Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 62


__ADS_3

" Anda memang gila tuan ! " ucap Luna sambil menggelengkan kepalanya.


" Hahahaha "


" Terserah bagaimana kau menilaiku ! yang pasti aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan. " jawab Edo setelah puas tertawa.


" Tapi tuan bukankah tadi anda mengatakan bahwa tuan Alan adalah sahabat anda ! lalu apa yang membuat anda tega melakukan semuanya itu ? " tanya Luna dengan penasaran.


" Itu masalah pribadiku ! tugasmu adalah bekerja dengan baik, jika kau tidak ingin mengalami nasib yang buruk. " ucap Edo dengan sinis.


" Maaf tuan. " ucap Luna sambil menundukkan kepalanya.


" Bagus ! dan ingat jika Alan kembali untuk mencari Hpnya yang ketinggalan. Serahkan HP tersebut dan segera kabari aku ! " ucap Edo sambil menyerahkan HP milik Alan.


" Baik tuan. " jawab Luna dengan sopan.


" Bagus ! " ucap Edo kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara Alan terbakar emosi saat mendengar semua yang di ucapkan oleh sahabatnya. Ia hampir saja melangkah keluar untuk menghajar Edo, namun Sela dan juga anak buahnya berhasil mencegahnya.


Demi keselamatan Sela, akhirnya Alan menuruti keduanya. Dan mendengarkan semua pengakuan Edo tentang apa yang telah ia lakukan terhadap Alan dan keluarganya.


" Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang ? jika kita keluar maka kita tidak bisa menjamin keselamatan nona dan kita belum tau keadaan tuan muda Zaqi. "


" Bahkan kita belum tau siapa orang kepercayaan tuan Edo yang bergabung dengan orang-orang kita. " tanya orang kepercayaan Alan.


" Kita harus tenang dan berfikir serius agar kita tidak salah dalam melangkah. Kita juga tidak tau siapa saja yang menjadi korban Edo jika kita salah dalam melangkah. " ucap Sela.


Sementara Alan masih mencoba menenangkan pikiran, mereda emosi dengan menghembuskan nafasnya berkali-kali dengan kasar. Ia duduk dengan menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


Ia tidak menyangka bahwa Edo sahabatnya yang sangat ia percayai selama ini adalah dalang dari semua masalah yang selama ini ia hadapi.

__ADS_1


Ia bahkan telah mencurigai Dewi sahabatnya dan juga mang Dadang orang tua yang begitu menyanyi dirinya seperti anak kandung sendiri.


Tak terasa air matanya menetes, sebagai bukti bahwa saat ini ia dalam keadaan yang sangat terluka. Perlahan Sela mendekati Alan, dengan lembut ia menghapus air mata yang menetes di pipi Alan. Sela bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Alan, mengetahui kenyataan sepahit ini.


" Alan kau harus kuat demi aku dan Zaqi. " hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Sela, karena ia tidak tau harus berkata apa agar Alan bisa bangkit dari kesedihannya.


Perlahan Alan membuka matanya, ia menatap wajah cantik yang selama ini selalu menghiasi hidupnya. Seorang wanita yang sangat ia cintai namun juga di inginkan oleh sahabatnya sendiri. Alan tersenyum sambil menatap Sela.


" Sayang aku akan melindungi mu bahkan dengan nyawaku. Tidak akan aku biarkan Edo menyentuh mu meskipun hanya seujung kuku. " ucap Alan sambil bangkit dan memeluk tubuh Sela.


Setelah itu ia mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi seseorang.


" Maaf tuan, apakah ponsel tersebut tidak diketahui oleh tuan Edo ?" tanya orang kepercayaannya.


" Tenanglah ! ini ponsel khusus yang hanya aku gunakan untuk menghubungi satu orang saja. " jawab Alan dengan sangat yakin.


" Halo tuan, saat ini aku butuh bantuan dari mu. Aku punya sebuah masalah yang aku tidak mampu untuk menyelesaikannya sendiri. " ucap Alan setelah panggilan tersebut tersambung.


