JANJIKU

JANJIKU
Menyusun strategi


__ADS_3

Amanda mulai mengerjabkan matanya dan perlahan mulai menbuka matanya Amanda melihat sekeliling nya dan itu berbeda lagi dengan tempat sebelumnya disekap dan ruangan itu nampak lebih kecil dan tertutup rapat hanya ada celah udara yg terlihat di ketinggian dinding yg menampakkan cahaya yg dipikir Amanda itu adalah disiang hari.


"Aauuhh!" Amanda merintih kesakitan lagi saat mulai menggerakkan badannya yg sudah tidak terikat


"Aku harus pergi dari sini, tapi bagaimana kakiku tidak bisa berjalan" Amanda mulai mendudukkan badannya dengan perlahan dilihatnya ada kaca tepat di depannya.


"haaa seperti hantu, ini tidak seperti diriku lagi" ucap Amanda pelan merasa miris melihat penampilan nya yg sangat berbida dari sebelumnya dan badan yg penuh memar dan darah yg sudah mulai berbau amis mengering ditubuhnya.


Amanda teringat Revan dan anak-anak nya dan terlihat lagi wajah sedihnya, sertelahnya Amanda menguatkan diri agar semangat nya kembali lagi '' Aku harap kamu masih belum menyadari kalau aku tidak ada Revan, dan semoga kalian baek-baek saja, aku akan secepatnya mencari jalan keluar dari tempat ini untuk kembali pulang"


Terdengar suara langkah kaki mendekat dan dengan kencang mebuka pintu ruangan dimana Amanda di sekap "Makanlah, kamu masih beruntung tuan kami masih memberimu makan karna dia tidak ingin cepat membunuh kamu sekarang"


Amanda hanya melutut menatap wajah salah satu dari bawah an Om Firman yg memberikannya makan, Setelahnya dia kembali pergi dan tidak lupa mengunci Ruangan itu lagi.


"Aku harus makan, jika aku ingin pergi dari tempat ini aku harus mengumpulkan inergiku" Amanda mendekati makanan yang diberikan salah satu anak buah Om Firman dengan menggeserkan badannya perlahan karna kakinya yg terluka tidak bisa dia gerakkan.


Riyan sudah menerima kabar dari salah satu bawahannya, bahwa merika menemukan tempat dimana Amanda di sekap, dan ternyata benar tebakan Revan itu adalah perbuatan Om Firman yg menculik Amanda tapi saat ini Riyan masih tidak bisa langsung menolong Amanda karna kondisi Revan yg masih belum sadar sampai sore hari, bahka Riyan sudah membawa Revan kerumah sakit dan merawat nya disana.


"Revan cepat lah bangun, jika kamu tetap tidak bangun bagaimana dengan anak-anak dan istrimu merika membutuhkan kamu" Bisik Riyan pelan di telinga Revan


Kanya juga ada di tempat itu menemani Riyan menjaga Revan, dia juga tidak kalah khawatir dengan keadaan Amanda dan Revan yg sedang dalam masalah serius, Riyan juga menceritakan segalanya pada Kanya.


"Riyan bagaimana ini? jika kita terus mengulur waktu aku takut terjadi hal buruk pada Amanda"

__ADS_1


"Kita harus menunggu Revan bangun sebentar lagi Kanya, kita tidak bisa gegabah, Om Firman sudah merencanakan ini sebelum Amanda menghilang saat Revan mengusir nya dulu, aku takut jika kita terburu-buru malah akan mengancam nyawa Amanda"


"kamu benar, Tapi aku tidak yakin jika Amanda saat ini Baek-baek saja pasalnya merika sudah menculiknya beberapa hari yang lalu dan tidak ada kabar sama sekali, merika nenutupi ini rapat-rapat seolah tidak terjadi apapun"


"kita hanya bisa berdo'a semoga saja dia baek-baek saja'' Riyan mengusap pelan pipi Kanya


Kanya mengangguk pelan tapi Air matanya terus berjatuhan dia juga merasa takut akan kehilangan sahabatnya itu lagi.


