revan berada didalam mobilnya menuju rumah sakit dimana Amanda sedang di rawat, dia baru saja mengantar Alka dan Alika pulang kerumah, disana merika di temani Mama Tasya dan Nadine waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sudah hampir tiba Revan di rumah sakit, dia teringat akan istrinya yang takkunjung sadar juga, dia juga tidak habis pikir dari semua pemeriksaan menunjukkan kondisi Amanda sudah membaik dan stabil namun entah kenapa istrinya itu betah sekali menutup matanya.


Sesampainya di rumah sakit Revan yg sudah mulai merasa lelah langsung masuk ke ruangan dimana Amanda di rawat dan merebahkan diri di samping Amanda dan memeluknya erat dia menangis dalam diamnya dan mulai membisikkan kata-kata di samping telinga Amanda.


"Sayang aku tidak tahu kapan kamu akan bangun dan menatapku lagi dengan senyuman indahmu itu? Aku bertanya-tanya apa kah kamu juga merindukan aku? Apa kamu juga tahu kami disini sangat merindukan kamu Sayang, rasanya duniaku kosong saat hari-hari yg kulalui tanpa ada kamu disisiku Sayang, aku berpura-pura kuat saat anak-anak kita mulai merasa sedih karna kamu tak kunjung bangun dan menguatkan merika, cepatlah bangun Sayang"

__ADS_1


Amanda yg pura-pura masih koma menitikkan air matanya yang mengalir begitu saja dia hanya diam tidak membuka matanya dia tidak ingin membuang kesempatan mendengar penuturan Revan tentang keluh kesahnya, peralatannya pun sudah terpasang lagi sewaktu dokter melakukan pemeriksaan dokter mengatakan bahwa Amanda harus menggunakan itu untuk pemulihan karna dia masihi lemah, dan itu berhasil membuat Revan mengira dia masih belum sadar.


Hingga tanpa disadari Amanda yg ingin memberi kejutan pada Revan tertidur pulas di pelukan Revan yg sudah mulai terlelap dalam tangisnya


__ADS_2