" Baik tuan, jika masalah ini sudah terselesaikan saya akan membantu Anda untuk mencari orang yang anda maksud. " ucap Alan kemudian mengakhiri panggilan telepon tersebut.


" Apakah kau meminta bantuan kepada polisi ? " tanya Sela dengan polosnya.


" Tidak sayang ! Polisi tidak akan bisa melakukan apapun tanpa adanya sebuah bukti. Hal itu juga mungkin yang dipikirkan oleh mang Dadang atau anaknya sehingga memilih menyelesaikan masalah ini dengan cara mereka sendiri. " ucap Alan.


" Lalu siapa yang bisa membantu kita ?" tanya Sela.


" Tenanglah sayang, bukankah aku sudah berjanji akan melindungi kalian bahkan dengan nyawaku sendiri. "


" Aku memang tidak mampu melawan Edo secara langsung, karena aku tidak tau siapa saja orang terdekatku yang telah ia ancam atau yang telah masuk dalam perangkapnya. " jelas Alan.


" Lalu ? " tanya Sela kemudian.

__ADS_1


" Jika kita masuk ke kandang harimau, pilihan kita hanya meminta tolong kepada pawang harimau tersebut agar kita bisa keluar dengan selamat. " jawab Alan.


" Aku tidak mengerti Alan. " jawab Sela dengan jujur.


" Sudahlah sayang kau akan mengetahui setelah semuanya selesai. " ucap Alan sambil mengusap kepala Sela dengan lembut.


" Apakah tuan Alan meminta bantuan kepada mafia X ? karena hanya itu jalan yang bisa dilakukan agar semuanya selamat. Karena aku yakin hanya mafia itu yang bisa menyelesaikan masalah yang sangat rumit ini. " batin orang kepercayaan Alan.


" Sementara kita akan tinggal di sini, sampai keadaan aman maka kita akan keluar dari sini. Saat ini kita perlu menyusun rencana untuk keluar dari wilayah kekuasaan Bram. " ucap Alan yang kemudian disetujui oleh mereka semua.


" Aku juga sependapat dengan anda tuan, karena tempat ini telah di jaga dengan ketat oleh pasukan tuan Edo. " ucap Luna yang masuk sambil membawa beberapa makanan.


" Terimakasih. " ucap Sela dengan tersenyum.


" Jangan sungkan, saat ini tujuan kita sama yaitu untuk memberikan pelajaran yang paling berharga untuk Edo. " jawab Luna.


" Kau benar, Lalu apakah kau tau tentang Dewi ? salah satu karyawan di perusahaan ku dan juga merupakan sahabatku dan juga Edo. " Tanya Alan.


" Maaf tuan, saya belum pernah mendengar nama wanita itu. " jawab Luna dengan jujur.


" Baiklah ! kalau begitu apakah ibuku pernah bercerita tentang ayah kandungku ? " tanya Alan kemudian.


" Tidak tuan, nyonya hanya berkata agar anda mengunjungi beliau dan menyerahkan kotak yang tadi tuan. " jawab Luna.


" Ah hampir saja aku melupakan hal itu. " ucap Alan. Kemudian ia mengambil sebuah kamera yang ia ambil dari dalam kotak perhiasan tersebut.


" Ini kamera yang sangat antik, dan menjadi barang-barang langka. Tapi ibu bahkan sudah memiliki Kamera ini . " ucap Alan sambil mengotak-atik kamera tersebut.


Setelah beberapa saat akhirnya Alan bisa mengoperasikan kamera antik tersebut. Kemudian Alan mendekati Sela agar wanita itu juga bisa melihat video yang tersimpan di kamera tersebut.


Dalam rekaman video tersebut, terlihat sepasang pengantin yang mengikrarkan janji suci pernikahan mereka. Dengan penuh khidmat acara ijab kabul tersebut berlangsung meskipun sangat sederhana.

__ADS_1


Setelah itu terlihat suasana yang penuh dengan sebuah kebahagiaan, di wajah sang wanita ketika mendengar bahwa ia telah mengandung, begitu juga sang pria yang langsung menghujani ciuman pada wajah istrinya.


__ADS_2