
Setelah sampai di ruang perawatan Desi, Dani duduk di kursi ruangan tersebut, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pikirannya menerawang jauh.
" Sela, awalnya aku berharap bisa bersama dengan mu dan juga Zaqi, namun aku yakin bahwa Akan jauh lebih baik dari ku. Bahkan ia rela melakukan apapun untuk kalian. "
" Aku ikhlas jika kau bersamanya, karena aku yakin Alan akan menjaga dan membahagiakan kalian. Dulu aku yang bodoh karena meninggalkan berlian seperti dirimu demi lumpur seperti Dini. "
" Sela, Zaqi semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, dan semoga kalian bahagia selalu. " batin Dani.
Tok tok tok
" Permisi tuan, silakan diselesaikan administrasi untuk perawatan nyonya Desi. " ucap seorang perawat ketika sudah masuk.
" Ok. " jawab Dani singkat,lalu ia melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
" Alan, maaf aku menggunakan uang pemberianmu untuk menolong Desi. " batin Dani kemudian menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi perawatan Desi.
Setelah selesai ia berjalan kembali menuju ruang perawatan Desi. Di saat yang sama ia melihat Dini yang sedang di dorong masuk ke ruang UGD dan dikawal oleh seorang Polisi.
Karena rasa penasarannya Dani mendekati polisi tersebut dan bertanya tentang keadaan Dini.
" Maaf Pak, apa yang terjadi dengan wanita yang ada di dalam ?" tanya Dani kepada Polisi tersebut.
" Dia mengalami pendarahan saat dalam sel, apakah anda mengenalnya ? " tanya Polisi tersebut.
" Iya, kami pernah bekerja di perusahaan yang sama. Apakah dia sedang hamil ? " jawab Dani.
" Bukan, ia tidak sedang hamil. Itu adalah kanker serviks, ia sudah dua kali mengalami hal seperti ini sejak di dalam sel. " jawab Polisi tersebut.
" Kanker serviks ? " tanya Dani.
" Ia, itu akibat yang harus ia tanggung akibat sering gonta-ganti pasangan. Ia bukanlah wanita baik-baik seperti yang anda kira. " jawab Polisi itu.
Dan Dani hanya manggut-manggut mendengar penjelasan singkat Polisi tersebut, setelah berbincang sebentar akhirnya Dani pamit untuk kembali ke ruangan Desi.
" Dini sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatannya. Untung saja aku sudah tidak bersama dengan dia, kalau tidak aku bisa repot dan bisa jadi aku tertular penyakit tersebut. " batin Dani sambil terus melangkah menuju ruangan Desi.
__ADS_1
" Ibu Desi, anda sudah sadar ? " tanya Dani saat Desi sudah duduk di sisi ranjang.
" Ia, terimakasih atas pertolongannya. " ucap Desi sambil tersenyum.
" Kalau boleh tau, aku sakit apa ? sehingga aku harus di rawat di sini ?" tanya Desi.
Dani menjelaskan kronologi kejadiannya dan juga menjelaskan apa yang telah dikatakan oleh Dokter yang menangani Desi.
" Apa ! aku keguguran ? " tanya Desi seakan tak percaya.
Meskipun ia baru tau tentang keburukan Edo, tapi ia tidak ingin kehilangan anak yang ada didalam rahimnya. Perlahan air matanya menetes di pipi.
Desi terisak-isak sambil menundukkan kepalanya. Ia bingung dan juga sedih. Sementara Dani bingung harus berbuat apa agar bisa membuat Desi tenang.
Disaat keduanya berada dalam pikirannya masing-masing, tiba-tiba ada seseorang yang masuk.
" Desi, Dani apa yang terjadi ? " tanya Alan setelah melihat Desi terisak-isak.
Desi hanya menggelengkan kepalanya, ia enggan untuk bercerita. Alan menatap Dani untuk menjelaskan apa yang terjadi.
" Alan, sebelumnya aku minta maaf karena uangmu aku gunakan untuk membayar administrasi perawatan Desi. " ucap Dani.
