Jejak Pemburu Rupiah

Jejak Pemburu Rupiah
Bab. 77


__ADS_3

Setelah selesai makan Alan dan juga Sela, berjalan-jalan menyusuri pantai, menikmati keindahan pantai dan sesekali keduanya berkejaran sambil menciptakan air ke wajah masing-masing.


Keduanya menikmati momen bulan madu mereka, setelah melalui beberapa kondisi yang membuat keduanya harus menguras tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


" Sayang kita duduk di sini dulu ya ! " ucap Alan sambil duduk di atas sebuah batu besar yang terletak di bawah pohon yang rindang. Kemudian Sela ikut duduk disebelah Alan.


" Sayang, apa yang kau pikirkan ?" tanya Alan saat Sela menatap jauh ke depan


"Tidak, aku hanya melihat air laut yang begitu luas. " jawab Sela santai sambil tersenyum melihat Alan.


" Sayang, bagaimana kalau kita menjodohkan Desi dengan Dani ? " tanya Alan.


" Sayang, lebih baik kita jangan ikut campur urusan pribadi mereka, jika memang mereka berjodoh dengan sendirinya mereka akan bersatu dan kita tinggal mendukungnya. "


" Tapi jika menjodohkan mereka dan terjadi sesuatu dengan hubungan mereka, kita bisa terkena imbasnya. " jawab Alan.


" Kau benar. " ucap Alan setuju dengan ucapan Sela.


" Sayang, mengapa sejak kita datang ketempat ini tidak ada satu orang pun yang melintas ? apakah tempat seindah ini tidak menjadi tujuan para wisatawan ? " tanya Sela.


" Karena di pulau ini hanya ada kita dan pelayanan serta anak buah ayah. " jawab Alan.


" Maksudnya ayah telah membooking tempat ini ? " tanya Sela lagi.


" Benar, lebih tepatnya ayah telah membeli pulau ini sebagai hadiah pernikahan kita. " jawab Alan.


" Benarkah kita mendapatkan hadiah sebesar ini ?" tanya Sela dengan mata yang berbinar.


" Kau menyukai hadiah dari ayah ? " tanya Alan.


" Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat anak lagi ? " tanya Alan.


" Tentu saja, aku menyukai hadiah ini, sebuah pulau yang cantik. " jawab Sela sambil tersenyum.


" Syukurlah kalau kau menyukainya. " ucap Alan sambil meraih tangan Sela kemudian menggenggamnya erat.

__ADS_1


" Sayang, apa yang membuat ayah memberi kita hadiah sebuah pulau ? " tanya Sela.


" Karena Kita akan berbulan madu selama satu bulan. " jawab Alan.


" Kau ini ! " jawab Sela sambil memukul paha Alan.


" Aku serius, kita akan berbulan madu di sini selama satu bulan atau sampai kita puas dan ketika kita pulang, benih yang aku tanam telah tumbuh dengan sehat. " jawab Alan.


" Sayang jika kau ingin kita mempunyai anak segera tidak perlu menggunakan nama ayah, tinggal bilang jujur saja aku tidak akan marah. Itu adalah hak mu. " jawab Sela.


" Sayang, aku serius ! ayah ingin kita segera mempunyai momongan, bahkan ayah ingin kita tinggal bersama di rumahnya. "


" Beliau ingin menebus kesalahan karena melewatkan masa tumbuh kembang ku sejak dalam rahim ibu sampai aku sudah siap memberi beliau cucu. " jawab Alan.


" Sayang aku paham akan keinginan ayah, tetapi itu bukan alasan yang sesungguhnya bukan ?" tanya Sela lagi.


" Kau benar sayang, sesungguhnya aku hanya ingin menikmati indahnya surga dunia tanpa terganggu oleh siapapun. "


" Kau tau, betapa tersiksanya aku saat junior ku bangun karena menginginkan mu tetapi tidak bisa karena sesuatu dan lain hal. "


" Namun disini aku bisa melakukannya di manapun dan kapanpun tanpa harus memikirkan hal lain. " jawab Alan dengan serius.


