
" Sayang buka matamu, kamu harus kuat demi Zaqi. Kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan Zaqi. " ucap Alan dengan lembut.
Setelah beberapa saat akhirnya Sela membuka matanya dengan perlahan.
" Sayang akhirnya kamu mau membuka matamu. " ucap Alan saat melihat Sela telah siuman.
" Alan tolong selamatkan Zaqi. " ucap Sela sambil memohon dan menggenggam tangan Alan.
" Sayang kita akan berjuang bersama, kuatkan hatimu. Masih ada Zaqi dan ibu yang menunggu kita, dan berharap kita bisa menjadi sandaran mereka. Jika kamu terus seperti ini bagaimana Zaqi akan kuat menghadapi ini semua ?" jawab Alan.
" Terima kasih Alan. " ucap Sela dan ia kembali menangis tersedu-sedu, mengingat keadaan Zaqi.
Ia merasa bersalah karena kurang memperhatikan kondisi Zaqi, ia hanya fokus mencari uang dan uang. Dalam pikirannya semua akan baik-baik saja jika ada uang.
Padahal seorang anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, bukan melulu Soal uang, namun sebagai orang tua tunggal mau tidak mau Sela harus berjuang keras demi bisa mencukupi kebutuhan.
Salahkah jika Sela berjuang untuk memburu rupiah ? Karena kemiskinannya ia dan anaknya ditinggalkan oleh suaminya bahkan harus di usir dari kontrakan karena tidak bisa membayar uang sewanya.
Kemiskinan yang ia alami memaksanya untuk membuat keputusan. Berjuang untuk memburu rupiah dengan konsekuensi anaknya kurang perhatian dan kasih sayang atau tetap berada di sisi anaknya dengan tetap bergelimang dengan kemiskinan.
Ya itulah kehidupan yang dijalani oleh Sela sebagai orang tua tunggal. Yang berjuang mengarungi kehidupan bersama putranya.
" Sayang menangis lah, tumpahkan semua beban di hatimu. Bersandar lah di pundakku agar hatimu yakin bahwa kamu tidak sendirian. Ada aku tempat mu bersandar disaat engkau mulai lelah. " ucap Alan dengan lembut sambil memeluk tubuh Sela yang masih terisak.
Sela menangis menumpahkan segala rasa yang bercampur aduk menjadi satu. Ia bahagia karena ada bahu tempatnya bersandar tapi ia juga sedih karena keadaan Zaqi. Sela mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Alan, yang merupakan tempat paling nyaman di dunia ini.
Perlahan Sela melepaskan pelukannya dan ia mulai menghapus air matanya. Dan tersenyum di antara Isak tangisnya sambil menatap wajah tampan di depannya.
" Alan terima kasih, kau benar aku harus bangkit demi Zaqi. " ucap Sela sambil tersenyum.
" Ia sayang, kita akan berjuang bersama-sama untuk mengarungi bahtera kehidupan ini. Tetaplah kuat dan berada di sampingku apapun yang terjadi. " ucap Alan mencoba menguatkan hati Sela. sedangkan Sela tersenyum dan kembali memeluk Alan.
" Bagaimana keadaan mu sayang ? apakah sudah lebih baik ?" tanya Alan tanpa melepaskan pelukannya.
" Sudah lebih baik, dari pada yang tadi. " jawab Sela pelan.
" Kalau begitu kita akan sarapan bersama, karena dengan sarapan kita bisa mengejar harapan. " ucap Alan sambil menggoda Sela.
__ADS_1
" Ternyata sarapan lebih utama dari harapan ya ? " tanya Sela sambil tersenyum menatap Alan.
Kemudian keduanya sama-sama tersenyum, dan Alan menggandeng tangan Sela menuju kantin Rumah Sakit. Setelah mereka sampai kedua memesan makanan dan duduk di bangku yang masih kosong.
" Alan dimana ibu ? kenapa dari tadi aku belum melihat beliau ? " tanya Sela saat ia teringat ibunya.
" Ibu sudah ditangani oleh Dokter dan juga Perawat. Setelah kita selesai makan kita akan menjenguk beliau. " jawab Alan.
" Ada apa dengan ibuku ? kenapa harus di tangani oleh Dokter ?" tanya Sela penasaran.
