Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 22


__ADS_3

" Ibu ayo kita pulang, om Alan harus bekerja dan Zaqi juga harus sekolah " ucap Zaqi setelah di samping Sela.


" Pulang ? apakah Zaqi sudah puas bermain disini ? " tanya Sela


" Lain kali saja ibu " jawab Zaqi singkat sambil menarik tangan Sela.


Sela mengikuti langkah Zaqi sambil menatap Alan dengan penuh tanya, sementara Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikuti berjalan di belakang Zaqi dan Sela.


Sepanjang jalan pulang Zaqi hanya diam tak banyak bicara sambil menatap jalanan di balik kaca.


" Om kenapa kembali kesini ? tolong antarkan kami pulang " ucap Zaqi saat memasuki halaman villa Alan.


" Maaf Ada sesuatu yang harus om ambil " jawab Alan


" Baiklah, kami akan menunggu di dalam mobil saja dan tolong jangan terlalu lama " jawab Zaqi


Sementara Sela dan Alan saling menatap dan tak bisa berkata-kata, begitu juga dengan Bu Nur. Alan segera masuk ke dalam villa untuk mengambil sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia ambil.


Setelah beberapa saat Alan keluar dan kembali menjalankan mobilnya menuju tempat tinggal Sela. Dan Zaqi tetap diam seribu bahasa. Ada segudang tanya di benak Sela dengan perubahan Zaqi.


Padahal beberapa saat lalu ia nampak bahagia dan ceria saat bermain di pantai bersama Alan. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah Sela.


" Terimakasih om Alan untuk semuanya " ucap Zaqi setelah itu ia turun tanpa menoleh dan mengajak Alan untuk masuk.


" Nak Alan mari masuk " ucap Bu Nur setelah turun.


" Baik Bu nanti saya menyusul, ada sesuatu yang akan saya sampaikan kepada Sela " jawab Alan sambil tersenyum.


" Sela, maafkan aku. Mungkin Zaqi kecewa denganku karena tadi ia sempat mendengar pembicaraan kami ditelpon ".


" Aku harus meninggalkan kota ini untuk mengurus perusahaan di kota A. Karena ada masalah serius yang harus aku selesaikan " jelas Alan.


" Alan pergilah, jangan di ambil hati sikap Zaqi. Pasti nanti ia akan mengerti " jawab Sela sambil tersenyum.

__ADS_1


" Terimakasih Sela, aku minta maaf atas semua ini " jawab Alan sambil menatap lekat wajah pujaan hatinya.


" Ayo masuk, kita bisa ngobrol di rumah biar lebih nyaman " ucap Sela. Kemudian mereka turun dan masuk kedalam rumah.


Setelah beberapa saat berbincang di ruang tamu. Alan menatap kedalam beberapa kali namun tetap tidak melihat Zaqi. Anak itu tetap bertahan di dalam kamarnya tanpa bersuara.


" Sela maafkan aku, lebih baik aku segera pamit tolong sampaikan maafku untuk Zaqi " ucap Alan.


" Alan jangan menjadi beban dihati, nanti aku yang akan menjelaskan semuanya kepada Zaqi " jawab Sela mencoba untuk meyakinkan.


" Sela tolong bantu aku untuk mengurus perusahaan yang disini, dan lusa ada undangan peresmian perusahaan Zaqi Bakery, hadirlah sebagai perwakilan perusahaan kita "


" Nanti dini hari aku harus segera berangkat karena masalah ini sangat serius jika tidak segera ditangani aku takut akan semakin parah dan semakin banyak kerugian yang harus aku tanggung " jelas Alan.


" Segera selesaikan urusan itu dan segera pulang " ucap Sela sambil menundukkan kepalanya.


" Sela " Alan menarik nafasnya dalam-dalam. Setelah itu ia berpamitan untuk pulang dengan langkah yang gontai.


" Hati-hatilah jaga hatimu untukku " ucap Sela saat mengantar Alan ke mobilnya.


Alan mengangguk dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Sela tanpa sempat mencium wanitanya.


" Zaqi, coba ceritakan kepada ibu apa yang membuat Zaqi seperti ini " ucap Sela setelah masuk ke kamar Zaqi dan ia duduk di samping ranjang Zaqi.


