Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 65


__ADS_3

" Ayah, Edo adalah sahabatku tapi ia juga yang telah membunuh ibuku. " ucap Alan sambil menunduk.


" Apa yang kau katakan ! bicara dengan jelas ! " bentak tuan Atmaja.


Kemudian Alan menceritakan semua peristiwa yang terjadi, dan baru hari ini kenyataan pahit itu ia ketahui, selama ini ia tidak pernah menyangka bahwa ibunya telah dibunuh oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang ia anggap sebagai saudara sendiri.


Peristiwa kematian ibunya terjadi pada saat ia sedang berada di luar negeri, bahkan ia sempat menikahi seorang wanita karena dijebak hingga istrinya tersebut meninggal akibat sebuah kecelakaan.


Hingga peristiwa penculikan Zaqi, anak dari calon istrinya yang juga menjadi incaran sahabatnya juga. Bahkan ia juga harus menghadapi orang-orang terdekatnya.


" Kalau begitu kenyataannya kau tunggu saja biar ayah yang mengurus bajingan itu, tidak akan ku biarkan bajingan itu menikmati hidup dengan tenang. " ucap tuan Atmaja setelah mendengarkan penjelasan dari Alan.


" Bereskan semua tikus got itu, dan bawa Edo hidup-hidup ke depanku. " ucap tuan Atmaja dengan seseorang yang di sebrang telepon.


" Alan, sebaiknya kau bawa Sela ke villa, biarkan ia istirahat. Kau jangan khawatir anak buah ku akan menjaga keamanan kalian di villa. "


" Setelah itu antar aku ke makam ibumu. Aku ingin mengunjunginya. " ucap tuan Atmaja dengan menahan gejolak di hatinya.


" Ayah mari ikut kami bersama. " ucap Alan.


" Tidak nak, sebelum aku bisa menghukum bajingan itu. Ayah tidak akan mengunjungi tempat dimana istriku menghembuskan nafas terakhirnya. " ucap tuan Atmaja.


" Baiklah jika ayah menginginkan hal itu. Kami pamit dahulu ayah. " ucap Alan kemudian ia meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke villa pribadinya.


Sementara tuan Atmaja menghancurkan semua benda yang ada di hadapannya. Ia berteriak memanggil nama istrinya.


" Sukma, seandainya kau tidak memilih meninggalkan aku hanya karena aku seorang ketua mafia X, pasti kita masih bisa menjalani kehidupan dengan damai. " ucap tuan Atmaja sambil menangis pilu.


Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat Bram menghubungi.


" Kau masih punya nyali untuk menghubungi ku pecundang ! " jawab tuan Atmaja dengan aura mematikan.

__ADS_1


" Maaf tuan, apa maksudnya ? aku sungguh tidak mengerti mengapa anak buah anda membereskan semua anak buah ku, bukankah kita tidak terlibat suatu masalah ? " tanya Bram dari telepon.


" Kau tidak terlibat masalah dengan ku ? " tanya tuan Atmaja.


" Saya yakin tuan ! saya tidak pernah berani mengusik singa yang tidur tuan. " jawab Bram.


" Kau terlalu percaya diri ! pernahkah kau mendengar bahwa kekuatan mafia X tidak terkalahkan oleh siapapun. "


" Pernahkah kau mendengar mafia X mengusik atau menghukum orang yang tidak memiliki masalah dengannya ? " tanya tuan Atmaja.


" Ampun tuan, tapi saya tidak pernah mengusik anda sedikitpun. " jawab Bram.


" Kau yakin ? " tanya tuan Atmaja.


" Sungguh tuan ! " ucap Bram.


" Kau akan tahu setelah berada di markas mafia X, kau akan tahu sebentar lagi Bram. " ucap tuan Atmaja.


" Tuan saya mohon tuan ... . " ucap Bram yang langsung di putus secara sepihak oleh tuan Atmaja.


Sementara Alan dan yang lainnya pulang menuju ke villa pribadinya. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di villa dan benar saja orang-orang yang berjaga di villa tersebut telah berganti semua dengan orang-orang mafia X.


