
Semua pemegang saham dan pimpinan tertinggi Elang Group sudah berkumpul di ruang meeting. Hari ini mereka mendapatkan pemberitahuan tentang pergantian CEO Elang Group. Meskipun semuanya sangat menyayangkan dengan keputusan Tuan Ageng. Akan tetapi, mereka tidak dapat berbuat banyak. Mengingat saham yang mereka miliki tidak sebanyak saham Tuan Ageng.
"Terima kasih atas kedatangan kalian pada rapat darurat ini. Hari ini, kita telah kehilangan CEO yang berbakat. Karena cucuku Erlangga Bramantyo menyatakan mengundurkan diri dari jabatan CEO. Dia menyerah tanggung jawabnya sebagai CEO Elang Group kepada adiknya Leonardo Bramantyo," ucap Tuan Ageng tidak berbasa-basi lagi.
Hatinya masih dipenuhi oleh kemarahan. Karena sudah sejauh ini dia mengancam Erlangga, tetapi cucunya tetap bersikeras mempertahankan kekasihnya yang gadis desa itu.
"Sangat disayangkan sekali, Tuan. Selama ini, Tuan Erlangga membawa Elang Group pada puncak kejayaan. Bagaimana jadinya jika dipegang oleh Tuan Leon? Beliau belum memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengelola perusahaan," ucap salah satu pemegang saham.
"Iya benar, Tuan. Saya mengkhawatirkan masa depan Elang Group jika Tuan Leon yang memegang."
"Iya, benar sekali. Saya juga lebih suka kalau Tuan Erlangga yang menjadi CEO."
"Saya juga lebih suka Tuan Erlangga yang menjadi CEO."
Terus saja para peserta rapat mengatakan ketidaksetujuannya dengan pergantian CEO di perusahaan Elang Group. Tentu saja hal itu menyulut kemarahan Tuan Ageng. Karena sebenarnya, dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan semua peserta rapat. Hanya saja, egonya tidak bisa kompromi dengan keputusan Erlangga yang lebih memilih Rafika.
"Sudah cukup! Kalau kalian merasa keberatan, kita bisa polling dengan jumlah saham uang oita miliki. Jika jumlah saham kalian lebih besar dariku, maka Erlangga tetap yang akan menjadi CEO," murka Tuan Ageng.
"Tidak usah, Kakek! Sebelumnya saya meminta maaf, jika selama kepemimpinan saya banyak melakukan kesalahan. Saya hanya ingin memberikan kesempatan pada adik saya Leon, untuk menjaga dan mengurus perusahaan peninggalan Papa dengan baik. Selain itu, saya sudah memiliki kesibukan yang lebih membutuhkan saya," ucap Erlangga dengan tersenyum ramah.
"Dari itu, sekali lagi saya minta maaf, karena tidak bisa berlama-lama di sini," lanjut Erlangga.
"Tuan Elang, saya berharap suatu hari nanti, Anda kembali ke Elang Group."
"Iya Tuan Elang. Kami akan menunggu kedatangan Anda kembali."
"Saya juga sangat berharap Tuan Elang memimpin Elang Group kembali."
Lagi-lagi para peserta rapat sahut menyahut berharap Erlangga yang menjadi CEO. Namun, keputusan Tuan Ageng tidak bisa diganggu gugat. Sebelum keinginan kakek tua itu tercapai, dia tidak akan menyerah begitu saja pada cucunya.
Setelah Erlangga memandangi dokumen serah terima jabatan, dia pun berpamitan untuk pulang. Pelukan perpisahan dari para petinggi perusahaan dan para pemegang saham menjadi pengiring kepergiannya. Namun, Tuan Ageng tidak bergeming dari tempatnya. Sampai akhirnya Erlangga menghampiri kakeknya.
__ADS_1
"Terima kasih Kakek, untuk semuanya. Aku hanya ingin meminta restu pada kakek, akhir pekan ini aku akan menikah. Jaga kesehatan Kakek!" Erlangga langsung pergi setelah mencium punggung tangan yang sudah mulai keriput itu.
Sebenarnya dia sedih meninggalkan Tuan Ageng di hari tuanya. Meskipun memang benar Tuan Ageng mendidiknya dengan keras, tetapi dia juga tahu kalau kakeknya itu selalu mengkhawatirkannya. Hanya caranya saja sering membuat orang salah paham.
...***...
