Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 43


__ADS_3

" Desi kau masih berhutang padaku ! sekarang jelaskan mengapa kau menikah tidak memberi tahu aku ? Dan sejak kapan kau mengenal Edo ? " tanya Sela.


Kemudian Desi menjelaskan kronologi kejadian yang ia alami mulai dari bertemu dengan Dani dan meminta bantuan Alan hingga bertemu dengan Edo yang akhirnya berakhir di ranjang Edo kemudian memutuskan untuk segera menikah.


" Lalu apa rencanamu selanjutnya ?" tanya Sela kemudian.


Namun Desi hanya diam memandang wajah Sela dan Edo bergantian.


" Mungkin kami akan tinggal di sini beberapa hari untuk membereskan pekerjaan ku, karena lusa aku ada jadwal operasi yang sudah aku tandatangani baru setelah itu kami akan pergi menemui orang tua Desi dan keluarga. " jawab Edo.


" Baiklah ! jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan atau yang lainnya, kau boleh mengatakan semuanya kepadaku. " ucap Sela sambil menatap wajah Desi secara inten.


" Aku masih bingung, apa yang harus aku lakukan. " ucap Desi kemudian menundukkan kepalanya.


" Apa yang membuatmu bingung ? jika masalah pekerjaan kamu tinggal telpon Bos mu katakan bahwa kau ingin ijin untuk pulang kampung. Dan kita akan meminta restu orang tua mu. " ucap Edo meyakinkan Desi.


" Apa ada masalah yang lainnya ?" tanya Sela.


Desi menghembuskan nafasnya dan bersandar di kursi, dan matanya mulai berkaca-kaca.


" Jika ada masalah katakanlah ! kita akan menghadapi semua bersama, Ok ! " ucap Edo sambil meraih tubuh Desi kemudian memeluknya mencoba menenangkan Desi.


Desi perlahan menceritakan masa lalunya bersama keluarga dan matan suaminya. Desi takut Edo dan dirinya akan di manfaatkan oleh mantan suaminya dan keluarganya karena Desi belum mempunyai surat cerai.


" Serahkan masalah itu kepada Edo ! biar dia melakukan operasi kepada mantan suami mu dan keluarganya. " jawab Alan.


" Alan benar sayang, serahkan masalah itu kepada suamimu ini, hem ! " ucap Edo.


Drt Drt


Ponsel Alan bergetar dan ia menerima panggilan tersebut.


" Tuan kami gagal menemukan nona Vio, tetapi ia juga tinggal di apartemen yang sama dengan tuan Edo. Hanya saja apartemen itu ia kunjungi tidak setiap hari. Namun saya telah menangkap orang yang sering memberikan minuman yang sudah dicampur dengan narkoba untuk tuan muda Zaqi. "

__ADS_1


" Sekarang orang tersebut ada di tempat kita, apa yang seharusnya saya lakukan tuan ? melanjutkan mencari nona Vio atau bagaimana tuan ?" ucap pria itu dari sebrang.


" Tunggu saja di tempat aku akan segera kesana jika urusanku telah selesai !" ucap Alan kemudian menutup teleponnya kemudian memasukkan ke dalam saku celananya.


" Ada apa ? kenapa exspresi wajahmu berubah ?" tanya Sela sambil menatap wajah Alan.


" Ada sedikit masalah sayang, tapi kamu jangan khawatir. " ucap Alan sambil tersenyum.


" Edo, ternyata Vio juga mempunyai apartemen di sini juga ! meskipun ia tidak tinggal di sini setiap harinya. Kau tau apa yang harus kau lakukan. " ucap Alan kemudian.


" Serahkan Vio kepadaku, dia adalah urusanku. Dia harus membayar mahal perbuatannya. Dan aku juga akan berterima kasih kepadanya karena telah mencarikan aku seorang istri yang cantik dan hebat di ranjang. " jawab Edo sambil tersenyum menatap wajah Desi yang memerah mendengar ucapan Edo.


" Baiklah kami akan pulang, selesaikan hasratmu dan bereskan Vio !" ucap Alan dan menarik tangan Sela lalu pergi meninggalkan Edo dan Desi.