" Maka dari itu, sebelum semuanya terjadi, aku ingin hanya ada kita berdua. Seluruh waktu yang kita miliki hanya untuk kita berdua. " jawab Alan dengan tangannya yang sudah mencari sesuatu di balik baju Sela.


" Kau curang sekali ! " jawab Sela sambil menahan rasa yang mulai menyerang tubuhnya akibat sentuhan Alan.


" Aku menginginkannya sayang, aku selalu tidak tahan saat berada di dekat mu . " ucap Alan sambil mengangkat tubuh Sela dan memposisikan nya di tempat yang nyaman.


" Tapi bukan kita selama ini sering tidur bersama tanpa melakukan itu. " tanya Sela.


" Aku sangat menderita kala itu sayang " jawab Alan yang langsung membungkam mulut Sela dengan mulutnya.


" Sayang kita kembali ke hotel saja. " ucap Sela saat Alan melepaskan ciumannya.


" Aku tidak akan sanggup berjalan jauh jika junior ku sudah bangun sayang. " jawab Alan yang sudah menikmati dua benda kenyal milik Sela.

__ADS_1


Dan akhirnya Sela mulai terbuai dengan permainan Alan, ia mengikuti ritme yang tercipta dari keduanya hingga mereka mencapai pelepasannya. Keduanya benar-benar menikmati dunia yang seakan milik mereka berdua.


Setelah puas dan mengumpulkan tenaga, keduanya kembali ke hotel dan segera membersihkan diri mereka.


Setelah selesai Alan mengambil ponselnya untuk memeriksa Email dari Sekretarisnya. Setelah melihat banyak kotak masuk, Akan beranjak menuju ruang kerjanya yang juga sudah tersedia di hotel tersebut.


Setelah berada di sana, Alan sangat fokus dengan pekerjaannya, hingga ia lupa bahwa Sela sedang menunggunya untuk makan siang.


Sementara Sela yang mulai jenuh menunggu Alan akhirnya memilih untuk berbaring sambil mendengarkan musik. Hingga Sela tertidur.


Cukup lama Alan berada di ruang kerjanya, setelah selesai ia merenggangkan tubuhnya dan segera bangkit menuju kamar.


Di dalam kamar terlihat Sela yang tertidur pulas, sementara makan siang mereka masih utuh yang artinya Sela belum makan dan ia ketiduran karena menunggu Alan.


" Maaf sayang, tadi begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Hingga aku lupa ada bidadari cantik yang sedang menungguku. " bisik Alan sambil ikut berbaring di samping Sela.


Perlahan Sela membuka matanya dan menoleh ke samping, terlihat Alan yang tersenyum sambil menatapnya.


" Kau sudah bangun ? maafkan aku sayang. " ucap Alan sambil mencium kening Sela.


Sela hanya tersenyum, kemudian ia memeluk tubuh suaminya dan melanjutkan tidurnya dalam dekapan sang suami. Alan akhirnya menyusul Sela pergi ke alam mimpi.


Namun belum lama mereka tidur, ponsel Alan berdering. Dengan malas akhirnya Alan mengangkat panggilan dari ayahnya.


" Halo ayah, apa ada yang ayah butuhkan ? " tanya Alan.


" Tidak, ayah hanya ingin mengabari mu bahwa Dewi telah meninggal dunia di dalam penjara. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadinya. " jawab tuan Atmaja.


" Mengapa Dewi berpikiran sempit seperti itu. " ucap Alan.


" Dan satu lagi Alan, Edo juga telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia juga memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama. "


" Kedua sahabat mu, memilih untuk meninggalkan mu dengan cara yang sama. " ucap tuan Atmaja.


" Edo ! aku kira ia adalah lelaki yang tangguh ! " Alan membayangkan berada di dekat tubuh Edo.

__ADS_1


" Ya sudah, maaf ayah mengganggu waktu kalian, tapi bagaimanapun juga mereka adalah sahabat mu. Jadi ayah akan memakamkan mereka secara layak dan berdampingan. " ucap Tuan Atmaja.


" Baik ayah, terimakasih. " jawab Alan dan panggilan tersebut berakhir.


__ADS_2