Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 82 Kontraksi


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi Rafika tidak bisa memejamkan matanya. Setelah tadi mereka menengok bayinya, perutnya terasa mulas. Apalagi bayi mereka terus saja menendang perut Rafika, membuat dia menjadi gelisah sepanjang malam.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Erlangga yang merasa tidurnya terganggu oleh Rafika.


"A perutku mulas, anak kita terus menendang."


Erlangga bangun dari tidurnya, dia mengelus lembut perut istrinya. "Sayang, Mami mau istirahat. Kalian jangan ganggu Mami istirahat ya!"


Bukankah mendingan, Rafika malah meringis merasakan perutnya kembali mulas. Tentu saja Erlangga menjadi sangat khawatir. "Sayang, apa kamu mau lahiran? Lebih baik kita membersihkan diri lalu pergi ke rumah sakit.


Erlangga langsung membopong istrinya. Mereka mandi bersama dengan air hangat. Hanya dalam waktu singkat kini keduanya sudah siap untuk pergi ke rumah sakit.


Bu Sofie yang akan sholat malam oun langsung panik saat tahu putrinya akan melahirkan. Untung saja keperluan untuk Rafika melahirkan sudah disiapkan dari kemarin-kemarin, sehingga mereka tinggal berangkat ke rumah sakit.


"Bi, nanti Bibi menyusul saja. Tolong bangunkan Pak Parman untuk menyiapkan mobil," suruh Erlangga pada Rafika pun dibawa ke rumah sakit.


Jalanan yang sunyi, membuat bulu kuduk sedikit merinding. Apalagi sepanjang jalan ditanami pohon akasia dan mahoni yang rindang. Membuat seorang penakut tidak akan berani keluar malam-malam.


Saat sudah sampai di rumah sakit, Rafika pun langsung dibawa ke ruang IGD. Kedatangan mereka disambut oleh dokter kandungan yang biasa memeriksa keadaan Rafika. Karena memang Erlangga sudah menghubunginya.


"Tuan, silakan tunggu di luar. Kami melakukan tindakan dulu," ucap seorang perawat saat Erlangga akan ikut masuk ke dalam.


"Tapi dia istriku. Fika pasti membutuhkan aku," sanggah Erlangga.


"Iya, Tuan. Nanti saat istri Anda sudah waktunya melahirkan, kami pasti akan memanggil Anda untuk menemani."


"Baiklah! Kalian lakukan yang terbaik untuk keselamatan istri dan anakku," pesan Erlangga.


Pria tampan itu hanya menatap nanar saat pintu ditutup oleh perawat. Hatinya tidak menentu memikirkan anak dan istrinya. Takut, cemas, khawatir kini memenuhi relung hatinya. Sampai ada seorang seorang dokter yang keluar, Erlangga pun segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri say, Dok?" tanya Erlangga cemas.


"Kondisi istri Anda normal. Hanya saja, kami terpaksa harus mengambil tindakan operasi caesar karena kondisi bayinya sungsang. Mohon Tuan menandatangani persetujuan operasi," ucap dokter itu.

__ADS_1


"Baik, Dok!"


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Nanti perawat yang akan membawa dokumen persetujuan untuk operasi."


"Apa saya boleh melihat istri saya, Dok?" tanya Erlangga.


"Boleh, Tuan. Silakan beri dukungan untuk istri Anda. Agar lebih tegar menghadapi operasi caesar."


"Terima kasih, Dok!" Erlangga segara masuk ke ruang UGD diikuti oleh Bu Sofie. Begitupun dengan dokter yang akan mempersiapkan diri untuk tindakan operasi.


Terlihat Rafika yang terbaring di tempat tidur dengan wajah yang meringis. Dia menahan rasa mulas yang datang saat sedang kontraksi. Namun, dasar Rafika! Dia masih saja bisa bercanda di saat sedang menahan sakit.


"Mbak suster, aku masih terlihat cantik tidak saat sedang meringis begini?"


"Masih cantik kho, Mbak." Perawat yang dipanggil suster itu tersenyum melihat ke arah Rafika.


"Sayang, yang kuat A. Aa akan selalu berdo'a untuk kesehatan dan keselamatan kalian," serobot Erlangga yang baru datang.


"A Elang tenang saja. Apa Aa lupa, kalau istri Aa ini wonder woman. Aku siap menjalaninya, yang terpenting anak kita selamat." Rafika tersenyum di depan suaminya. Meskipun sebenarnya hati dia sedang ketar ketir.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri Aa yang hebat." Erlangga menciumi wajah istrinya membuat orang yang melihatnya menjadi malu.


