
Setelah sampai di depan gang Alan dan yang lainnya masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. Setelah itu mereka melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah beberapa saat mereka melakukan mobilnya, mereka di hadang oleh sebuah mobil yang berlambangkan X, perlahan mobil yang dikendarai oleh Alan berhenti dan menghampiri mobil yang menghadangnya.
" Tuan, maaf mengganggu kenyamanan anda dalam perjalanan. Saya hanya ditugaskan oleh King untuk bertukar mobil dengan Anda. " ucap pria tinggi besar itu.
" Baik, dimana King berada ? " tanya Alan.
" Beliau menunggu Anda di Hotel yang terletak di jalan W. " ucap pria itu.
" Ok, terimakasih banyak atas bantuannya. " ucap Alan kemudian mereka saling bertukar mobil dan berjalan menuju arah yang berbeda.
Alan dan yang lainnya segera menuju hotel yang berada di jalan W, guna untuk bertemu dengan seorang yang selama ini Akan anggap tidak ada lagi di dunia ini.
Dengan perasaan yang bercampur aduk Alan hanya bisa menghembuskan nafasnya yang memburu. Ia merasa sangat gugup padahal dulu saat ia bertemu dengan King mafia, ia tidak pernah gugup sama sekali.
Berbeda dengan saat ini, ia akan menemui seorang ayah yang selam bertahun-tahun ia rindukan, ayah yang selama ini ia anggap telah meninggalkan dunia ini semenjak ia belum lahir.
" Alan, jangan gugup semaunya pasti akan baik-baik saja. " ucap Sela sambil menggenggam tangan Alan.
" Sayang aku gugup sekali, aku merasa seolah-olah aku akan memulai sesuatu yang belum pernah aku lakukan, padahal aku sudah sering bertemu dengannya. " ucap Alan sambil mengeratkan genggaman tangannya.
" Iya, aku tau ! tapi kau harus tetap tenang. Jika kita sudah menunjukkan video tersebut kau boleh memeluknya dan mencurahkan segala rasa yang selama ini kau pendam. " ucap Sela.
Alan kemudian mengangguk dan tersenyum menatap wajah Sela. Kemudian memeluk tubuh Sela sambil memejamkan matanya. Ia mencari sebuah ketenangan dalam pelukannya.
Setelah beberapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alan sampai di depan hotel yang mereka tuju.
Kemudian mereka menuju ke sebuah ruangan VIP tempat tuan Atmaja dengan di antar oleh pelayan hotel tersebut.
Setelah mengetuk pintu, Alan dan yang lainnya masuk kedalam ruangan tersebut. Di dalam sudah ada tuan Atmaja yang tengah menikmati segelas kopi.
Alan menatap intens wajah ayahnya dengan tatapan yang sendu. Ia sebuah kerinduan yang ingin segera ia tuntaskan di sana.
__ADS_1
" Alan kau sudah sampai ? " tanya tuan Atmaja. Namun Akan masih tak bergeming menatap setiap garis wajah ayahnya.
" Alan ! apakah masalah yang kau hadapi sangat serius ? sehingga kau meminta bantuan dari ku yang selama ini selalu kau tolak. Dan apa yang membuat dirimu menatap wajahku seperti itu ? apakah aku terlalu lama bergerak untuk menolong mu ?" tanya tuan Atmaja lagi.
" Iya. " ucap Alan tanpa sadar.
" Maaf Alan jika kau merasa gerakan kami terlalu lambat. Aku hanya masih memilih setia orang yang terlibat dalam masalah ini, dan harus memilah dan memilih siapa yang bersalah dan yang tidak bersalah. "
" Hal itu aku lakukan agar, anak buah ku tidak salah dalam menghukum seorang musuh. " jelas tuan Atmaja.
" Iya. " jawab Alan lagi.
" Tuan, maaf bolehkah Alan minum sebentar agar dia bisa lebih fokus. " ucap Sela saat melihat Alan yang masih terpaku menatap wajah ayahnya.
" Oh, silakan ! kalian bisa memesan makan dan minum yang kalian suka. Maaf saat ini saya hanya merasa aneh dengan sikap Alan. Sampai melupakan makanan dan minuman untuk kalian. " ucap tuan Atmaja dengan tersenyum.
