Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 12


__ADS_3

" Tuan mengapa tuan membantu saya ? apakah tuan juga mengenal maduku ?" tanya Sela saat kembali ke perusahaan.


" Madu mu ? " tanya Alan.


" Iya tuan Dini adalah maduku, karena ia telah menikah dengan suami saya. " jawab Sela kemudian ia menarik nafasnya.


" Maafkan saya, Saya tidak bermaksud menggores luka di hatimu. " ucap Alan.


" Tidak apa-apa tuan, lalu bagaimana tuan bisa mengenal Dini ? " tanya Sela.


" Dini adalah mantan sekretaris ku, ia telah saya pecat karena terbukti menggelapkan uang perusahaan yang ia bawa kabur bersama lelaki yang sudah beristri. "


" Selain itu juga Dini adalah penyebab kematian istri saya. " Alan men jeda ucapannya dan menarik nafas dalam-dalam.


" Dulu saya tidak percaya ketika keluarga istri saya mengatakan bahwa Dini adalah penyebab kematian istri saya dan malah mengangkat Dini menjadi Sekertaris saya. "


" Saat itu saya dibutakan dengan sifat baiknya yang ternyata hanyalah kedok untuk menutupi kejahatannya. "


" Bahkan rumah yang sekarang ia tempati itu adalah rumah saya dan istri. Karena saya tidak bisa melupakan kenangan bersama istri saya maka rumah itu di tempati oleh Dini atas rekayasanya dalam memalsukan surat kuasa dari istri saya." jelas Alan.


" Jika Dini mengincar harta lalu apa yang ia dapatkan dari suami saya ? Suami saya bahkan tidak mampu membayar uang kontrakan. " ucap Sela.


" Jika suamimu adalah lelaki yang sekarang hidup bersama Dini, artinya ia tidak miskin seperti penjelasan mu. Soalnya saya tau ia adalah salah satu orang kepercayaan dari perusahan yang besar. "


" Dia adalah perwakilan dari perusahaannya yang menangani proyek kerjasama dengan perusahaan ini, itulah sebabnya Dini semakin dekat dengan lelaki itu, dan mereka bekerja sama juga dalam mengelapkan uang perusahaan dari masing-masing perusahaan yang mereka wakili. " jelas Alan.


" Jadi artinya selama ini mas Dani memang sengaja tidak perduli dengan kami ?" ucap Sela sambil mencoba mencerna ucapan Alan.


" Untuk hal itu saya kurang tau pasti yang jelas Dini dan juga lelaki itu bukanlah orang yang baik dan tidak pantas menerima simpati dari kita. "


" Dan saya harap meskipun sekarang kamu sudah mengetahui kebenarannya jangan sampai berpengaruh terhadap kinerja kamu. "


" Jadikan semua ini sebagai cambuk yang akan memacu dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan meskipun tanpa Dia. " ucap Alan sambil menatap wajah Sela yang terlihat murung.

__ADS_1


" Baik tuan terimakasih." ucap Sela pelan.


" Jangan jadikan semua ini sebagai beban, itu akan membuat kecantikan wajahmu berkurang." batin Alan.


Setelah sampai mereka berdua melanjutkannya pekerjaan masing-masing dengan diam seribu bahasa.


" Jika kamu diam duniaku menjadi sepi." batin Alan sambil memperhatikan gerak gerik Sela.


" Apakah pria brengsek itu begitu berarti dalam hidupmu ? Sehingga engkau bermuram durja saat mengetahui kenyataan ini ? " tanya Alan dalam hati.


" Tuan saya pamit pulang dulu. " ucap Sela menghancurkan lamunan Alan.


Alan menatap arloji ditangannya kemudian mengangguk. Alan menatap punggung Sela hingga tidak kelihatan lagi bayangannya.


" Sela adakah kesempatan untukku ? membasuh luka hatimu dan mewarnai kehidupanmu dan juga anakmu ?" batin Alan.


" Ah kenapa aku terus kepikiran hal itu ? "


" Sela pesona mu mengalihkan duniaku. " batin Alan. Setelah itu ia bersiap untuk pulang karena ia merasa begitu lelah.


" Sela ada apa denganmu ? " tanya Desi saat melihat Sela yang datang dengan wajah cemberut.


