
" Bagaimana kondisinya ? kenapa dokter di rumah sakit bilang ia baik-baik saja, sementara ia pingsan kembali." tanya Alan.
" Alan dia tidak apa-apa, dia hanya sedikit depresi, sehingga ketika ada tekanan sedikit dari luar maka tubuhnya akan memberikan reaksi."
" Jika tidak mampu maka ia akan pingsan. Tapi setelah sekian tahun baru kali ini aku melihat seorang Alan begitu khawatir dengan kondisi seorang wanita. "
" Apakah artinya wanita ini sudah bisa mengambil hati sahabatku ini ?" tanya Dokter Edo yang juga sahabat dekat Alan.
Alan hanya tersenyum sambil membelai lembut wajah Sela yang masih begitu pucat.
" Hem yang lagi kasmaran ! ingat berikan obat ini dan juga vitamin untuk mempercepat kesembuhannya. "
" Aku penasaran seperti apa wanita yang bisa menaklukkan seorang Alan. " ucap Dokter Edo.
" Tapi jangan terlalu dekat dengan wanitaku, kau tau aku tidak suka itu. " tegas Alan.
" Baiklah tuan posesif, kalau begitu aku permisi dulu. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. " ucap Dokter Edo kemudian meninggalkan Alan dan juga Sela.
Alan berbaring di samping Sela sambil memeluk tubuh wanita yang paling ia cintai itu.
Perlahan Sela membuka matanya dan menatap sekeliling dengan takjub dan menatap wajah Alan yang begitu dekat dengan wajahnya.
" Alan dimana ini ?" tanya Sela dengan pelan.
" Di kamar kita. " jawab Alan singkat.
" Alan jangan bercanda !" ucap Sela dengan kesal.
" Aku tidak bercanda ini kamar kita. " jawab Alan.
Sela mencoba bangkit dan duduk di sisi ranjang hendak turun, namun Alan dengan sigap menahannya.
" Sela jangan khawatir tentang Zaqi dan ibu, mereka di urus oleh mang Dadang. Dan mungkin sekarang mereka sedang mandi atau sedang istirahat."
" Istirahatlah dan biarkan aku memelukmu, untuk meredakan rindu ini " ucap Alan sambil mengangkat tubuh Sela dan membaringkan di atas ranjang.
" Alan " ucap Sela sambil menatap wajah Alan.
" Ini villa pribadiku jadi tidak akan ada yang akan menggangu Zaqi terlebih dirimu. Nikmatilah kebersamaan ini. "
" Dan biarlah Zaqi menikmati liburan kecil-kecilan, untuk merefresh otaknya dari beban yang ia pendam. "
" Alan terimakasih untuk semuanya. " ucap Sela sambil membenamkan kepalanya di dada bidang milik Alan.
Alan memeluk tubuh Sela dengan mesra, kemudian mereka akhirnya terlelap.
Sementara Zaqi dan Bu Nur bingung mau menggunakan kamar mandinya.
__ADS_1
" Nenek aku akan panggil mang Dadang sebentar." ucap Zaqi kemudian berlalu meninggalkan neneknya.
Setelah beberapa saat Zaqi muncul kembali bersama mang Dadang.
" Mang maaf saya bingung mengunakan kamar mandi ini. " ucap Bu Nur dengan jujur.
" Baiklah saya akan mengajarkan untuk tuan Zaqi dan juga nenek. " jawab Mang Dadang.
Dengan telaten mang Dadang mulai mengajarkan untuk mengunakan semua fasilitas yang ada dikamar tersebut.
" Bagaimana apakah ada yang masih bingung ?" tanya mang Dadang dengan sopan.
" Tidak terimakasih. " ucap Bu Nur dan Zaqi bersamaan.
Setelah mang Dadang keluar Zaqi masuk dan berendam di bathtub dengan antusias.
" Nenek ternyata berenang dengan air hangat dan gelembung sangat menyenangkan. " ucap Zaqi dengan polosnya.
" Benarkah nanti nenek juga akan mencobanya." jawab Bu Nur dengan semangat.
Setelah selesai Zaqi dan Bu Nur duduk di sofa yang ada di dalam kamar sambil menonton TV.
" Nek aku mau ambil minum di kulkas itu, apakah boleh ?" tanya Zaqi.
