
" Kamu bisa melihat rekaman cctv jika ada, atau meminta seseorang untuk mengawasinya. Hal seperti itu saja kau meminta saran, Dasar ... ." jawab Alan.
Sementara keduanya ngobrol ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya. Rasa penasaran yang membuat lelaki itu untuk melakukan panggilan telepon.
" Apa yang membuatmu meneleponku di jam kerja seperti ini ?" ucap Alan setelah menerima telepon dari Dokter pribadinya sekaligus sahabatnya itu.
" Aku hanya penasaran siapa wanita yang ada di depanmu ? seingat ku wanita yang kau bawa ke villa pribadimu bukan wanita yang ada dihadapan mu. Dan jika reka kerja mu kau tidak akan bersikap seperti itu."jawab Dokter Edo.
" Jangan basa-basi ! dan cepat kemari !" jawab Alan singkat.
" Apakah aku tidak menggangu ?" tanya Edo kemudian.
" Tidak ! kemarilah biar kau tidak mati penasaran." jawab Alan.
" Ok ! " jawab Edo kemudian menutup panggilan tersebut. Kemudian berjalan mendekati keduanya.
" Duduklah ! " ucap Alan saat melihat sahabatnya mendekati mereka.
Dan Edo langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Desi. Desi menatap lelaki yang tiba-tiba duduk di hadapannya, ada sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga saat melihat senyum manis pria tersebut.
Sama halnya dengan Dokter Edo, lelaki dingin itu seakan ingin memiliki dan menjaga wanita cantik yang ada di hadapannya. Keduanya saling pandang, tanpa ia sadari Alan memperhatikan ekspresi dari kedua insan yang berbeda itu.
" Sepertinya mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku harus memuluskan jalan keduanya. " batin Alan sambil tersenyum dan perlahan meninggalkan kedua insan yang saling pandang tersebut.
Pelan namun pasti, Alan segera berlalu keluar dan segera masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkan tempat tersebut menuju ke Rumah Sakit untuk melepaskan segudang rindu untuk Sela.
Sementara Desi dan Edo masih saling pandang dengan senyuman manis menghias wajah keduanya. Tanpa mereka sadari Alan telah pergi dan memberikan ruang untuk kedepannya.
Keduanya sama-sama melempar pandangan ke sembarang arah saat terdengar suara berdehem dari seseorang.
" Maaf tuan ini pesanan anda." ucap seorang pelayan sambil meletakkan sekantong plastik.
" E e ... Iya ! berapa semuanya ? " tanya Edo sambil meraih dompet di saku celananya.
" Semuanya 500 ribu tuan." jawab pelayan tersebut. Dan ia segera berlalu meninggalkan keduanya.
" Alan ! " ucap keduanya secara bersamaan. Dan keduanya saling pandang dan tersenyum kembali.
__ADS_1
" Kenalkan, aku Edo ! " ucap Edo sambil mengulurkan tangannya.
" Desi ! " jawab Desi sambil membalas uluran tangan Edo.
Keduanya saling berjabat dan saling menatap. Ada sebuah aliran yang menjalar ke sekujur tubuh mereka. Keduanya saling tersenyum dan sama-sama enggan untuk melepaskan tangan masing-masing.
" Apakah aku mengganggu acaramu dengan Alan ? " tanya Edo.
" Tidak ! aku hanya meminta bantuan Alan saja." jawab Desi.
" Apa hubungan antara kalian ? " tanya Edo langsung ke sasaran.
" Alan adalah lelaki yang di cintai oleh sahabatku." jawab Desi dengan tersenyum.
" Kalau begitu sama, aku adalah sahabat dari lelaki yang dicintai oleh sahabat mu." jawab Edo.
" Dan sebentar lagi akan menjadi lelaki yang kau cintai! " batin Edo.
" Benarkah ? apakah ini sebuah kebetulan ? atau ... ." ucap Sela.
" Sebuah kebetulan dan awal sebuah hubungan " jawab Edo dan Semakin mengeratkan genggamannya.
" Tapi kau menyukainya " ucap Edo dan melepaskan tangannya.
