Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 13


__ADS_3

Keesokan paginya Sela mengantarkan Zaqi pergi ke sekolah kemudian ia kembali kerumahnya. Ia tidak berangkat bekerja. Ia menelpon Akan untuk meminta ijin.


" Selamat pagi tuan. " ucap Sela setelah Alan mengangkat teleponnya.


" Selamat pagi tumben pagi-pagi sudah menelpon. " jawab Alan dari sebrang.


" Iya tuan maaf tuan hari ini saya minta ijin tidak masuk kerja, saya tidak enak badan. " jelas Sela.


" Baiklah, segera berobat agar cepat sembuh. " jawab Alan.


" Baik tuan terimakasih. " kemudian Sela menutup telponnya. Setelah itu ia berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


" Sela bagaimana jika ibu mengantarmu untuk pergi ke dokter ?" ucap Bu Nur setelah masuk ke kamar Sela.


" Tidak Bu nanti juga Sela baikan, Sela cuma kelelahan." ucap Sela pelan.


" Sela jika tidak segera di obati takut semakin parah, ingat ada Zaqi yang selalu mengharapkan ibunya selalu baik-baik saja. " ucap Bu Nur.


" Iya Bu, Sela tidak apa-apa ibu yang tenang ya." jawab Sela mencoba menyakinkan.


" Tapi wajahmu pucat sekali." ucap Bu Nur penuh ke khawatiran.


Sela tersenyum menatap wajah ibunya yang semakin tua.


" Ibu Sela hanya ingin istirahat, wajah Sela pucat karena semalam Sela begadang untuk menyelesaikan pekerjaan Sela yang sudah menumpuk. " ucap Sela.


Setelah berbincang sebentar Bu Nur pergi meninggalkan Sela yang mulai terlelap. Setelah beberapa saat tiba-tiba Sela berteriak histeris sambil menangis. Bu nur masuk dan mencoba membantu Sela.


" Sela badanmu panas sekali, bangun nak kita kedokteran ya. " ucap Bu Nur sambil membelai wajah Sela dengan lembut.


Namun Sela tidak merespon dan terus menggigil. Bu Nur kemudian keluar meninggalkan Sela untuk meminta bantuan tetangganya agar mengantarkan ke rumah sakit.


Bu Nur menangis sambil mengantar Sela pergi ke rumah sakit.


" Dokter ! Suster tolong anak saya ! " teriak Bu Nur setelah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah itu datang beberapa perawat untuk membantu Bu Nur dan membawa Sela masuk ke ruang UGD. Lama Bu Nur menunggu di depan pintu ruang UGD


Tut Tut Tut


Telpon Sela bergetar kemudian perlahan Bu Nur mengangkat panggilan yang sudah beberapa kali tidak terangkat


" Halo dengan siapa ini. " jawab Bu Nur.


" Halo maaf saya Alan teman kerja Sela, apakah Sela ada ?" tanya Alan sopan.


" Maaf nak Sela sedang diperiksa di ruang UGD. " jawab Bu Nur sambil menangis.


" UGD ?! berarti Sela dirawat maaf Bu di rumah sakit mana biar saya kesana. " tanya Alan dengan paniknya.


Setelah mendengar jawaban dari Bu Nur, Alan menutup telponnya dan segera meluncur menuju rumah sakit tempat Sela di rawat.


Setelah beberapa saat akhirnya Alan sampai dan menuju UGD, ia melihat seorang wanita yang mondar-mandir di depan ruang UGD.


" Maaf Bu apakah ibu orang tua Sela ? " tanya Alan sopan.


" Iya nak Anda ?" tanya Bu Nur.


" Bagaimana keadaan Sela Bu. " tanya Alan sedikit panik.


" Entahlah dokter sedang memeriksa." jawab Bu Nur. Lalu perlahan pintu ruangan itu terbuka dan dokter pun keluar.


" Dokter bagaimana keadaan anak saya ?" tanya Bu Nur.


" Pasien tidak apa-apa dia sudah melewati masa kritis, dan bisa segera dipindahkan ke ruang rawat. " ucap Dokter tersebut.


" Syukurlah dokter kalau begitu tolong pindahkan pasien ke ke ruang rawat VIP dan berikan yang terbaik dokter. " ucap Alan kemudian.