" Boleh bukankah mang Dadang tadi sudah menjelaskan semuanya. " jawab Bu Nur.
" Tidak nenek tidak mau, nanti jika nenek mau nenek akan mengambilnya sendiri. " jawab Bu Nur.
Kemudian Zaqi melahap es krim yang ia ambil setelah puas ia mencoba naik ke atas ranjang.
" Nek lihatlah kasur ini sungguh sangat halus dan empuk." ucap Zaqi sambil tidur dan memainkan tangan dan kakinya.
" Benarkah." ucap Bu Nur sambil mendekat kemudian ikut berbaring di samping Zaqi.
" Nek ternyata jadi orang kaya itu sangat menyenangkan " ucap Zaqi sambil memandangi langit-langit kamar.
" Zaqi suka ?" tanya Bu Nur.
" Tentu Zaqi suka nanti aku akan meminta ijin om Alan untuk menginap disini beberapa hari." ucap Zaqi.
" Itu ide yang bagus " ucap Bu Nur.
" Aku harus bisa memastikan bahwa Alan adalah lelaki yang tepat untuk Sela dan Zaqi. " batin Bu Nur.
Dan keduanya kemudian terlelap dengan mimpi indah mereka masing-masing. Sementara malam mulai datang dengan segala pesonanya.
Sela perlahan membuka matanya karena perutnya terasa lapar. Perlahan ia bangkit dan memindahkan posisi tangan Alan yang begitu posesif memeluk tubuhnya.
__ADS_1
" Apa yang akan kau lakukan ? " tanya Alan saat Sela memindahkan tangannya.
" Aku ingin mandi kemudian makan, aku lapar sekali." ucap Sela.
" Tunggu sebentar lagi. " ucap Alan kemudian menarik tubuh Sela keatas tubuhnya.
" Jangan pernah tinggalkan aku " ucap Alan saat Sela sudah berada di atasnya.
" Alan jangan mulai deh aku hanya ingin mandi dan ingin makan, tidak lebih." jawab Sela pelan.
" Aku tau tapi aku hanya ingin memastikan " jawab Alan beralasan.
Cup Sela mencium bibir Alam dengan lembut. Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Alan yang masih enggan untuk bangun.
Sela melangkah mencari-cari sesuatu dengan bingung.
" Kau butuh sesuatu." tanya Alan sambil mendekap tubuh Sela dari belakang.
" Bagaimana aku bisa tinggal disini sementara aku tidak mempunyai sesuatu bahkan baju untuk ganti saja aku tidak punya." jawab Sela.
" Jangan takut aku sudah menyiapkan semuanya untuk kalian."
" Jangankan baju seluruh yang aku punya sudah aku siapkan untuk wanitaku ini." ucap Alan tanpa mau melepaskan dekapannya.
Setelah puas Alan membuka lemari dan menunjukkan beberapa kebutuhan Sela mulai dari pakaian sepatu bahkan tas dan make up sudah tersedia di sana.
" Jika ada yang kurang berkenan bicaralah aku akan meminta pelayanan Menganti sesuai dengan keinginan mu." ucap Alan.
" Tidak ini sudah cukup, tapi ini terlalu berlebihan Alan." ucap Sela.
" Baiklah sekarang mandi dan berdandan yang cantik untukku, aku akan melihat Zaqi dan juga ibu " ucap Alan kemudian meninggalkan Sela dan menuju ruang keluarga.
" Mang apakah Zaqi dan neneknya sudah makan malam ?" tanya Alan saat mang Dadang menghampiri.
" Belum tuan mereka masih tidur " jawab mang Dadang.
" Tuan Anda terlihat sangat bahagia." ucap mang Dadang sambil menatap wajah majikannya.
" Aku memang sedang bahagia mang aku menemukan seseorang yang bisa membuatku selalu tersenyum. " jawab Alan.
" Pantas tuan membawa nyonya untuk tinggal di kamar utama, padahal istri tuan yang dulu tidak tuan ijinkan. " jawab mang Dadang.
" Dia begitu berharga mang ." ucap Alan jujur dengan mang Dadang yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.
Karena mang Dadang yang telah merawat Alan dari kecil hingga sekarang. Kemudian Alan menceritakan keinginannya untuk menikahi Sela.
Mang Dadang tersenyum bahagia mendengar pengakuan majikannya setelah lama menduda.
__ADS_1