" Alan, dimana organ-orang yang biasanya berjaga di sini ? " tanya Sela sambil mengamati orang-orang yang terlihat asing itu.


" Entahlah, semoga bagi mereka yang masih setia terhadap ku terselamatkan, jujur saja aku juga tidak mengetahui siapa di antara mereka yang benar-benar setia terhadap Ku. " ucap Alan.


Setelah sampai di depan pintu, mereka langsung disambut oleh pelayan yang juga di jaga oleh orang-orang mafia X.


" Tuan, saya takut tuan semua anak buah tuan yang biasanya berjaga di sini sudah dibawa entah kemana oleh orang-orang itu. Dan sekarang setiap apapun yang kami lakukan selalu mereka awasi tuan. " ucap seorang pelayan yang menghampiri Alan.


" Bibi kalian jangan takut, jika kalian adalah orang yang jujur dan masih setia terhadap ku maka kalian akan aman dan selamat. Tapi jika sebaliknya aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian dan juga keluarga kalian. " jawab Alan.

__ADS_1


" Tuan, mengapa anda bicara seperti itu ? apakah ada di antara kami yang telah menyinggung perasaan tuan ? " tanya pelayan yang lainnya.


" Hanya kalian yang tau jawabannya. " ucap Alan sambil melangkah meninggalkan mereka dan menuju kamar atas.


Sementara para pelayan itu saling pandang satu dengan yang lainnya, melihat reaksi majikannya yang berbeda seratus delapan puluh derajat.


Sementara Alan dan Sela langsung masuk ke dalam kamar dan segera mencari flesdisk yang mereka temukan di setangkai bunga waktu itu.


Setelah menemukannya, Akan kembali mengotak Atik laptopnya dan mencoba beberapa kata sandi namun belum berhasil, kemudian ia merenung sejenak dan menghubungi tuan Atmaja.


" Ayah, apakah kau tau kata sandi yang biasanya digunakan oleh mendiang ibu untuk menyimpan sebuah file berharga ? " tanya Alan ketika sambungan telepon terhubung.


" Apakah ibumu pernah memanggil mu dengan sebutan lain, sebuah nama panggilan yang itu bukan namamu dan hanya menyebutmu dengan nama tersebut saat kalian hanya berdua ? " tanya tuan Atmaja.


" Ya aku akan mencobanya ayah, lalu ayah sekarang berada di mana ? " tanya Alan sambil jemarinya tetap berselancar di atas keyboard.


" Berhasil ! " seru Alan sebelum mendapatkan jawaban dari ayahnya.


" Ayah ada di markas, kemarilah jika kau ingin mengetahui apa yang akan ayah lakukan kepada anak buahmu yang berkhianat itu. " tuan Atmaja.


" Ayah aku akan menghubungkan perangkat ini dengan milikmu, lihatlah apa yang aku temukan. " ucap Alan sambil terus mengotak-atik Keyboard nya.


Setelah itu mereka melihat sebuah video yang tersimpan didalam flesdisk itu. Disitu terlihat ibu Sukma yang sedang duduk di sebuah taman yang terletak di belakang villa.


Beliau sedang di temani oleh seorang gadis yang setia memijat kakinya. Namun tiba-tiba datang seorang lelaki yang tak lain adalah Edo.


Dengan kasar Edo mendorong tubuh gadis itu dan langsung mencekik leher ibu Sukma yang masih duduk santai.


" Tuan, kau jangan macam-macam aku bisa berteriak agar anda ditangkap oleh para penjaga. " ucap gadis itu yang tak lain adalah Luna.


" Berteriak lah sekuatmu ! karena tidak akan ada yang mendengar teriakkan mu. " jawab Edo.

__ADS_1


" Tapi kau benar ! jika aku membunuhnya dengan mencekiknya maka polisi akan menangkap ku, karena ada sidik jariku. " jawab Edo.


" Bawa gadis ini dan masukkan ia ke rumah bordir. Dan jika ia macam-macam jangan sungkan untuk membunuhnya. Aku akan mengurus wanita tua ini sebelum Alan kembali dari luar negeri. " ucap Edo.


__ADS_2