Tidak terkecuali dengan Bu Sofie. Dia yang ingin berada di dekat Rafika. Tapi sepertinya, Erlangga ingin memiliki istrinya sendiri, sehingga beliau memilih mengalah dan berdiri di dekat kaki Rafika seraya melihat wajah putrinya dari jauh.


Setelah semua administrasi untuk tindakan operasi selesai serta ruangannya sudah disiapkan, Rafika pun segera dipindahkan. Erlangga terus saja menggenggam tangan istrinya saat menuju ke ruang operasi. Dia tidak ingin jauh dari Rafika. Saat sudah tiba di depan ruang operasi, barulah salah satu perawat itu berbicara.


"Tuan, silakan tunggu di luar! Kami akan melakukan tindakan dulu," ucap Perawat yang mendorong brangkar Rafika.


"Sayang Aa tunggu di sini ya!" Lagi-lagi Erlangga mencium seluruh wajah istrinya. Kecemasan terlihat jelas di wajah tampannya.


"Iya, A. Maafkan semua kesalahan Fika selama ini," ucap Rafika dengan nada yang lemah


"Aa sudah memaafkan kamu. Aa minta berjuanglah untuk Aa dan anak-anak kita."

__ADS_1


Rafika tersenyum seraya menganggukkan kepala menanggapi ucapan suaminya. Erlangga sedikit bergeser saat Bu Sofie menyentuh tangannya meminta waktu untuk berbicara dengan putrinya.


"Fika, yang kuat ya, Nak. Doa Ibu selalu menyertai kamu," ucap Bu Sofie yang ikut menciumi wajah putrinya.


"Iya, Bu. Maafkan semua salah Fika. Maafkan Fika selama ini selalu menyusahkan Ibu, selalu membantah pada Ibu. Maafkan Fika, tidak bisa menjadi kebanggaan Ibu." Rafika menangis mengingat semua sikap dia pada ibunya. Kini dia baru mengerti bagaimana perjuangan ibunya yang begitu berat harus melahirkan dan merawat dia seorang diri tanpa suami di sisinya.


"Ibu sudah memaafkan kamu, Nak. Berjuanglah untuk anak-anak kamu. Ibu akan menunggu di sini." Bi Sofie pun ikut menangis bersama putrinya.


"Maaf, Bu. Pasien harus segera mendapatkan tindakan. Kami harus segera membawanya ke ruang operasi," sela perawat.


"Oh, iya silakan!"


Bu Sofie dan Erlangga pun menyingkir. Mereka memberi jalan untuk membawa Rafika ke ruang operasi. Sampai Rafika sudah tidak terlihat lagi, barulah mereka memutuskan untuk duduk seraya menunggu operasi itu selesai.


Erlangga duduk dengan menundukkan kepalanya, seraya kedua telapak tangan menutup wajahnya. Kedua tangan dia tumpukan pada paha. Meskipun dia terus saja menenangkan hatinya yang gelisah, tapi kekhawatiran itu enggan beranjak dari hatinya..


Ya Allah, Aku mohon berilah keselamatan dan kelancaran pada operasi Fika, batin Erlangga.


Tidak jauh berbeda dengan Erlangga, Bu Sofie pun terlihat gelisah dengan hati yang terus berdoa untuk keselamatan anak dan cucunya. Saat keduanya sedang sama-sama terdiam, terlihat Calvin dan Kiranti datang dengan setengah berlari.


"Kang Asep, bagaimana Fika?" tanya Kiranti cemas.


"Kita berdoa saja agar operasinya berjalan lancar. Sudah satu jam tapi lampunya belum juga padam," ucap Erlangga lesu.


"Sabar ya, Bro. Semoga anak dan istrinya diberi kesehatan dan keselamatan. Aku baru tahu dari Pak Parman saat dia akan menjemput Bi Surti. Mereka ke sini setelah sholat subuh, biar langsung membawa sarapan untuk kamu dan ibu."


"Tidak apa. Keperluan Fika sudah ada di sini."


"Kang, kenapa tidak bangunkan kita kalau Fika mau melahirkan. Aku jadi tidak ada di samping dia saat Fika butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya," protes Kiranti dengan mata yang berkaca-kaca. Sejujurnya ada ketakutan tersendiri di hatinya saat tahu kalau Rafika harus operasi caesar.


"Maaf, Kiran. Kami panik, Akang hanya berpikir agar secepatnya membawa Fika ke rumah sakit."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2