" Jangan sungkan, itu sudah menjadi uangmu bukan uang ku lagi. Sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan Desi ?" tanya Alan.
Desi mengalami keguguran. " jawab Dani singkat.
" Keguguran ? apa yang membuat ia harus kehilangan calon anaknya ? " tanya Alan lagi.
Kemudian Dani menceritakan bahwa mereka sedang berbincang-bincang dan di saat yang sama ada yang menghubungi dirinya. Dan kemudian ia jatuh pingsan sehingga ia mengalaminya kejadian ini.
Alan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Dani.
" Desi, ini lebih baik dari pada kau harus membesarkan anak dari Edo, karena itu akan menjadi beban hidup mu. " batin Alan.
" Lalu apa yang anda lakukan sehingga ada di sini ?" tanya Dani penasaran.
__ADS_1
" Aku mendapat telepon dari Polisi terkait dengan keadaan Dini. Dan saat aku ingin menghampiri Polisi aku melihat kau berjalan ke arah sini jadi aku mengikuti mu. " jawab Alan.
" Mengapa Polisi menghubungi mu ? " tanya Dani.
" Dini masuk bui atas laporan ku. Dan Polisi menelpon karena Dini tidak memiliki keluarga. " jelas Alan.
" Untuk apa melaporkan Dini ke Polisi ? " tanya Dani.
Alan menceritakan kejahatan yang telah dilakukan oleh Dini, mulai dari ia meracuni Zaqi dengan Narkoba, ia juga terlibat dalam penculikan Zaqi dan beberapa kejahatan yang dilakukan oleh Dini.
" Lagu bagaimana dengan Zaqi ?" tanya Dani lagi.
" " Zaqi saat ini sudah dalam keadaan yang baik dan juga sehat, dan Dokter telah mengatakan bahwa terapi yang dilakukan oleh Zaqi berhasil, dan saat ini tinggal memulihkan kondisi tubuhnya. " jawab Alan.
" Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa terhadap Zaqi. " jawab Dani.
" Kalau begitu aku akan menemui Desi. " ucap Alan lalu berjalan masuk ke ruangan Desi.
" Desi, bagaimana keadaan mu saat ini ? dan siapa yang menelpon sehingga kau harus jatuh dan pingsan. " tanya Alan.
Desi kemudian menceritakan semuanya yang ia dengar dari penelpon yang mengaku sebagai orangnya Edo. Dengan berurai air mata Desi menceritakan semuanya termasuk ia telah kehilangan calon anaknya.
" Desi, apa yang telah dikatakan penelpon tersebut benar adanya, jangankan dirimu yang belum lama mengenal Edo, aku yang sudah bertahun-tahun lamanya bersahabat dengan dirinya juga tidak menyangka bahwa ia bisa melakukan hal seperti itu. "
" Dan wanita yang dibunuh oleh Edo itu adalah mendiang ibuku, aku juga sangat terpukul seperti dirimu. Bagaimana mungkin, sahabat yang sudah aku anggap saudara ternyata tega membunuh wanita yang telah menganggapnya seperti anak sendiri, justru harus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan, sahabat putranya sendiri. " jelas Edo.
" Jadi apa yang dikatakan oleh orang tersebut benar ? Lalu siapa anak yang Edo culik ? " tanya Desi lagi.
" Edo menculik Zaqi demi bisa memiliki Sela. " jawab Alan singkat.
" Menculik Zaqi demi Sela, bukankah Edo mengetahui hubunganmu dengan Sela ? " tanya Desi lagi.
" Ya, aku awalnya juga tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Bahkan bukan hanya dirimu yang menjadi korban Edo. "
" Vio yang kau selidiki telah melakukan penggelapan dana dari Zaqi Bakery juga tengah hamil anaknya. Dan juga Dewi personalia di perusahan ku sekaligus sahabat kami juga hamil anak Edo. " jelas Alan.
__ADS_1
" Vio ? bukankah ia yang telah menjebak aku dan Edo ? " tanya Desi semakin tidak mengerti dengan apa yang telah ia dengar dari Alan. Semuanya membuatnya semakin bingung.