Sementara di tempat yang berbeda, Rafika sedang menikmati makan siangnya bersama dengan Kiranti. Dua sahabat itu, memang ke mana-mana selalu bersama. Mereka berteman dengan rekan kerjanya hanya seperlunya saja karena lebih nyaman menghabiskan waktu berdua.
"Fika, pulang kerja aku mau ke kontrakan Baim. Apa kamu mau ikut?"
"Mau ngapain?"
"Dia minta oleh-oleh."
"Tahu saja kalau kita pulang."
"Pasti tahulah, orang aku posting di sosmed, waktu kita pulang sama Pak Bos." Kiranti tersenyum senang karena bisa naik mobil mewah.
"Banyak Fika. Yang dari Pak Calvin juga," ucap Kiranti.
Rafika langsung mengambil ponsel Kiranti. Dia langsung mengecek sosial media gadis itu. Benar saja, foto-foto kebersamaan mereka ada di sana. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata yang tidak lepas dari benda pipih itu.
"Kiran, kamu upload semua?" tanya Rafika, dia menatap nanar ponsel sahabatnya saat melihat fotonya yang sedang dipeluk oleh Erlangga.
"Iya! Aku senang, akhirnya sahabat aku akan menikah dengan orang yang dicintainya. Makanya aku ingin memberitahu dunia kalau gadis desa seperti kita pantas bahagia dengan Pak Bos."
"Ck! Ternyata aku gak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu. Tampang aja kayak orang polos, tapi ternyata jadi simpanan bos. Kamu hebat, Fika. Panjat sosialnya gak nanggung. Langsung sekelas CEO yang digaet," celetuk Selvi.
"Wajah aja tanpa dosa, ternyata dia sedang menumpuk dosa," timpal temannya Selvi.
"Apa kalau orang kampung didikannya seperti itu, ya? Menggaet bos untuk menaikkan status sosial," timpal teman Selvi yang satunya lagi
__ADS_1
BRAK!
Seketika Rafika menggebrak meja kantin. Sampai makanan yang ada di dalam piringnya berhamburan mengenai ketiga gadis itu. Dia sangat marah saat mereka menjelekkan didikan keluarga. Karena bukan orang tua yang salah mendidiknya jika dia berbuat salah tapi karena memang dirinya sendiri yang tidak mengindahkan setiap nasihat dan petuah yang orang tuanya katakan.
"Dengar Selvi, Mona, dan kamu Nonny! Aku tidak masalah kalian menghinaku. Tapi jangan sangkut pautnya keluargaku apalagi menyalahkan didikan mereka. Kalau kalian ingin tahu apa hubunganku dengan Bos, kalian bisa tanyakan langsung padanya," tunjuk Rafika dengan menahan kemarahannya.
Ingin rasanya dia merobek mulut lemes ketiga gadis itu. Tapi dia ingat, kalau ini perusahaan calon suaminya. Dia tidak mau mempermalukan Erlangga dengan kelakuan yang anarkis.
"Sudah, Fika! Ayo kita masuk saja!" ajak Kiranti.
Sementara semua orang yang ada di kantin masih terkesiap dengan apa yang terjadi. Mereka tidak menyangka gebrakan Rafika mampu menerbangkan semua makanan yang ada di meja itu. Bahkan Selvi dan temannya belum sadar dari keterkejutannya.
"Tarik napas dalam-dalam, Fika. Jangan sampai terpancing," ucap Kiranti seraya merangkul Rafika.
Rafika pun mengikuti apa yang Kiranti katakan. Berkali-kali dia menghirup napas dalam-dalam dan melepaskan perlahan. Sampai akhirnya, suara ponsel dari kantong celananya berbunyi nyaring. Dia langsung mengambilnya dan terlihat di layar Erlangga melakukan panggilan video.
"Fika, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Erlangga cemas saat sudah terlihat jelas wajah calon istrinya.
"Aku gak apa, A."
"Kamu tenang saja, nanti Aa yang akan memberi hukuman pada mereka."
"Tidak usah! Jangan dibesar-besarkan! Mereka hanya salah paham."
"Salah paham bagaimana? Mereka jelas-jelas mencari perkara denganmu. Aku mendengar semua pembicaraan kalian, kalau kamu tidak tahu."
"Aku baik-baik saja! Aku akan marah kalau Aa ikut campur dalam urusan tadi."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....