Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 68


__ADS_3

" Tuan aku mohon jangan hukum anak dan istriku. Mereka tidak tau apa-apa tuan. " ucap Bram dengan wajah memohon.


" Aku tidak pernah menghukum orang yang tidak bersalah Bram. Kau jangan samakan aku dengan dirimu, yang tega melakukan apapun bahkan kepada seorang wanita yang tidak bersalah. " jelas tuan Atmaja.


" Bawa ketiga wanita itu keluar dari sini, antar mereka ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, dan jangan lupa bawa bukti kejahatan mereka. " ucap tuan Atmaja kepada anak buahnya.


Setelah mendengar perintah dari tuan Atmaja mereka langsung melepaskan ikatan mereka, dan segera membawa ketiga wanita itu pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib.


" Alan, maafkan aku. Aku ... " ucap Dewi terhenti saat Alan memalingkan wajahnya.


" Tuan tolong selamatkan aku, aku bersedia melakukan apapun asal Yuan mau membebaskan aku. " ucap Dini.


Namun lagi-lagi Alan hanya membuang pandangannya ke arah yang berlawanan dengan keberadaan mereka.


Sementara Vio hanya bisa pasrah, menerima konsekuensi atas semua perbuatannya.


" Anakku apa yang kau pikirkan ? apakah kau akan memaafkan Dewi sahabat mu ? Jika seperti itu keinginan mu, ayah akan mengabulkannya. " ucap tuan Atmaja.


" Tidak ! aku hanya sedang berfikir, mengapa kedua sahabatku tega mengkhianati persahabatan yang kami bina selama ini. " ucap Alan.


" Karena mereka tidak tau arti persahabatan yang sesungguhnya. " ucap tuan Atmaja.


" Maaf tuan mang Dadang sudah berada di sini. " ucap salah satu anak buah tuan Atmaja.


" Anakku mari, kita temui mang Dadang. Mungkin dia bisa menjelaskan apa yang menjadi keraguan di hatimu. " ucap tuan Atmaja.


Sementara Alan, hanya mengikuti ayahnya tanpa berkata sepatah katapun. Sedangkan Edo dan Bram bernafas dengan lega, dengan kepergian keduanya berarti tidak akan ada hukuman untuk mereka.


" Tuan, anda berada di sini ? " tanya mang Dadang saat melihat Alan berjalan di belakang tuan Atmaja.


" Iya, ini adalah rumahku juga mang, dan beliau adalah ayah kandungku. " jawab Alan.


" Ayah kandung ?" tanya mang Dadang.

__ADS_1


" Iya mang " jawab Alan singkat.


" Sekarang jelaskan, bagaimana sebenarnya masalah penculikan Zaqi ? " ucap tuan Atmaja.


" Sebelumnya saya minta maaf tuan, saya merahasiakan penculikan Zaqi. Saya takut tuan Alan sibuk dan saya takut nona Sela akan shock


mengetahui kenyataan ini tuan. Dan tuan pasti tidak akan percaya jika tau siapa yang menculik Zaqi. " jelas mang Dadang.


Kemudian mang Dadang menceritakan kronologis penculikan Zaqi. Dan alasannya mengapa mang Dadang tidak memberitahu Alan dan juga Sela.


" Lalu, bagaimana sebenarnya kematian ibuku ? saat itu saya masih di Luar Negeri. " tanya Alan.


" Kematian Nyonya, sebenarnya ada kaitannya dengan tuan Edo. Tetapi saya belum mendapatkan buktinya tuan. " jawab mang Dadang.


" Lalu mengapa mang Dadang tidak pernah jujur kepada ku selama ini ? " tanya Alan dengan suara yang bergetar.


Kemudian mang Dadang menceritakan tentang kisah pilu yang di alami putri kandungnya, yang menjadi penyebab nyonya Sukma terlibat masalah dengan Edo. Hingga menyebabkan kematiannya.


" Putri kandung ? apakah mang Dadang mempunyai seorang putri dan mengapa aku tidak pernah tau masalah ini ?" tanya Alan.


" Lalu dimana dia sekarang ? " tanya Alan.


" Dia, Dia telah meninggal dunia tuan. " jawan Mang Dadang dengan menahan sebuah kesedihan.