Sementara Zaqi tetap pada posisinya tidur sambil memeluk guling. Lama Sela menunggu Zaqi untuk bercerita namun Zaqi tetap tidak bergeming sedikitpun.


" Zaqi jangan membuat ibu semakin khawatir nak, bicaralah nak agar beban yang ada di hati bisa sedikit berkurang " ucap Sela namun Zaqi tetap tidak bergeming sedikitpun.


Akhirnya Sela meninggalkan Zaqi yang akhirnya terlelap, dengan memendam segala rasa yang ia sembunyikan dan ia simpan rapat-rapat.


" Ibu, apakah Zaqi menceritakan atau mengucapkan sesuatu ?" tanya Sela setelah melihat ibunya.


" Tidak, dari awal ia masuk ia tetap diam meskipun ibu sudah bertanya. Bahkan ia hanya menurut saat ibu suruh mandi. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar tanpa berbicara satu patah katapun " jelas Bu Nur.

__ADS_1


" Apakah Zaqi begitu kecewa dengan kepergian Alan ? padahal sewaktu mas Dani meninggalkan kami dalam kondisi terpuruk Zaqi tidak seperti ini " Jelas Sela.


" Mungkin Zaqi terlalu sayang dan berharap banyak kepada nak Alan, Sehingga ia merasa kehilangan sosok nak Alan " ucap bu Nur


" Semoga Zaqi tetap baik-baik saja dan bisa segera mengatasi masalah di hatinya " ucap Sela.


Setelah berbincang-bincang dengan ibunya, Sela masuk kedalam kamar dan segera menyalakan laptopnya untuk memeriksa semua laporan dari masing-masing orang kepercayaan yang ia tempatkan untuk mengurus cabang toko roti dan lainnya.


" Sela makan dulu nak, jangan lupa jaga kesehatan jangan sampai sakit seperti waktu itu " ucap Bu Nur.


" Iya ibu, sebentar lagi Sela makan setelah menyelesaikan beberapa laporan ini " jawab Sela.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Sela keluar untuk makan malam dan setelah itu ia kembali melihat keadaan Zaqi. Namun Zaqi masih terlelap dengan posisi yang tidak berubah sama sekali.


" Nak, tidurlah tapi besok ibu berharap engkau kembali menjadi Zaqi putra kesayangan ibu " ucap Sela sambil mengusap pucuk kepala Zaqi. kemudian ia melangkah keluar menuju ke kamarnya.


Sela kembali membuka laptopnya hingga tak terasa malam semakin larut. Ia kemudian beristirahat setelah merapikan peralatan kerjanya.


" Alan aku merindukanmu, beberapa hari ini aku selalu tidur dalam dekapanmu " ucap Sela dalam hati sambil tersenyum ia mengingat kembali kenangan indah saat bersama Alan.


" Kenapa aku seperti ini, ah Alan kau benar-benar membuat aku gila " batin Sela. Kemudian ia akhirnya terlelap sambil membawa Alan dalam mimpi indahnya.


Sementara Zaqi terbangun dan duduk menyandar sambil memeluk guling. Ia terisak-isak.


" Om Alan, padahal Zaqi masih ingin bersama om Alan, Zaqi ingin om Alan menemani hari-hari Zaqi " ucap Zaqi sambil terisak-isak.


Ia merindukan sosok seorang ayah selama ini, namun tetap ia simpan rapat-rapat dalam hatinya. Dan saat ia bersama Alan ia menemukan sosok yang selama ini ia rindukan.


Seorang ayah yang penuh kasih sayang. Seorang ayah yang bisa melindungi ia dan ibunya dari segala sisi.


Alan telah menempati sisi kosong di hati Zaqi, sejak Dani pergi meninggalkan ia dan ibunya. Dengan alasan pekerjaan dan akhirnya mencampakkan ia dalam kondisi yang sangat menyedihkan.


Ia begitu takut saat mendengar Alan juga harus meninggalkan ia dengan alasan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Ia takut Alan akan meninggalkan ia seperti Dani yang telah menghancurkan semua mimpi-mimpi indahnya.

__ADS_1


__ADS_2