" Alan mengapa kita buru-buru pergi ? ada yang ingin aku tanyakan lagi kepada Desi. " tanya Sela setelah mereka masuk ke dalam mobil.


" Mereka pengantin baru sayang, jadi kita jangan mengganggu jika ada sesuatu kau bisa menanyakannya di telepon saja. " jawab Alan sambil mengemudikan mobilnya perlahan.


" Kita akan ke kantor KUA sayang. " jawab Alan santai.


" Kau sudah gila ya ! aku tidak mau menikah seperti Desi dan Edo !" jawab Sela dengan kesal.


" Kau salah paham sayang ! kita ke KUA hanya untuk sekedar lewat saja, karena aku akan mengajakmu ke mansion kita. " kata Alan dengan tersenyum.


" Mansion ? untuk apa ? " tanya Sela.


" Untuk apa ? tentunya untuk melepaskan rindu sayang. " jawab Alan sambil tersenyum menggoda.


" Kau ... . " ucap Desi terhenti saat dengan mendadak Alan mengerem mobilnya.


" Ada apa ?" tanya Sela sambil memegang kepalanya yang sedikit terbentur.


" Ayo cepat turun ! kita harus segera berlari sejauh mungkin. " ucap Alan dan Sela mau tidak mau mengikuti perintah Alan.

__ADS_1


Setelah beberapa meter keduanya berlari, Alan segera menarik tubuh Sela dan mengajaknya bersembunyi di balik pepohonan.


Tiba-tiba muncul asap yang tebal berwarna putih dari dalam mobil Alan. Alan menyentuh bibir Sela memberi kode agar Sela diam. Keduanya memperhatikan dari jauh apa yang terjadi dengan mobil yang mereka kendarai.


Setelah asap dari mobil tersebut menghilang muncul beberapa orang yang berpakaian serba hitam datang menghampiri mobil tersebut. Dan salah satu dari mereka segera menghubungi seseorang.


Sementara yang lainnya menyebar untuk mencari orang yang seharusnya ada di dalam mobil tersebut.


Dengan cepat Alan melepaskan jas yang ia kenakan dan menjadikannya sebagai alas, kemudian Alan menarik tubuh Sela dan memposisikan tubuh keduanya seperti orang yang sedang bercinta.


" Brengsek ! dasar pasangan mesum, apakah kalian tidak mempunyai uang hanya untuk sekedar menyewa hotel ? bisa-bisanya bercinta di luaran seperti ini. " umpat salah seorang dari mereka yang mungkin sedang mencari keberadaan Alan.


Setelah itu mereka menyusuri tempat yang lainnya, sementara Alan masih mencium bibir Sela dengan lembut dan enggan untuk menarik tangannya dari tubuh Sela.


" Sabar junior ! ini belum waktunya kau masuk ke sarang mu." batin Alan.


Sementara Sela dengan kasar mendorong tubuh Alan. Dan ia duduk untuk segera merapikan pakaiannya.


" Kau jangan mencuri kesempatan di saat seperti ini !" ucap Sela dengan kesal.


" Sayang jangan salah paham ! untuk sementara kita disini sampai mang Dadang datang untuk menjemput kita. " kata Alan sambil mengatur posisi duduknya karena sang junior yang terlanjur bangun.


" Apa yang sebenarnya terjadi ? kepalaku sakit karena terbentur dan sekarang kau membuat tubuhku sakit karena kau memanfaatkan keadaan dengan paksa. " tanya Sela sambil memijit keningnya.


" Sayang maafkan aku ! nanti akan aku jelaskan semuanya jika kita sudah sampai di villa. " ucap Alan sambil sesekali menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan keadaan sudah aman.


" Sayang ayo kita segera ke tepi jalan sebelah sana ! pasti sebentar lagi mang Dadang akan segera sampai." ucap Alan mengajak Sela berjalan dengan susah payah meninggalkan tempat itu.


" Kenapa kau berjalan seperti itu ?" tanya Sela yang melihat Alan berjalan tidak seperti biasanya.


" Sudahlah ! ayo cepat itu mang Dadang sudah sampai. " ucap Alan.


Kemudian mengajak Sela segera berlari meninggalkan tempat tersebut dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggu mereka di tepi jalan.

__ADS_1


__ADS_2