
Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang mulai menerobos gorden yang menutupi jendela dan menyapa dua anak manusia yang enggan untuk membuka matanya seakan takut terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan jika harus membuka kedua matanya.
Sela perlahan membuka matanya dan menatap wajah tampan yang berada tepat disampingnya. Hembusan nafasnya yang teratur dapat ia rasakan, tangan kekarnya memeluk tubuh mungilnya dengan erat seakan takut kehilangan.
Dengan pelan Sela memindahkan tangan tersebut dan perlahan-lahan ia turun ingin pergi ke toilet, namun dengan sigap di tahan oleh Alan.
" Sayang jangan pergi " ucap Alan dengan suara khas bangun tidur.
" Alan aku ingin membersihkan diri, ini sudah pagi dan aku ingin melihat keadaan Zaqi " jawab Sela dengan lembut.
" Sebentar lagi, tetaplah di sampingku karena aku merindukan mu " ucap Alan dengan perlahan merebahkan tubuh Sela di sampingnya dan dengan erat kembali memeluk tubuh wanitanya dengan posesif.
" Alan ... " ucap Sela namun langsung di bungkam dengan bibir Alan. Kedua saling membalas ciuman dan saling menuntut.
Setelah puas Alan melepaskan ciumannya dan tersenyum menatap wajah cantik yang ada dihadapannya.
" jangan meninggalkan aku tanpa permisi " ucap Alan dengan senyum menggoda.
" Alan aku hanya ingin ke kamar mandi, siapa yang akan meninggalkan mu ? " jawab Sela sambil geleng-geleng kepala. Dan perlahan meninggalkan Alan yang masih tersenyum-senyum menatapnya.
Setelah keduanya selesai dengan urusan kamar mandi, keduanya melangkah menuju kamar dimana Zaqi di rawat.
" Ibu bagaimana dengan keadaan Zaqi ? " tanya Sela setelah di samping ibunya.
" Entahlah " jawab Bu Nur dengan sedih menatap wajah cucunya yang masih enggan untuk membuka matanya.
" Ibu pergilah untuk membersihkan diri, biar Zaqi ditunggu oleh Sela dan saya akan membeli sarapan untuk kita " ucap Alan sambil mengusap kepala Sela kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
" Ibu benar kata Alan, biar Sela yang menjaga Zaqi dan ibu bisa istirahat atau kekamar mandi " ucap Sela pelan.
" Baiklah ibu akan mandi dulu " ucap Bu Nur sambil melangkah menuju kamar mandi yang sudah tersedia di kamar tersebut.
Setelah Bu Nur berlalu, Sela menatap wajah anaknya dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
" Nak bangunlah ... bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan ibu seperti ayah meninggalkan ibu "
" Bukankah kamu berjanji akan menjaga ibu apapun yang terjadi ! lalu mengapa sekarang kamu masih enggan untuk melihat wajah ibu ? " ucap Sela di sela-sela Isak tangisnya yang pelan sambil menggenggam tangan Zaqi.
" Nak ibu mohon maaf dan bangunlah, penuhi janji mu untuk menjaga ibu. Ayah telah meninggalkan ibu hanya kamu yang ibu punya. Hanya kamu yang membuat ibu bertahan selama ini "
" Ibu berjanji akan menemanimu dan kita akan sering bersama karena Alan telah memecat ibu dari perusahaannya "
" Mulai hari ini, ibu tidak bekerja di perusahaan om Alan, jadi buka matamu dan temani ibu melewati perjalanan yang masih panjang ini " ucap Sela kemudian ia mencium kening Zaqi dengan deraian air mata.
Hingga air mata Sela menetes di pipi Zaqi, perlahan mata itu terbuka dan dengan terpaksa tersenyum.
" Ibu kenapa ibu menangis ?" ucap Zaqi pelan
" Bagaimana ibu tidak menangis sementara anak ibu tidak mau membuka matanya dan menatap ibunya ?" ucap Sela dengan lembut.
" Maafkan Zaqi ibu " ucap Zaqi dengan pelan.
" Nak ceritakan pada ibu, apa yang kamu rasakan Hem, mana yang sakit ?" tanya Sela sambil terisak.