Setelah itu Sela dipindahkan ke ruang rawat, Alan dan Bu Nur mengikuti dari belakang.


" Nak minta tolong jaga Sela sebentar ya, ibu akan menjemput Zaqi, pasti ia sudah menunggu lama sekali. " ucap Bu Nur.

__ADS_1


" Iya Bu ibu biar di antar sopir saya, kebetulan saya kesini bersama sopir " ucap Alan, kemudian ia menelpon seseorang untuk mengantar Bu Nur.


Sementara Alan menjaga Sela yang belum siuman. Alan menatap wajah Sela yang begitu pucat. Perlahan Alan membelai lembut rambut Sela dan mengusap wajah Sela dengan lembut.


Alan menatap wajah wanita yang sudah menempati posisi dihatinya. Perlahan Alan mengecup kening Sela dan berganti ke pipi dan juga bibir Sela. Kemudian Alan tersenyum.


" Maaf Sela aku mencurinya dari mu, tapi aku benar-benar mencintai mu dengan tulus, aku akan menunggu sampai kamu siap menjadi bagian dari hidupku. " ucap Alan pelan.


Namun Sela tetap terpejam seakan enggan untuk membuka matanya. Alan menatap Sela kemudian ia mencium bibir Sela, lama bibir Sela ia ***** seakan Alan enggan melepas ciumannya.


" Manis dan ini akan menjadi candu ku Sela, dan aku pastikan kamu akan menjadi milikku seutuhnya." ucap Alan setelah ia melepaskan ciumannya.


Alan tersenyum-senyum melihat wajah Sela, seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta, Alan sesekali mengusap wajah Sela yang masih enggan untuk membuka matanya apa lagi membalas ciumannya.


" Sela cepatlah bangun, jika tidak maka jangan salahkan aku yang akan mencium bibir mu berkali-kali. " ucap Alan dengan pelan.


" Ibu Ibu jangan tinggalkan Zaqi, Ibu sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Zaqi seperti ayah." teriak Zaqi yang tiba-tiba masuk dan langsung naik ke atas ranjang dan langsung memeluk tubuh Sela.


" Ibu bangun Zaqi janji tidak akan minta ibu untuk mengantar Zaqi ke sekolah lagi, Zaqi tidak akan meminta apa-apa lagi, tapi ibu bangun jangan tinggalkan Zaqi seperti ayah, Zaqi tidak akan menanyakan ayah lagi." Zaqi terus terisak di atas tubuh Sela.


Alan menatap adegan yang mengharukan didepannya dan tak terasa air matanya menetes.


" Zaqi jangan sedih ya nak, ibu hanya istirahat sebentar. " ucap Alan sambil membelai lembut rambut Zaqi.


" Tapi om Ibu selalu bangun saat Zaqi panggil. " ucap Zaqi dengan polosnya.


" Ibu masih capek jadi ibu belum bangun, sebentar lagi ibu pasti bangun dan akan menemani Zaqi bermain, mengantarkan Zaqi ke sekolah dan yang lainnya." ucap Alan lembut.


" Apakah ibu tidak marah dengan Zaqi ? apakah ibu tidak akan meninggal Zaqi seperti ayah ?" tanya Zaqi sambil memandang wajah pria asing yang duduk di dekat ibunya dan juga menatap wajah neneknya.


" Tidak ibu tidak akan meninggalkan Zaqi seperti ayah. Ibu sangat menyayangi Zaqi, jadi mana mungkin ibu meninggalkan Zaqi." ucap Alan meyakinkan Zaqi.


" Zaqi apa yang telah kamu lalui nak ? sampai kamu bisa berkata seperti itu, kau begitu takut."


" Zaqi aku tidak berniat mengambil ibumu, aku hanya ingin menjadi bagian dari hidup kalian. Aku berjanji akan menggantikan ayahmu dan merawat kalian dengan tulus. " batin Alan.

__ADS_1


Sementara Bu Nur menatap adegan didepannya, dengan mata berkaca-kaca.


" Kalian begitu harmonis layaknya sebuah keluarga tapi sayang Alan bukan siapa-siapa. Seandainya Alan bisa menggantikan posisi Dani . " batin Bu Nur.


__ADS_2