Kemudian ia menekankan sebuah tombol yang terletak di sisi meja, dan tak berapa lama datang seorang pelayan dengan membawa begitu banyak makanan dan minuman terbaik dari restoran hotel tersebut.
" Silakan nikmati hidangan yang ada, dan jangan sungkan. " ucap tuan Atmaja sambil tersenyum.
" Alan minumlah dahulu, dan fokus lah. " ucap Sela dengan lembut.
Kemudian Akan menenggak habis minum yang diserahkan oleh Sela. Setelah itu Akan mengatur hati dan juga pikiran. Setelah itu ia menyerahkan sebuah kamera kepada tuan Atmaja.
" Dari mana kau mendapatkan kamera ini ! Dimana istriku ? " tanya tuan Atmaja dengan penuh emosi dan dengan suara yang serak.
" Maaf tuan, sebaiknya anda melihat rekaman video dalam kamera tersebut. Setelah itu anda bisa tau kebenaran yang selama ini Anda dan Alan tidak mengetahui. " ucap Sela mencoba menenangkan tuan Atmaja.
" Kalian jangan macam-macam dan jangan mencoba memanfaatkan perasaan yang selama ini aku pendam !" ucap tuan Atmaja.
" Tidak tuan, kami tidak berani melakukan itu. " jawab Sela dengan tenang.
Perlahan tuan Atmaja melihat rekaman video tersebut, perlahan ada kristal bening yang menetes dari sudut matanya, terlihat senyuman dan kerinduan yang terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
" Alan kau adalah putraku yang selama ini aku cari ? " tanya tuan Atmaja dengan suara yang bergetar. Perlahan Alan mengangguk dan mendekati tuan Atmaja.
Alan berdiri dengan lututnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang ayah. Dengan lembut tuan Atmaja mengangkat wajah Alan dan dengan lembut mencium kepala Alan kemudian mendekapnya dengan erat.
Alan dan tuan Atmaja saling memeluk melepaskan semua kerinduan yang mereka rasakan dengan air mata yang menetes.
Sementara Sela dan anak buah Alan juga ikut menangis, merasa terharu dengan peristiwa yang ada di hadapan mereka.
Setelah puas tuan Atmaja melepaskan pelukannya. Dan tersenyum sambil menyeka air matanya.
" Anakku sekarang katakan di mana mami mu ? " tanya tuan Atmaja.
" Ibu sudah lama tiada ayah. " ucap Alan masih dengan Isak tangis.
" Apa ! kau panggil dia ibu tapi kau bilang dia sudah tiada ? " tanya tuan Atmaja sambil duduk dengan lemas.
" Kau pasti berbohong anakku ! kau pasti berbohong. Istriku tidak akan meninggalkan aku sebelum kami bersatu kembali. " ucap Tuan Atmaja.
" Ibu sudah tiada ayah. " ucap Alan sekali lagi.
" Kau berbohong !" ucap tuan Atmaja sambil mengebrak meja.
Alan dengan kuat memeluk tubuh ayahnya. Ia tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling kita sayangi. Meskipun Alan tidak mengetahui bagaimana rasanya kehilangan seorang istri namun Alan tau bagaimana sakitnya kehilangan seorang ibu. Tubuh keduanya bergetar karena tangis masing-masing.
" Katakan siapa yang telah membunuh istriku ! karena ia tidak mungkin meninggalkan aku selamanya tanpa pamit. " tanya tuan Atmaja dengan mengundang tubuh Alan.
" Ayah ... . " ucap Alan.
" Katakan ! " bentak tuan Atmaja.
Dengan tenang Sela berdiri menghampiri keduanya. Dengan lembut memeluk tubuh Alan, mencoba memberikan sebuah ketenangan.
" Kau ? apakah kau adalah menantuku ? apakah anak yang diculik itu adalah cucuku ? " tanya tuan Atmaja dengan serius. Sementara Sela hanya mengangguk sambil memeluk tubuh Alan.
__ADS_1
" Bajingan itu ! " ucap tuan Atmaja dengan mengepalkan tangannya.