" Aku sangat menyukainya dan aku menginginkan lebih dari ini. " batin Desi.
" Tapi kemana Alan ? Dan sejak kapan ia pergi ?" tanya Desi.
" Alan pasti sengaja memberi kesempatan untuk kita berdua agar saling mengenal." ucap Edo sambil tersenyum.
" Semoga dugaan ku benar. Dan jika seperti itu berarti wanita ini memang seperti yang ku cari." batin Edo sambil tersenyum manis menatap wajah Desi.
Keduanya berbincang-bincang seputar pekerjaan masing-masing begitu asyik. Hingga keduanya tidak menyadari ada seseorang yang memperlihatkan keduanya.
Vio yang sengaja mengikuti Desi, menyusun rencana licik saat ia mengetahui bahwa Desi dekat dengan Alan, ia takut Alan akan menutup jalan pintas yang ia ambil untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Perlahan-lahan Vio mengambil obat perangsang dan memasukkan ke dalam minuman yang sudah ia pesan. Kemudian ia memesan dua minuman lagi. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk dicampur obat perangsang lagi. Setelah siap kemudian ia mendekati Desi dan Edo yang masih asik ngobrol.
__ADS_1
" Bolehkah saya ikut bergabung ?" ucap Vio sambil meletakkan minuman yang ia bawa.
" Tentu saja, silahkan bergabung." jawab Edo dengan sopan. Sedangkan Desi melihat Vio dengan tatapan penuh curiga.
" Kalau begitu mari kita minum bersama, kebetulan saya adalah salah satu karyawan dari Bu Desi." ucap Vio kemudian ia duduk dan meletakkannya minuman tersebut dihadapan mereka masing-masing.
" Mari minum rasanya akan lebih nikmat jika ngobrol ditemani secangkir kopi. " ucap Vio sambil menyesap kopi miliknya.
" Boleh juga. " jawab Edo kemudian menenggak habis kopi yang ada dihadapannya.
" Desi minumlah, ini untuk merayakan pertemuan kita." ucap Edo sambil tersenyum menatap Desi.
Desi menyesap kopi yang ada dihadapannya, sambil melirik Vio yang tersenyum manis.
" Jika tidak ada yang penting, silakan lanjutkan pekerjaan mu. " ucap Desi kemudian menghabiskan kopi yang ada dalam gelasnya.
" Baiklah saya permisi." ucap Vio dengan sopan dan beranjak meninggalkan keduanya.
" Dengan senang hati aku akan melanjutkan pekerjaan yang akan menghasilkan banyak uang hari ini." batin vio dengan senyum liciknya.
Sementara Edo dan Desi yang masih ngobrol tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh mereka.
" Ada yang tidak beres ! wanita brengsek !" ucap Edo dalam hati.
" Ayo kita harus pergi dari sini, aku akan memberikan obat untuk meredakan ini semua." ucap Edo dan langsung menarik tangan Desi.
" Kita akan kemana ? " tanya Desi yang mulai merasakan panas dalam tubuhnya.
Tanpa banyak bicara Edo langsung membawa Desi menuju apartemen pribadinya agar lebih dekat untuk segera menetralkan obat perangsang yang telah mereka minum.
" Wanita brengsek tunggu pembalasanku. Aku bahkan bisa mendapatkan wanita pujaanku tanpa harus dengan obat perangsang dari mu." batin Edo.
" Edo kenapa badanku terasa tidak nyaman ? padahal tadi aku baik-baik saja. " tanya Desi sambil memejamkan matanya.
" Tahanlah sedikit lagi aku akan segera mengobati mu setelah kita sampai di apartemen ku. Wanita brengsek itu telah mencampur minuman kita, hanya saja aku tidak tau pasti dosis dari obat tersebut." jawab Edo sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
Setelah sampai di apartemennya Edo langsung membawa Desi masuk dan ingin segera mencari obat penawar sebelum mereka melakukan sesuatu yang diluar kendali akal sehat masing-masing.
__ADS_1
Dengan cepat Edo membuka pintu dan segera masuk kedalam kamar untuk mencari obat dan segera meminumnya.