
Ruangan tersebut menjadi sunyi, Alan seakan tak percaya bahwa sahabatnya yang ia percaya juga memendam rasa kepada calon istrinya. Bahakan yang paling ia sesali adalah mencurigai mang Dadang, orang yang menemaninya membangun semua yang ia miliki saat ini.
" Lalu, apakah benar jika kematian ibuku adalah karena perbuatan seseorang ? bukan karena suatu penyakit jantung ? " tanya Alan sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
" Ibu mu ? " tanya wanita cantik itu.
" Bukankah yang kau maksud adalah wanita dalam foto ini ? " tanya Alan sambil menunjukkan sebuah foto.
Wanita itu menerima ponsel dari tangan Alan, dengan seksama ia mengamati foto yang tersimpan di dalamnya. Mata yang awalnya memancarkan sebuah kebencian kini penuh dengan air mata, tangannya bergetar dan bibirnya terasa kelu.
" Nyonya ... . " wanita itu langsung memeluk ponsel tersebut dengan erat, seakan-akan ia memeluk seorang yang paling ia rindukan.
" Tuan apakah kau tuan Alan Kusuma Atmaja ? Putra dari nyonya Sukama dan Tuan Atmaja ? " tanya wanita itu dengan penasaran.
" Ya kau benar ! tapi dari mana kau tau nama ayahku ? " tanya Alan.
" Tuan, maafkan saya, maafkan saya." ucap wanita itu sambil bersimpuh di hadapan Alan.
" Bangunlah ! untuk apa kau meminta maaf ? bahkan kita baru bertemu untuk pertama kalinya. " ucap Alan.
" Saya yang bersalah tuan, saya yang bersalah." ucap wanita itu dengan derai air mata.
" Katakan dengan jelas ! apa maksudmu ? " ucap Akan lagi.
" Tuan, nyonya meninggal karena ingin menyelamatkan saya, beliau terbunuh saat menolong saya tuan. " tangis wanita cantik itu semakin pilu.
" Katakan siapa yang telah membunuh ibuku ! " jawab Alan sambil mengepalkan tangannya.
" Edo yang telah membunuhnya tuan, nyonya bersikeras untuk menyembunyikan keberadaan saya, nyonya juga bersikeras menyembunyikan bukti-bukti kejahatan Edo. "
" Hal itu yang membuat Edo marah dan menusukkan suntikkan beracun ke tubuh nyonya. Seharusnya suntikan itu untuk saya tuan. Sekali lagi maafkan saya tuan. " wanita cantik itu terus bersimpuh di hadapan Alan dan mengharapkan sebuah pengampunan.
" Apakah kau mempunyai buktinya ? apakah kau bisa membuktikan semua ucapan mu ? katakan ! " ucap Alan sambil meninju lantai dekat wanita itu bersimpuh.
__ADS_1
" Bukti pembunuhan itu dan juga semua bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh Edo, ada di Villa pribadi Anda dan nyonya tuan. Tetapi saya tidak tau dimana tempatnya tuan. Karena nyonya sendiri yang menyimpannya sendiri sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. " ucap wanita itu sambil terisak-isak.
" Kau pembohong ! kau sengaja membohongi aku, akan ku bunuh kau ! " ucap Alan dengan prustasi.
" Saya rela tuan bunuh, jika itu bisa menjadi syarat agar tuan memaafkan saya tuan. " ucap wanita itu dengan tulus.
Alan yang sedang dikuasai emosi langsung melayangkan tinjunya, dengan sigap orang kepercayaannya menangkis serangan Alan yang ditujukan untuk wanita yang bersimpuh di hadapan Alan.
" Alan, kendalikan emosimu. Tenang lah, pasti akan ada hikmah dari semua ini. " ucap Sela sambil memeluk tubuh Alan dari arah belakang.
Dengan sekuat tenaga Sela mencoba membalik tubuh Alan agar menghadap ke arahnya. Dengan lembut Sela mengusap rambut Alan sambil mendekap erat tubuh yang gemetar menahan amarah.
" Menangis lah Alan ! Menangis lah agar hatimu lebih tenang. " ucap Sela dengan lembut.
Perlahan Alan membalas pelukan Sela, kemudian tubuhnya bergetar karena menangis. Dengan sabar Sela menepuk-nepuk pundak Alan.
