
Pikiran Sela menerawang jauh, ia bingung dengan masalah yang dihadapi, mana yang harus ia kerjakan terlebih dahulu. Di satu sisi ia harus fokus untuk kesembuhan Zaqi dan di satu sisi ia juga harus bisa mengurus perusahaan yang telah ia dirikan.
Sela sibuk dengan pikirannya, Ia tidak menyadari bahwa Alan telah melakukan mobilnya dan kini telah sampai di Apartemen milik Edo.
" Sayang ayo kita turun. " ucap Alan setelah mobilnya terparkir dengan sempurna. Namun Sela tidak merespon ia larut dalam pikirannya sendiri.
Cup Cup
Alan mencium Sela dengan lembut, yang membuat Sela tersadar dari lamunannya. Kemudian menatap wajah Alan penuh dengan tanya.
" Itu hukumannya karena mengabaikanku ." jawab Alan sambil tersenyum.
" Ayo turun ! atau kau ingin aku mengendong mu ?" tanya Alan.
" Aku bisa turun sendiri ! " jawab Sela sambil membuka pintu dan segera keluar dan di susul oleh Alan.
Sela memperhatikan yang ada di sekitarnya, ia baru menyadari bahwa dirinya telah sampai di Apartemen miliknya dan telah ia sewakan. Namun siapa yang akan mereka kunjungi ?.
Apakah Edo adalah salah satu orang yang menyewa salah satu Apartemennya ?. Jika benar sejak kapan Edo tinggal di sini ?.
" Kenapa masih bengong ? apakah kau ingin aku gendong ? meskipun mulut mengatakan tidak ? " ucap Alan dan langsung mengangkat tubuh Sela ala bridal style.
" Alan turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri !" ucap Sela namun tidak berpengaruh terhadap Alan.
" Sayang lebih baik kau diam dan menikmatinya. Agar orang-orang tidak berfikir negatif." ucap Alan.
Sela hanya terdiam, kemudian ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan dan dengan lembut ia mencium pipi Alan.
" Sayang dengan susah payah aku menahan hasratku, jangan kau menggoda aku. Atau kau ingin kita seperti Edo dan Desi ?" ucap Alan sambil menatap wajah yang sangat ia rindukan.
Sele tersenyum kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Alan dan memeluk Alan dengan mesra. Layaknya pengantin baru keduanya mengumbar kemesraan.
Namun, ada sepasang mata yang memandang kudanya dengan tatapan penuh kebencian.
Perlahan Alan menurunkan Sela, kemudian menekan bel. Alan melakukan itu agar Edo dan Desi yang berada di dalam tau bahwa mereka telah sampai di depan Apartemennya. Setelah lama akhirnya Edo membuka pintu.
" Kenapa kau manja sekali di depan Sela, membuka pintu saja tidak bisa." ucap Edo setelah membuka pintu.
__ADS_1
" Aku bukan manja, tetapi aku menghormati pengantin baru !" jawab Alan kemudian melangkah masuk sambil menggandeng tangan Sela.
" Duduklah biar Desi menyiapkan minum untuk kita. " ucap Edo setelah mereka masuk.
" Seharusnya kau bukan hanya menyiapkan minuman tetapi makanan yang enak sebagai bentuk rasa syukur atas halalnya hubungan kalian." jawab Alan santai.
" Tenanglah kita akan membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahan kami." jawab Edo.
" Aku tunggu ! " jawab Alan.
" Maaf Edo dimana Desi ? Dan sejak kapan kau tinggal di sini ?" tanya Sela.
" Desi sedang mandi, dan aku tinggal di sini sejak Apartemen ini selesai dibangun. Sayangnya sang pemilik tidak mau menjualnya, aku hanya bisa menyewanya saja."
" Apakah kau menyukainya ? jika kau suka tinggal bilang kepada lelaki yang ada disebelah mu itu." jawab Edo.
" Sayang apakah ini sebuah kode ?" tanya Alan.
" Kode ? maksudnya ?" tanya Sela dengan bingung.
" Kau saja yang tidak peka Alan ! " ucap Edo.
" Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ... ." ucap Sela tergantung karena ia tidak tau harus berkata apa.
" Baiklah sayang sesuai keinginan mu ! " ucap Alan sambil mengusap pipi Sela.
" Sela ! tolong bantu aku menyiapkan makanan untuk kita." ucap Desi setelah melihat Sela.
Kemudian Sela meninggalkan Alan dan Edo, dan segera menyusul untuk membantu Desi di dapur.
" Edo lihatlah ini ! " ucap Alan sambil menyodorkan ponselnya.
Edo segera mengambilnya dan melihat videonya yang beradegan panas di atas ranjang.
" Kau dapat dari mana video ini ? apakah kau sudah menemukan Vio. " tanya Edo dengan menahan amarahnya.
" Belum, Vio langsung pindah dari kontrakannya yang lama, terakhir aku periksa lokasi ponsel yang ia gunakan ia berada di sini. "
__ADS_1
" Namun sekarang no itu sudah tidak aktif lagi. Maaf aku belum bisa menemukan tempat tinggal yang baru."
" Harapan kita adalah saat ia kembali untuk bekerja di Zaqi Bakery, baru kita akan menangkapnya. " ucap Alan.
" Kau benar, yang penting sekarang aku telah menikahi Desi. Setidaknya ada senjata untuk memebantah orang-orang yang akan menghina kami karena video itu. "
" Hanya saja apa motif ia mengirimkan video itu kepada mu ? apakah kau mengenalnya ? " tanya Edo.
" Dia adalah mantan staf di perusahaanku, yang telah aku paksa untuk keluar karena kesalahan yang ia buat sendiri."
" Sela, Desi dan Vio adalah karyawan di perusahaan ku. Desi keluar karena di jodohkan dan harus kembali ke kampung halamannya. " jawab Alan.
" Jadi mereka saling mengenal ?" tanya Edo..
" Iya, tapi untuk motif Vio melakukan ini aku belum tau, seharusnya ia tidak bermasalah dengan Desi atau Sela. " jealas Alan.
Sambil menunggu Desi dan Sela, keduanya berbincang ringan. Hingga Sela dan Desi muncul membawa minuman dan makanan.
" Minumlah ! tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, jadi hanya minuman dan makanan ringan yang bisa tersaji. " ucap Sela.
" Maklum aku jarang di rumah, waktuku habis di Rumah Sakit bersama para pasien. " jawab Edo.
" Desi sekarang jelaskan bagaimana bisa kalian menikah sementara kalaian baru mengenalnya, lebih parah lagi baru kemarin kalian bertemu dan berkenalan hari ini kalian menikah. " ucap Sela.
Kemudian Edo mewakili Desi untuk menjawab pertanyaan dari Sela. Sementara Alan lebih asik menatap wajah wanitanya yang sedang serius mendengarkan penjelasan dari Edo.
Pikiran Alan bertraveling ke mana-mana. Mengikuti gerak-gerik bulu mata Sela. Alan tersenyum-senyum sendiri karena hayalan tentang Sela.
" Apa yang mbuatmu tersenyum ? apakah ini adalah idemu ?" tanya Desi saat melihat Alan tersenyum.
" Aku tidak ada hubungannya dengan masalahmu, aku tersenyum karena wanita cantik yang ada di depanku. "
" Wanita yang selalu membuat aku terlalu tersenyum bahagia meskipun aku hanya melihat wajahnya." jawab Alan tanpa mau berpaling dari wajah Sela yang sejak tadi ia tatap.
" Sayang duduklah di sini ! " ucap Alan dengan menepuk kursi yang ia duduki.
" Seharusnya kalian cepat menikah, agar kalian tau bagaimana rasanya surga dunia. " Ucap Edo sambil duduk di sebelah Desi dan tanpa malu-malu langsung memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
Sela kemudian duduk di sebelah Alan, karena merasa terganggu oleh kehadiran Edo di samping Desi.
" Bukankah kalian baru selesai melakukannya ! mengapa masih saja bersikap seperti itu ?" ucap Alan sambil membuang muka saat melihat tangan Edo masuk kedalam baju Desi dan memeluknya.