
Erlangga dan Calvin yang sengaja datang untuk mengecek pabrik barunya, langsung menuju ke ruangannya yang ada di gedung khusus untuk staf perusahaan. Dia ingin tahu kinerja para staf yang direkrut oleh Calvin untuk bekerja di pabrik barunya.
"Calvin, bagaimana seleksi staf marketing?" tanya Erlangga.
"Lancar, Bos!"
"Ada berapa pelamar?"
"Sekitar dua ratus orang tapi aku baru menerima lima orang," jawab Calvin.
"Kenapa sedikit?"
"Belum ada yang cocok menurut aku."
"Apa masih ada interview hari ini?"
"Masih, Bos. Hari ini sekitar dua puluh orang. Mungkin baru berjalan setengahnya."
"Ayo kita ke sana! Aku ingin tahu seperti apa calon karyawan aku," ajak Erlangga.
Tumben banget dia ingin lihat test karyawan baru. Biasanya juga masa bodoh. Kalau ada yang kinerjanya gak bagus, maka dia tinggal pecat, batin Calvin.
Keduanya berjalan menuju ruang serbaguna gedung itu. Sebuah ruangan yang lumayan besar. Yang akan digunakan untuk acara-acara penting perusahaan.
Orang-orang yang ada di ruangan itu cukup terkejut melihat kedatangan CEO mereka. Karena memang Erlangga tidak pernah mau terlalu dekat dengan karyawannya. Apalagi itu seorang karyawati, dia pasti langsung memasang dinding pembatas yang cukup tinggi.
"Siang Pak Elang!" sapa Marni.
"Siang! Sudah berapa orang yang test?" tanya Erlangga.
"Sudah hampir semua, Pak. Tinggal satu orang lagi yang belum," jawab Marni.
__ADS_1
"Boleh lihat resume yang tadi sudah di test?"
"Ini Pak Elang," tunjuk Marni seraya memberikan setumpuk map pada Erlangga.
Dengan cepat Calvin menerima resume itu dan mengikuti Erlangga yang sudah mencari tempat duduk agak jauh dari Marni. Satu persatu dia melihatnya resume pelamar dan membaca hasil penilaian HRD. Entah kenapa, dia merasa penasaran dengan dua orang gadis yang baru lulus kuliah tetapi mendapatkan nilai plus dari HRD.
"Calvin, kenapa fresh graduate diterima kerja? Bukankah aku sudah bilang untuk mencari yang berpengalaman?" tanya Erlangga heran. Dia terus saja menatap lekat dua resume yang ada di tangannya itu.
"Mereka berdua memenuhi kualifikasi yang kita butuhkan, Bos. Meskipun mereka baru lulus kuliah tapi pengalaman marketingnya perlu diacungi jempol. Mereka hanya perlu kesempatan untuk lebih mengembangkan jiwa marketingnya."
"Baiklah, aku percaya padamu! Apa mereka sudah pulang? Kenapa tidak ada di gedung ini?"
Dari dulu juga urusan karyawan kan selalu aku yang urus, batin Calvin.
"Mereka sedang break menunggu hasil test. Apa kita akan di sini sampai mereka kembali?" tanya Calvin.
"Iya. Aku ingin tahu penampilan calon marketing perusahaan baruku," ucap Erlangga enteng. Matanya terus saja melihat ke arah resume yang bernama Rafika Qatrunada.
Sementara Rafika dan Kiranti sedang asyik makan bakso di kantin perusahaan. Rafika seperti orang yang belum makan satu Minggu, dia makan bakso untuk mangkuk yang kedua.
"Fika, pelan-pelan. Malu dilihatin sama Ibu Kantin," ucap Kiranti pelan seraya menyenggol lengan sahabatnya
Rafika yang sedang makan bakso, langsung melihat ke arah tangan Kiranti. Dia hanya tersenyum dengan mulut yang penuh dengan bakso, seraya menganggukkan kepalanya sedikit. Ibu kantin yang malu ketahuan sedang memperhatikan pelanggannya, dia hanya balik tersenyum ke arah Rafika.
"Kiran, kamu kan tahu tadi pagi aku makan hanya sedikit takut lipstik aku luntur. Kalau sekarang kan, testnya juga udah. Kita tinggal menunggu pengumuman aja," jawab Rafika enteng.