Mang Dadang menceritakan tentang kenyataan pahit itu dengan derai air matanya.


" Sekarang tolong jemput wanita yang bernama Luna di Hotel ... . " ucap Alan terhenti karena dipotong oleh Mang Dadang.


" Maaf tuan, bukankah Anda sangat mencintai nona Sela ? lalu untuk apa anda meminta saya untuk menjemput wanita itu ? " ucap Mang Dadang.


" Sudah jemput saja dulu, kau akan mengetahui setelah sampai di sini bersama Luna." ucap tuan Atmaja.


" Tapi hotel tersebut milik tuan Edo, apa yang harus saya katakan jika beliau melarang saya untuk.membawa nona Luna. " ucap mang Dadang yang sedikit ragu.

__ADS_1


" Edo sudah tamat, seluruh orang-orang yang terlibat kejahatan bersama Edo sudah berakhir mang, jadi jangan khawatirkan itu. " ucap Alan.


" Edo sudah berakhir, siapa yang telah melakukannya tuan, jika anda mengijinkan saya ingin mengebiri lelaki yang telah merenggut kehormatan putriku. " ucap Mang Dadang penuh harap.


" Aku mengabulkan permintaan mu. Sekarang juga lakukan apa yang akan kau lakukan. Edo ada di tempat ini, mungkin saat ini dia tengah menikmati penderitaan yang ia bangun selama ini. " ucap tuan Atmaja.


" Sungguh tuan, aku bisa melakukan apapun terhadap Edo ? " tanya mang Dadang dengan antusias.


" Lakukanlah apapun agar hatimu terbebas dari dendam. Dan kau bisa menjalani masa tuamu dengan damai bersama anak cucumu, seperti yang akan aku lakukan. "


" Meskipun tanpa istriku tercinta, aku akan menghabiskan masa tua ku bersama cucu-cucu ku yang lucu-lucu dari Alan. " ucap tuan Atmaja dengan senyum tersungging di bibirnya.


" Ayah, aku saja belum menikah. Ayah sudah menghalalkan seorang cucu. " Celetuk Alan.


" Besok kau harus segera menikah dan lusa kau harus berbulan madu. Ayah akan memesankan paket bulan madu untuk kalian. Dan setelah kalian pulang aku ingin mendengar bahwa cucuku sebentar lagi akan lahir. " ucap tuan Atmaja.


" Tapi bagaimana dengan perusahaan dan yang lainnya. Aku kehilangan banyak orang kepercayaan ku. " ucap Alan.


" Urusan perusahan mu dan perusahaan Sela serahkan kepada Ayah, dan juga untuk urusan Zaqi serahkan kepada Ayah. Tugas mu adalah memberikan aku cucu. " jawab tuan Atmaja.


" Nah itu yang sedari tadi aku tunggu ayah, aku sudah terlalu lama menunggu saat itu tiba. " jawab Alan dengan senyum yang mengbang.


" Dasar kau ya ! " ucap tuan Atmaja sambil memukul bahu Alan dan kemudian keduanya tertawa bersama.


" Tuan sudah lama sekali saya tidak pernah melihat anda tertawa dengan lepas. " ucapamg Dadang lirih, namun tetap terdengar oleh tuan Atmaja.


" Benarkah ! putraku tidak bisa tertawa ? " ucap tuan Atmaja.


" Iya tuan, sejak nyonya meninggal tuan Alan tidak pernah tertawa dengan lepas. " jelas mang Dadang.


" Maafkan ayah nak, seandainya ayah cepat menemukan kalian hal menyedihkan itu tidak akan pernah terjadi. "


" Dan kau mang, terimakasih telah menjaga anak dan istriku. Sekarang lakukan apapun yang ingin kau lakukan terhadap Edo. Dan setelah itu jemputlah Luna. " ucap tuan Atmaja.

__ADS_1


" Menjaga tuan Alan adalah tugas utama saya tuan, dan saya akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sejak dahulu, agar anak saya tentang di alam sana. Terimakasih tuan atas bantuannya untuk menangkap Edo dan mengijinkan saya untuk balas dendam. " ucap mang Dadang, kemudian ia bangkit dari duduknya dan segera menuju ruangan dimana Edo berada.


__ADS_2