" Nak jangan pejamkan matamu lagi ibu takut " ucap Sela
" Ibu ... kepala Zaqi sakit sekali ! tolong ibu ... ini sakit sekali ! " teriak Zaqi sambil berguling-guling sambil memegang kepalanya dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
" Ibu ... ini sakit sekali ! ... Sakit ... ! " Zaqi terus berteriak sambil memegang kepalanya.
" Dokter tolong anak saya !" Sela berteriak sambil memegangi tubuh Zaqi yang semakin bergetar hebat dan keringat dingin semakin membasahi tubuh Zaqi.
" Dokter tolong anak ku ! " Sela berteriak kembali dan Bu Nur yang ada di dalam kamar mandi segera keluar karena mendengar anak dan cucunya berteriak.
Alan yang baru saja sampai langsung menekan bel agar dokter segera datang keruangan tersebut.
" Alan aku mohon tolong anakku, aku mohon ... " ucap Sela saat melihat Alan. Sementara Zaqi masih berteriak-teriak kesakitan meminta tolong kepada ibunya.
__ADS_1
Dokter yang baru saja datang dengan cepat memberikan beberapa suntikan melalui selang infus Zaqi dan perlahan Zaqi mulai tenang dan memejamkan matanya kembali. Dan tubuh Sela langsung jatuh tergeletak di lantai.
" Sayang bertahanlah ! " ucap Alan dengan cepat mengangkat tubuh Sela dan membaringkan di atas sofa.
" Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku " ucap Alan dengan sangat khawatir.
" Tuan sebaiknya istri anda di periksa di ruangan sebelah untuk memastikan kondisi tubuhnya "
" Dan untuk anak anda sebaiknya segera di pindahkan di rumah sakit khusus rehabilitasi agar mendapatkan penanganan yang tepat " jelas dokter tersebut.
" Lakukan yang terbaik dokter " ucap Alan sambil mengangkat tubuh Sela dan membawanya ke ruangan di mana mereka menghabiskan malam bersama.
Setelah tubuh Sela dibaringkan, dokter mulai melakukan pemeriksaan.
" Tuan tubuh istri anda hanya mengalami trauma ringan, dengan banyak istirahat dan mengkonsumsi vitamin serta menguatkan hati, maka hal ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari " jelas dokter tersebut.
" Baik dokter saya akan menjaganya, dan untuk anak saya tolong segera urus perpindahannya dan tolong tunjuk rumah sakit yang terbaik, masalah biaya berapapun akan saya bayar " jawab Alan tegas tanpa keraguan.
" Baik tuan, kami akan segera mengurus segala sesuatunya " jawab Dokter tersebut kemudian berlalu meninggalkan Alan dan Sela yang masih terpejam.
" Nak Alan bagaimana keadaan Sela dan Zaqi ?" tanya Bu Nur sambil menangis mendekati Sela dan Alan.
" Ibu jangan khawatir Sela hanya sok melihat keadaan Zaqi, sementara Zaqi akan saya pindahkan ke rumah sakit yang memang menangani pasien yang kecanduan obat-obatan terlarang " jawab Alan pelan.
" Maksud nak Alan, Zaqi sakit karena barang haram itu ? " tanya Bu Nur, sementara Alan hanya mengangguk.
Tubuh Bu Nur yang sudah tua itupun langsung terjatuh di lantai. Alan dengan sigap mengangkat tubuh tua itu dan membaringkan di sofa dan segera menekan bel agar dokter atau perawat datang membantunya, merawat dua wanita yang pingsan di hadapannya.
" Dokter tolong lakukan yang terbaik " ucap Alan saat dokter masuk ke ruang tersebut.
" Baik tuan kami akan melakukan yang terbaik untuk setiap pasien kami " ucap dokter tersebut. Kemudian memerintahkan agar perawat memindahkan pasiennya.
Kemudian dua perawat yang datang bersama dokter tersebut memindahkan tubuh Bu Nur ke keruangan yang lain untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
__ADS_1
Sementara Alan masih setia di samping wanitanya yang masih enggan untuk membuka matanya.
" Sayang buka matamu, jangan kau siksa aku dengan ini, aku rela melakukan apapun untuk kalian. Aku mohon bukanlah mata mu " ucap Alan pelan sambil mencium kening Sela