
Alan dan Sela kembali ke Villa pribadi Alan, dengan mengendap-endap keduanya masuk, dan setelah berhasil Meraka duduk di taman belakang untuk bersantai seolah mereka tidak tau apa yang terjadi.
Mang Dadang yang tanpa sengaja lewat, langsung menghampiri mereka.
" Tuan apa yang bisa saya bantu ? tidak biasanya anda berada di sini. " tanya mang Dadang.
" Tidak mang, jangan khawatir, aku hanya menemani Sela bersantai di sini. " jawab Alan asal.
" Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi. " ucap mang Dadang. Kemudian ia berlalu meninggalkan Alan dan Sela.
" Alan, mengapa mang Dadang bertanya seperti itu ? " tanya Sela setelah mang Dadang berlalu.
" Karena aku tidak pernah berada di sini sejak ibuku meninggal. Ini adalah untuk pertama kalinya aku berada di sini sejak saat itu. " jelas Alan.
" Alan mari kita masuk aku ingin mandi dan berganti pakaian. " ucap Sela.
" Kau ke dalam dahulu, aku ingin di sini sejenak. Nanti aku akan menyusul. " jawab Alan.
Kemudian Sela berlalu meninggalkan Alan yang masih duduk di bangku.
" Bu, aku merindukanmu ! aku sangat tersiksa jika berada di sini, taman ini selalu mengingatkan aku tentang ibu. " ucap Alan.
Perlahan Alan menyandarkan tubuhnya di bangku seperti yang biasa dilakukan oleh mendiang ibunya.
Alan menatap lurus ke arah sebuah bunga. Bunga yang terlihat ada yang lain di mata Alan. Perlahan Alan mendekati bunga tersebut.
" Apa ini ? mengapa bunga ini seperti menyimpan sebuah kamera ? " Batin Alan.
" Apakah ibu yang melakukan semua ini ? atau sebaliknya musuh dalam selimut yang melakukan ini ? "
" Lalu mengapa mang Dadang menanyakan kenapa aku ada ada disini ? dan mengapa aku merasa ada yang sedang memperhatikan aku ? " monolog Alan.
Dengan memperhatikan kondisi sekeliling, Alan mencoba menggunakan kamera handphone untuk melihat benda apa yang tersembunyi di balik keindahan bunga tersebut.
" Ternyata benar dugaanku ! terdapat kamera disini. Akau harus segera mengamankan kamera ini, agar aku tau kawan atau lawan yang memasang kamera pengintai di sini. " batin Alan.
Namun sebelum ia mengamankan benda tersebut, Alan melihat sosok yang bersembunyi di balik dinding. Alan kemudian berlalu setelah meyakinkan keadaan.
__ADS_1
Alan menyelinap di balik dinding dan memperhatikan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah beberapa saat mang Dadang menuju tempat dimana Alan berdiri.
" Apa yang dilakukan oleh Alan. Apakah ia juga mencari bukti kebenaran yang selama ini masih tertutup rapat ? " ucap mang Dadang dan kebetulan Alan mendengar ucapan mang Dadang.
" Jangan sampai Alan menemukan bukti tersebut. Aku harus bergerak cepat sebelum Alan menyadari semua ini. " ucap mang Dadang, kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
" Apa yang dimaksud oleh mang Dadang ?" tanya Alan dalam hati.
Setelah yakin keadaan Aman, Alan perlahan mengambil kamera tersembunyi yang terdapat pada sebuah bunga.
" Bunga ini palsu ! siapapun dia, dia adalah orang yang sangat jenius. " batin Alan.
perlahan membawa setangkai bunga yang terdapat kamera pengintai tersebut, dan membawanya masuk.
" Tuan anda ? " tanya mang Dadang yang tak sengaja berpapasan dengan Alan.
" Iya mang, saya ingin melamar Sela dengan bunga ini. " ucap Alan dengan tersenyum.
" Semoga sukses Tuan ! " ucap mang Dadang.
" Apa jangan-jangan benda itu yang selama ini aku cari ? " batin mang Dadang.
Sementara Alan terus melangkah meninggalkan mang Dadang dengan pikiran yang melanglang buana.