"Dimana aku?" Revan mulai sadar di tempat tidur nya dan melihat sekeliling Ruangan


Riyan yg mendengar suara Revan yg sudah mulai tersadar mendekati Ranjang tempat Revan berbaring.


"Kita dirumah sakit, kamu jatuh pingsan tadi pagi Revan" Revan mengingat ingat apa yg terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran nya


"jam berapa sekarang? Bagaimana apa ada perkembangan?!" Revan langsung duduk dan menatap ke arah Riyan yg masih menatapnya.


"Apa Sore?!! Revan mulai merasa marah lagi pada diri nya sendiri bagimana bisa dia tidak sadarkan diri begitu lama,


"Aku tidak peduli kumpulkan semua anak buah kita dan kita harus pergi sekarang juga, aku tidak ingin menunda ini lagi istriku dalam bahaya" Revan melepaskan selang infus yang ada di tangannya dan langsung turun dari ranjang perawatan.


"Tunggu Revan'' Riyan mencegah Revan yg sudah berjalan menuju pintu keluar dari ruangan perawatannya


" Apa lagi?!! aku tidak ingin membuang waktu lagi Riyan istri ku dalam bahaya!!"

__ADS_1


"Revan kita tidak bisa gegabah, kita harus menyusun strategi, Amanda ada di tangan merika jika kita gegabah aku takut itu hanya akan membahayakan nyawanya"


Revan terdiam sejenak yg dikatakan Riyan memang benar, dia ingin menyelamatkan istri nya, bukan malah membuat nya semakin ada dalam kondisi bahaya.


"Riyan apa kamu sudah memiliki Rencana?"


"Aku punya tapi aku harap kamu tidak gegabah"


"Apa itu?!


Riyan menjelaskan tentang bagaimana cara Merika akan menyelamatkan Amanda dari tempat dimana dia saat ini sedang di sekap, dan kali ini Riyan juga akan meminta kerja sama dengan polisi dengan cara rahasia karna jika semuanya terbungkar ini akan benar-benar membuat Amanda dalam bahaya, Revan menyetujui Rencana yg sudah di susun Riyan dan tinggal menunggu waktu yg tepat hingga merika akan bergerak menuju tempat penyekapan.


"Aku harap Rencana yg kamu susun saat ini akan berjalan dengan lancar Riyan, aku tidak dapat berpikir dengan jernih, aku seperti orang bodoh saat ini, Terimakasih jika bukan kamu siapa lagi yg akan menolong ku" Sesal Revan tertunduk sedih


"Kamu tidak perlu berterima kasih pada ku, kamu cukup menaikkan gajihku" kekeh Riyan di sela-sela pembicaraan nya dan melirik Kanya yg masih berada di ruangan itu


"Sialan kau!! Kau memerasku gajihmu dan istrimu setara wakil detektor, bahkan bonus yang kamu dapatkan melebihi gajihmu" Revan juga ikut terkekeh geli melihat wajah Riyan yg mengatakan itu dengan wajah pulusnya


"Aku tidak sedang memeras, itu namanya negosiasi"


" Tidak tahu malu, Apa kamu tidak malu mengatakan itu di depan istrimu?!"


"Tidak, dia suka uang mana mungkin dia akan menulaknya, iyakan Sayang?" Riyan menatap Kanya dengan tatapan bangga

__ADS_1


"Kau ini''Kanya kesal dengan Riyan dan pergi berlalu meninggalkan Ruangan Revan dimana dia sedang dirawat.


"Hahahaha" Riyan dan Revan tertawa terbahak-bahak Riyan sengaja mencuba menghibur Revan agar dia tidak terlalu larut dalam kesedihannya dan sebentar lagi merika juga akan berangkat menuju tempat dimana Amanda di sekap.


__ADS_2