"Paling juga jamu gak bakal diterima. Lihat saja penampilannya, dalam persyaratan kan harus feminim. Lah dia, malah pakai celana. Gak banget deh," celetuk salah satu peserta test interview yang bernama Selvi Olla Anggara.
"Rejeki gak ada yang tahu, Mbak. Siapa tahu aku malah jadi karyawan kesayangan CEO PT. Rivers Automotive," ceplos Rafika asal.
Iya kalau ini benar punya Kang Asep dan dia ingat sama kamu. Pasti kamu jadi karyawan kesayangan dia, batin Kiranti.
__ADS_1
"Cih! Ngarep, kalau mimpi jangan ketinggian, Neng! Nanti kalau jatuh rasanya sakit," ucap Selvi.
Saat Rafika akan bicara kembali, datang salah satu orang HRD yang menyuruh mereka untuk kembali ke gedung serbaguna. Semua peserta test pun langsung berlalu pergi. Sementara Rafika cepat-cepat menghabiskan baksonya dan minum teh botol.
"Fika cepetan! Nanti kita dimarahi," ajak Kiranti dengan menarik tangan sahabatnya.
Benar saja, mereka datang paling akhir ke gedung itu. Rafika dan Kiranti pun langsung bergabung bersama dengan yang lain. Namun, saat mendengar suara yang sangat dikenalnya, kedua gadis itu langsung menghentikan langkahnya.
"Kalian berdua, kenapa tidak disiplin?" tanya Erlangga dengan menelisik penampilan kedua gadis itu. "Kalian, berdiri terpisah."
Kenapa suaranya sangat berbeda dengan dulu? Tidak Fika, dia bukan Kang Asep kamu. Dia Erlangga, CEO perusahaan ini. Ingat, Kang Asep kamu sudah gak ada. Jangan berharap pada orang kaya itu, batin Rafika.
Rafika dan Kiranti langsung memisahkan diri dari teman-temannya. Sementara itu, Bu Marni segera memberikan pengumuman siapa saja yang diterima bekerja di perusahaan, mereka diminta untuk tidak pulang dulu karena besok sudah mulai bekerja.
"Untuk yang namanya di sebut, silakan menghadap ke Pak Erlangga. Beliau CEO River's Automotive," ucap Bu Marni.
Rafika dan Kiranti pun langsung menghampiri ke tempat Erlangga dan Calvin berada. Begitupun dengan Selvi dan dua orang laki-laki yang lulus test interview, sedangkan yang belum beruntung langsung pulang ke rumah masing-masing.
"Siang, Tuan!" sapa Selvi dengan suara yang mendayu.
"Bu Marni, apa tidak ada kandidat lain yang lebih pantas selain gadis itu. Nilai testnya memang bagus, tapi coba Ibu lihat penampilannya! Dia jauh dari kualifikasi yang saya minta," tunjuk Erlangga pada Rafika. Sedikit pun dia tidak perduli pada sapaan dari Selvi.
"Maaf, Pak Elang. Tadi saat test, penampilan Rafika rapi. Mungkin tadi dia habis makan siang dan belum sempat mengelap mulutnya," ucap Marni gugup.
Mendengar apa yang dikatakan oleh HRD itu, Kiranti yang penasaran langsung melihat Rafika dengan ujung matanya. Benar saja, ada saos yang menempel di sudut bibir gadis itu.
Astaga Fika! Kenapa makannya belepotan? batin Kiranti.
"Calvin, suruh bersihkan mulutnya. Aku jijik melihatnya. Kali ini masih aku maafkan, tapi tidak lain kali. Kalian harus ingat seorang marketing itu harus berpenampilan menarik. Tidak akan ada orang yang percaya barang yang kita tawarkan itu memiliki kualitas yang bagus, sementara orang yang menawarkannya terlihat berantakan."
Dia benar-benar berbeda dengan Kang Asep. Hanya wajahnya saja yang sama. Bahkan suaranya pun terdengar berbeda. Dulu Kang Asep selalu berbicara lembut, tetapi dia sangat tegas. Dia juga bilang jijik melihat aku. Kamu harus benar-benar melupakan cinta pertama kamu yang kandas Rafika karena orang yang ada di depan kamu sekarang, tidak sama dengan laki-laki yang kamu cintai. Meskipun dia dalam raga yang sama.
__ADS_1
...~Bersambung~...