" Desi ternyata selama ini mas Dani memang tidak menginginkan kami. " ucap Sela dengan berurai air mata.


" Sela maksudnya bagaimana ? coba jelaskan. " ucap Desi sambil menuntun Sela untuk segera duduk di sofa. Sela menceritakan semua penjelasan dari Alan tentang Dani dan juga Dini.


Sela menangis menahan rasa perih di hatinya, ia mengira Dani berubah karena pengaruh Dini, sehingga ia bisa melupakan dirinya dan juga Zaqi.


" Yang sabar ya yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja, dan yakinlah bahwa akan ada hikmahnya. "


" Jika Dani bisa mencukupi kebutuhan keluarga kalian, pasti kita tidak akan sampai di titik ini. Mungkin kamu masih tetap Sela yang dulu, tidak akan ada Sela sang pemburu rupiah. " ucap Desi sambil memeluk tubuh sahabatnya.


Setelah puas menumpahkan segala perasaannya, Sela bangkit kemudian ia memulai untuk mencoba menciptakan varian baru kuenya.

__ADS_1


Desi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia kembali untuk melakukan pekerjaannya.


Sementara Sela menumpahkan semua perasaannya, sesekali ia membanting adonan dengan begitu kuat, dan memotong dengan kasar. Hingga membuatnya kelelahan.


Sela mencoba untuk istirahat sebentar sambil membuang nafasnya dengan kasar, Sela berfikir akan membuat kue seperti apa.


Setelah sedikit lega Sela mulai menambahkan beberapa bumbu pada adonan kuenya. Ia membentuk adonan dan memanggangnya. Setelah itu ia menambahkan beberapa toping untuk menghiasi kuenya agar lebih cantik.


Sela memandang kue tersebut kemudian ia mencicipinya. Setelah itu ia tersenyum kemudian ia membuat secangkir teh.


Sela duduk di ruang kerjanya sambil melamun. Pikiran melayang membayangkan betapa kejamnya Dani. Hingga selama ini tega membiarkan dirinya dan Zaqi harus hidup menderita padahal ia telah sukses.


Tetapi kesuksesannya malah ia berikan kepada orang lain. Sela menata perasaannya sendiri. Mencoba untuk membuang semua perasaan yang masih ia simpan untuk Dani.


" Aku harus bangkit aku tidak boleh menyerah dengan keadaan, aku harus bisa demi Zaqi " ucap Sela dalam hatinya.


" Sela apakah kamu melamun ? sampai-sampai tidak menjawab panggilan ku ? " ucap Desi sambil menyentuh tangan sahabatnya.


" I Iya Des ada apa ? " jawab Sela dengan gugup.


" Apakah kamu siap untuk menemui kontaktor yang akan membantu kita untuk mendirikan perusahaan ? "


" Jika kamu masih belum bisa menata hati, biarlah aku yang akan mengurus semuanya. "


" Tapi aku tidak mau melihatmu terpuruk seperti sekarang ini. Bukankah Dani memang tidak perduli dengan kalian selama ini ? "


" Lalu untuk apa kamu menangisi pria brengsek seperti Dani." ucap Desi sambil menatap wajah Sela yang sembab karena menangis.


" Terimakasih ya Des aku tidak tau bagaimana jadinya jika tidak ada kamu, aku minta maaf tidak bisa menemanimu, saat ini pikiranku sangat kacau. " jawab Sela.


" Baiklah kalau begitu pulanglah, pasti Zaqi dan juga ibumu sudah menunggu. Tapi jangan pergi menemui Zaqi dalam keadaan yang sangat menyedihkan seperti sekarang ini. " ucap Desi.


" Terimakasih aku akan berada di sini dulu untuk menenangkan pikiran dulu, baru kemudian pulang." jawab Sela.

__ADS_1


" Oke kalau begitu aku akan berangkat dahulu, aku sudah memesan taksi, kamu tau sendiri Bagaimana macetnya jalan di kota ini." ucap Desi.


Kemudian mereka berpelukan untuk saling memberi semangat. Setelah itu Desi meninggalkan Sela sendiri menikmati kue buatannya dan juga perasaannya.


__ADS_2