" Sayang ! terimalah bunga cantik ini, sebagai bukti bahwa kau bersedia menjadi istriku, dan bersedia hidup bersama dengan ku hingga maut memisahkan kita ?" ucap Alan saat bertemu dengan Sela.
" Alan kau ... .? " tanya Sela.
" Jawablah sayang ! bersediakah kau menjadi istriku ? " tanya Alan kembali.
Sela hanya mengangguk sebagai tanda setuju, Alan memeluk tubuh Sela sambil berbisik.
" Sayang apakah kau melihat mang Dadang ?" tanya Alan sambil berbisik.
" Iya, aku melihat mang Dadang bersembunyi di dekat vas bunga. " bisik Sela.
" Kita masuk ke dalam kamar, nanti aku jelaskan. " bisik Alan sambil menggendong tubuh Sela. Meninggalkan mang Dadang yang bersembunyi.
__ADS_1
" Ternyata itu hanya setangkai bunga biasa. Alan lebih baik terbuai cinta agar aku bisa menyelesaikan pekerjaan ku dengan mudah." batin mang Dadang.
Sementara Alan segera masuk kedalam kamar dan menceritakan apa yang ia temukan didalam bunga yang ia berikan untuk Sela.
Setelah itu ia memeriksa bunga tersebut dan mengambil benda yang tersimpan di dalamnya. Alan menyambungkan benda tersebut dengan laptopnya dan dengan lincah tangannya berselancar di atas keyboard.
" Password ?" ucap Alan sambil mencoba memasukkan beberapa kata kunci, namun tidak ada satupun yang berhasil.
" Apa sebenarnya isi flesdisk ini ? dan apa hubungannya dengan masalah yang sedang kita hadapi ? " tanya Alan.
" Alan, apakah kau mencurigai mang Dadang ? bukankah kalian sangat dekat ? " tanya Sela sambil duduk di sebelah Alan.
" Ya, kami memang dekat. Tapi aku tidak mengenal mang Dadang secara pribadi, maksud ku kami hanya dekat sebatas teman kerja. "
" Mang Dadang menemaniku sejak aku remaja, beliau diperkenalkan oleh mendiang ibuku. Sejak saat itu mang Dadang ikut bersama kami dan aku tidak pernah tau siapa dan bagaimana keluarganya. "
" Setiap aku bertanya, beliau hanya menundukkan kepalanya, sehingga aku tidak pernah bertanya lagi soal kehidupan pribadinya. "
" Bahkan saat kami bisa membeli rumah dan villa ini, beliau memilih tetap tinggal di sini. Awalnya beliau tinggal di rumah kami yang lama. Namun karena permintaan ku akhirnya beliau bersedia tinggal di villa ini. " Alan menjelaskan kepada Sela.
" Artinya kau tau, rumah lama atau tempat kediaman mang Dadang sebelum tinggal di sini ?" tanya Sela.
" Ya ! kau benar, untuk tau siapa mang Dadang sebenarnya kita bisa menelusuri dari awal kediaman mang Dadang. "
" Siapa tau, jika kita mengetahuinya asal usul mang Dadang kita bisa tau apa yang membuat mang Dadang melakukan sesuatu di luar sepengetahuanku. " ucap Alan.
" Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang ?" tanya Sela.
" Menemukan Zaqi terlebih dahulu." jawab Alan.
" Apa ! menemukan Zaqi ? artinya Zaqi tidak berada di Rumah Sakit tempat ia menjalani rehabilitasi ? " tanya Sela sambil berdiri menjauh dari Alan.
" Sayang, tenanglah ! aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi aku mohon jangan bertindak gegabah karena hal itu bisa membahayakan nyawa Zaqi. " ucap Alan sambil mencoba menggapai tubuh Sela.
" Tenang kau bilang ! ibu yang mana yang bisa tenang saat mengetahui anaknya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. " jawab Sela sambil berurai air mata.
" Apa salah Zaqi ? mengapa dia harus mengalami masalah seperti ini, mengapa dia harus menderita ? apa salah dia Alan ? " tanya Sela dan tak menunggu waktu lama tubuh Sela jatuh kelantai. Dengan cepat Alan mengangkat tubuh Sela dan membaringkannya di ranjang.
__ADS_1