" Ada aku yang akan selalu menemanimu Alan, jangan kau ragu. Kita akan bersama-sama untuk menghadapi setiap ujian yang datang. Kita akan mencari jalan keluarnya bersama. " ucap Sela dengan lembut.
" Saya tidak tau tuan, nyonya hanya menyimpan bukti tersebut kedalam sebuah flashdisk kemudian menyembunyikannya sendiri. "
" Beliau hanya mengatakan jika suatu saat saya bertemu dengan anda, beliau ingin anda mengunjungi tuan Atmaja. Dan membawa sesuatu yang nyonya simpan selama ini. " ucap wanita itu.
" Dimana aku bisa mengunjungi ayahku ? sementara aku tidak pernah tau siapa dan seperti apa wajah ayahku. " ucap Alan dengan sinis.
Wanita cantik itu kemudian bangkit dan berjalan menuju kesebuah lemari. Dengan sangat hati-hati ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang sangat antik.
" Ini yang nyonya berikan kepada saya agar tuan bisa mengunjungi tuan Atmaja. " ucap wanita itu sambil menyerahkan kotak perhiasan antik itu kepada Alan.
" Nyonya memberikan itu kemudian menyuruh saya untuk bersembunyi sampai saya bisa menemukan tuan. " ucap wanita itu.
" Mengapa selama ini kau tidak langsung datang menemui ku ? bukankah ada ayahmu yang selalu ada di dekatku ? " tanya Alan.
" Ayahku tidak mengenaliku tuan, meskipun aku sudah berkata dengan jujur. Namun beliau tidak pernah membiarkan ada orang asing berada di dekat Anda. "
__ADS_1
" Bahkan Edo selama ini selalu membayangi tuan, untuk bisa memastikan tuan tidak tau menahu sebab kematian nyonya. " jelas wanita tersebut.
" Bagaimana kau mengetahui bahwa Edo selalu membayangi setiap langkahku ? " tanya Alan.
" Karena Edo mempunyai orang kepercayaan yang ia tugaskan untuk selalu berada di sekitar tuan. "
" Orang tersebut termasuk orang kepercayaan anda, ia salah satu anak buah anda tuan. " jawab wanita itu.
" Omong kosong ! " ucap Alan.
" Terserah anda tuan, mau percaya atau tidak tapi yang jelas, ada anak buah anda yang merupakan orang kepercayaan Edo. " tegas wanita itu.
" Tuan, jangan-jangan benar apa yang dikatakan wanita tersebut. Buktinya mengapa orang kita mengirimkan lokasi tuan muda di wilayah Bram . Dan mengapa dengan mudah musuh tau setiap pergerakan yang kita lakukan ? " ucap orang kepercayaan Alan.
" Dia benar Alan, kita harus lebih berhati-hati karena kita tidak tau siapa kawan dan siapa lawan. " ucap Sela.
" Tuan, alangkah lebih baik anda membuang ponsel yang terhubung dengan orang-orang Anda. Karena siapa tau mereka telah menyadap ponsel anda. " ucap wanita itu.
Kemudian Alan dan juga orang kepercayaan Alan membuang ponsel yang mereka gunakan.
" Biar saya buang ketempat sampah di belakang bangunan ini tuan. " ucap wanita itu kemudian keluar dan tak berapa lama masuk kembali.
" Tuan di luar banyak anak buah Bram yang datang. " ucap wanita itu dengan cemas.
" Apa maksudmu ? " tanya Alan.
" Seperti yang saya duga, Edo bisa melacak keberadaan Anda. Bersembunyi lah di ruang pribadi saya sebelum Edo masuk keruangan ini. " ucap wanita itu dengan menarik tangan Sela dan membawanya keluar menuju sebuah ruangan yang ada di sebelahnya.
Alan dan juga orang kepercayaannya mau tidak mau berjalan mengikuti wanita tersebut. Demi keamanan Sela.
" Tuan gunakan ini, agar anda bisa mendengar apa yang Edo ucapkan. " wanita itu menyerahkan sebuah speaker bluetooth setelah mereka berada di dalam ruangan.
" Bersembunyi lah untuk sementara waktu tuan agar anda bisa menjaga keselamatan nyonya. Diluar anak buah Edo sudah mengepung tempat ini. " ucap wanita itu.
__ADS_1