" Maaf, ini pesanan anda. " ucap pelayan sambil meletakkan pesanan mereka.
" Terimakasih. " jawab Alan.
" Alan tolong jelaskan bagaimana keadaan ibuku !" ucap Sela.
" Sayang makanlah dulu, nanti aku jelaskan tapi ijinkan aku untuk makan terlebih dahulu " ucap Alan dengan lembut.
Kemudian keduanya menikmati makanan dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali Alan menyuapi Sela agar wanita di hadapannya bisa makan banyak.
" Alan aku sudah kenyang. " ucap Sela saat Alan menyuapinya kembali.
" Aku sudah kenyang Alan, pesanku sudah habis dan aku masih makan separo lebih dari pesanan mu. " jawab Sela.
" Benarkah cintaku ini bisa makan banyak ?" goda Alan.
Kemudian Sela menatap wajah Alan dan perlahan menggenggam tangan Alan. Keduanya saling menatap dan tersenyum.
" Sayang jangan menggodaku dengan senyum manis mu, aku tidak bisa menjamin bahwa aku tidak akan melakukan sesuatu kepadamu. " ucap Alan.
" Siapa yang menggoda Alan. " jawab Sela sambil melepaskan genggaman tangannya.
Kemudian mereka menuju ruang perawatan Bu Nur setelah membayar makanannya.
" Suster bagaimana keadaan ibu saya ?" tanya Sela setelah berada di samping ibunya.
" Beliau baik-baik saja dan sekarang beliau masih tertidur akibat obat penenang. " jawab Suster tersebut.
__ADS_1
" Karena tuan dan nyonya sudah datang, saya permisi dulu. Jika ada sesuatu silakan hubungi kami. " ucap Suster tersebut kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
" Terimakasih Suster. " jawab Sela.
" Sayang duduklah di sini. " ucap Alan sambil menepuk sofa di sampingnya.
Sedangkan Sela tersenyum kemudian melangkah mendekati Alan. Dengan sigap Alan meraih tubuh Sela dan mencium bibir Sela dengan lembut.
" Alan ! malu ada ibu. " ucap Sela saat ciuman Alan terlepas.
" Itu hukuman untuk mu karena telah menggoda aku di saat makan tadi. " ucap Alan.
" Apakah kau akan tergoda hanya karena aku tersenyum ?" tanya Sela.
" Iya sayang ... karena ini adalah canduku " jawab Alan sambil mengusap bibir Sela dengan jarinya.
" Alan apa yang terjadi dengan ibuku ?" tanya Sela sambil membenarkan posisi duduknya di samping Alan.
" Ibu sangat terkejut mendengar keadaan Zaqi, kemudian beliau jatuh dan tak sadarkan diri." jawab Alan.
" Kasihan ibu, lalu apa kata Dokter ?" tanya Sela kembali.
" Kata Dokter aku harus menjaga wanita cantik ini. " jawab Alan santai.
" Alan aku serius !" ucap Sela dengan cemberut.
" Sayang aku juga serius, Dokter mengatakan bahwa aku harus menjagamu karena disaat ibu pingsan kamu juga pingsan sayang. " jawab Alan.
Sela hanya tersenyum mendengar jawaban Alan, ia sadar bahwa Alan tidak akan mampu menjaga ketiga orang yang dirawat di ruang yang berbeda sendirian.
" Mengapa kau tersenyum ? apakah kau ingin menggoda pria tampan ini ? hem. " ucap Alan.
Namun Sela bukanya menjawab malah ia mencium bibir Alan dengan lembut. Sedangkan Alan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Sela.
Alan membalas ciuman Sela dan memperdalam ciumannya. Mereka saling membalas dengan lembut, melupakan sejenak masalah yang terjadi. Saling melepas kerinduan dan keinginan untuk lebih dari ini.
" Sayang jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku, dan jangan pernah berikan apa yang sudah menjadi milikku " ucap Alan sambil menatap wajah Sela. Kemudian ia memeluk tubuh mungil Sela dengan sangat erat.
__ADS_1
Sedangkan Sela menyadarkan kepalanya di dada Alan dan membalas pelukan hangat dari Alan.