
setelah kepergian mamanya, Revan menelpon Riyan memerintahkan nya untuk menyiapkan segala keperluan nya dan membawa dokumen pekerjaannya ke rumah sakit
Tot..tok.tok.
"Masuk!
Riyan berjalan dan melihat Revan sedang berdiri disisi Ranjang menghadap keluar jendila. "Presdir?
"Riyan kita sedang di luar kantor! mendengar penuturan Revan, Riyan mengerti dan tersenyum dan tidak lagi bersikap Formal.
"Revan ini semua yg kamu butuhkan dan ini leptopku,.. Riyan memberikan semua pesanan Revan dan menaruhnya diatas meja.
"Terimakasih.. dan riyan aku perlu bantuan kamu!"
"Katakan lah?
"Marisa mencuba membunuh Amanda" dengus Revan membuang nafasnya lemah
Riyan mengangkat sebelah alisnya bingung pasalnya merika tidak saling mengenal mengapa Marisa ingin membunuhnya
"maksud kamu Marisa resefsionis centil itu?
"eeemmmh!!
"pasti ini karna kamu kan?
"aku juga tidak tahu yg pasti asal perselisihan merika dan pertama kali bertemu itu di perusahaan" Riyan menganggukan kepalanya mengerti dan menatap ka atas ranjang Amanda.
"Waaaaaah.. sekarang aku mengerti kenapa kamu tidak pernah tertarik dengan wanita manapun" ucap Riyan Setelah melihat Amanda yg terlelap tidur, Revanpun tersenyum setelah mendengar penuturan Riyan Sahabatnya itu.
"Andai saja aku yg pertama bertemu dengan nya pasti aku akan menyembunyikan nya dari mu!" ucap Riyan mengguda Revan
"Sialan kau...?!!, sekali lagi kau berani memandanginya akan ku cungkil matamu itu! ucap Revan kesal.. Riyan duduk di sofa dan tertawa terbahak-bahak dia berhasil membuat Revan cemburu.
"Carilah pasangan yg tepat untukmu, usiamu juga sudah matang untuk menikah"
__ADS_1
tutur Revan pada Riyan, yg membuat Riyan membolatkan matanya sempurna.
"hahahaha.. apa sekarang kau mencoba untuk membuat ku membuka hati?
tenanglah aku juga memiliki pujaan hati ku sendiri kamu tidak perlu reput memikirkan aku"
Revan bingung dengan perkataan Riyan apa maksudnya dia sudah punya kekasih?
"seperti nya kamu merahasiakan sesuatu dariku?
"tidak juga aku cuma asal bicara,"
merika pun tersenyum dan bercanda gurau kadang-kadang tertawa dan kadang juga tersenyum..
Keadaan Amanda berangsur angsur membaik sudah beberapa minggu Amanda dirawat bukan berarti Amanda masih tidak bisa bergerak atau lemah, hanya saja Revan tidak memberikan ijin Amanda keluar rumah sakit sebelum dia benar-benar dinyatakan sehat dan selama itu pula Revan tidak masuk perusahaan karna menjaga Amanda.
Tepatnya hari ini adalah kepulangan Amanda dari rumah sakit, Revan meminta ijin kepada kedua orang tua Amanda agar Amanda tinggal bersama dengannya, karna menurut Revan akan lebih aman jika Amanda bersama dengan nya, jarak pulang Antara rumah orangtuanya lumayan jauh sedangkan rumah Revan cukup dekat dengan kantor nya.
kedua orangtuanya Amanda juga memberikan ijin, karna jika Amanda hidup bersama dalam satu atap yg sama dengan Revan, kemungkinan besar rencana merika berhasil.
Sesampainya Amanda dirumah Revan dia sedikit takjub melihat rumah Revan yg sangat besar sedangkan Revan hanya tinggal sendiri dirumahnya.
"emmh..sangat indah.. sahutnya kagum
"ayu kita masuk? Revan membawa Amanda masuk kedalam rumahnya sambil menbawa koper milik Amanda
"Rumah kamu sangat besar?!"
"Eemmm.. kamu benar"
"apa kamu mendesain nya sendiri?
"hhhmmm...
"Selira yg bagus, kau membuatnya dengan pemikiran sangat matang"
__ADS_1
"Aku membuat ini untuk calun istri dan anak-anak ku kelak" senyuman Revan terlihat sangat senang dengan perkataan nya.
"Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istri kamu nanti Revan" gumamnya dalam hati Amanda sedih.
Amanda sendiri tidak tahu kalau wanita yg dimaksudkan Revan adalah dirinya.
"Manda ini adalah kamar kamu, disebalah sana kamarku" Revan menunjuk kamar yg ada di sebelah kamar Amanda
"Jika kamu perlu sesuatu panggil saja aku"
"Eemmh.. terimakasih"
"Kamu tidak perlu berterima kasih manda, ini juga rumahmu masuklah" Revan mengusap lembut kepala Amanda dan berlalu pergi meninggalkan kamar yg ditempati Amanda.
Revan masuk kedalam ruang kerjanya dan memeriksa beberapa dukumennya
Waktu sudah menunjukkan pukul 06 sore amanda turun kelantai bawah dan nencari dapur, dia merasa lapar.
saat amanda membuka kulkas tidak ada makanan apa-apa disana yg ada hanya air mineral dan bersoda saja.
Amanda naek lagi kelantai atas dan nencari Revan saat Revan Keluar ruang kerjanya dia kaget ada Amanda di depan pintu kamarnya.
"Maaf aku dari tadi nyari kamu"
"ada apa? apa kamu perlu sesuatu?
"Revan tadi aku kedapur dan tidak ada bahan atau makanan apapun, aku sangat lapar?
"Astaga.. Revan menepuk jidadnya sendiri dia benar-benar lupa kalau sekarang dia tidak tinggal sendiri lagi dirumah"
"kita makan diluar saja kalau begitu, aku lupa kalau bahan-bahan dirumah sudah habis sayang, sekalian kita belanja nanti"
"eemmh..
""Revan.. andai saja aku adalah yang pertama untuk mu, aku akan sangat senang, aku sangat tahu dibalik kasih sayang yg kau berikan itu hanyalah sebuah kebohongan bagiku, aku tahu hatimu masih untuknya, aku harus menjaga perasaan ku, aku tidak boleh terbawa perasaan karna perhatian dan kebaikan nya'' gumam Amanda dalam hati.
__ADS_1
Hay para Readers tercinta gimana ceritanya??
jangan lupa like & komentar yah agar aku lebih termotivasi terimakasih karna sudah mau baca novel ku. dan ya jangan lupa juga mampir di Novel ku yang lainnya tentunya tidak kalah seru dengan perjalanan cintanya (My Love Kiara/Cinta yang tertunda)