Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 62 Tanggung Jawab Calvin


__ADS_3

Baru saja Calvin selesai merebahkan Kiranti di kamarnya, tanpa sengaja kakinya tersandung dan menubruk Kiranti hingga gadis itu akhirnya terbangun. Namun, posisi Calvin yang tepat di atas wajah gadis itu, membuat Kiranti menjadi salah paham.


"FIKA TOLONG!!!" teriak Kiranti dengan mendorong wajah Calvin.


"Kiran, apa-apaan sih?" sewot Calvin.


"Kiran kamu kena ... pa?" Rafika langsung bengong melihat posisi kedua orang itu. Pikirannya langsung melayang pada hal yang iya-iya. Saat dia sudah sadar, Rafika langsung bergegas menghampiri Calvin.


"Fika tolong aku! Bang Calvin mesuum, dia-dia-dia mau perkosa aku, hiks ... hiks ... hiks ...." Kiranti langsung menangis seraya memeluk sahabatnya. Dia benar-benar syok saat terbangun melihat Calvin tepat berada di atas wajahnya.


"Kejadiannya tidak seperti itu, Kiran. Tadi Abang tidak sengaja terjatuh dan menubruk kamu. Sungguh, Abang tidak pernah ada niat untuk menodai kamu."


"Terus kenapa tadi Bang calvin mau cium-cium aku. Kalau aku tidak bangun, mungkin Bang Calvin akan curi-curi kesempatan mencium aku."


"Sumpah Kiran, Abang tidak pernah punya niat seperti itu." Calvin dibuat pusing oleh gadis itu karena memnag kenyataannya dia hanya terjatuh dan menimpa Kiranti bukan ingin menodai gadis itu.


"Sudah, Bang! Lebih baik Bang Calvin tanggung jawab. Pokoknya, aku minta Bang Calvin menikahi Kiran secepatnya."


"APA? MENIKAH?" Kompak Calvin dan Kiranti.


"Siapa yang menikah?" tanya Erlangga yang baru datang. Tadi dia habis mengangkat panggilan telepon dari assisten pribadi kakeknya.


"Mereka, A. Tadi Bang Calvin mencuri ciuman pada Kiranti. Kalau Kiran tidak bangun, mungkin Bang Calvin akan mencuri yang lainnya lagi," beber Rafika.


"Nggak, Lang. Aku gak ada niat buat berbuat hal yang tidak baik. Tadi aku tersandung dan menubruk Kiranti yang sedang tidur. Aku tidak pernah ada niat untuk mengambil kesempatan pada Kiranti," jelas Calvin


"Baiklah! Nanti akan tanyakan dulu pada Om dan Tante."


"Elang yang benar saja, kenapa orang tuaku harus diikutsertakan?"


"Aku takut gak bisa adil. Kamu sahabat aku, sedangkan Kiran sudah aku anggap adik sendiri. Sudahlah! Aku telpon Om dan Tante dulu." Erlangga langsung mencari nomor kontak orang tua Calvin. Saat sudah menemukannya, dia pun akan menghubunginya.

__ADS_1


"Please Elang jangan lakukan!" Calvin segera merebut ponsel Erlangga.


Aku bisa digantung sama Papa kalau mereka percaya ucapan kedua gadis itu, batin Calvin.


"Kenapa, Vin? Come on, biar ada keadilan buat kamu dan Kiranti."


"Tidak usah! Aku akan bertanggung jawab. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Calvin.


"Bang Calvin harus menikahi Kiran," celetuk Rafika.


"Tapi aku tidak mau menikah dengan dia," tolak Kiranti.


"Kiran, kamu jangan bodoh! Laki-laki mana yang mau sama gadis yang sudah ternoda. Lebih baik kamu minta tanggung jawab saja pada Bang Calvin karena dia sudah menodai kamu." Rafika terus saja menghasut Kiranti agar mau menikah dengan Calvin. Sampai akhirnya, Kiranti pun menyetujui usul dari sahabatnya.


"Ya sudah aku mau. Tapi, kalau nanti aku gak cinta, masih bisa cerai, kan?" tanya Kiranti.


Astaga nih bocah! Nikah saja belum sudah mikirin cerai. Tapi baguslah, aku juga tidak suka dengan pernikahan ini. Kalau aku dan Kiran sama-sama bersandiwara, setidaknya keluarga aku akan senang karena akhirnya aku menikah," batin Calvin.


...***...


"Fika, jadi selama ini kalian tinggal di hotel? Pasti mahal uang sewanya. Hotelnya mewah sekali lagi," ucap Wulan seraya mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan.


"Ini bukan hotel, Bu. Namanya apartemen. Kita gak bayar sewa karena apartemennya milik suami Fika," jelas Kiranti.


"Pantas saja kemarin pestanya meriah sekali. Ternyata benar-benar orang kaya. Tapi kenapa gosip beredar kalau uang buat pesta dapat pinjam dari temannya ya?" tanya Candra, ayahnya Kiranti.


"Kata siapa, Mang? Baguslah kalau gitu, biar pada gak pinjam uang sama ibu. Habisnya pada ngutang tapi gak mau bayar." Rafika mengerucutkan bibirnya.


"Maklumlah, Fika. Di kampung kan sangat mengandalkan dari hasil tani, sedangkan tanam padi hanya dua kali setahun. Itu pun kadang hasil kadang buntung. Kalau gak pinjam dulu, bagaimana bisa bertahan hidup karena perut tidak bisa menunggu sampai panen lagi," tutur Candra.


"Iya sih memang, tapi kalau punya uang jangan lupa bayar hutang. Kadang mereka malah foya-foya, shopping-shopping gak jelas tapi hutang dianggurkan. Kan aku sama ibu juga butuh duit," gerutu Rafika.

__ADS_1


Gadis itu selalu mengingat bagaimana dia hidup susah bersama ibunya. Berjualan sayur keliling dengan untung yang tidak seberapa, tetapi banyak yang berhutang pada ibunya. Sampai-sampai ibunya kebingungan saat mau belanja lagi, barang dagangannya habis tetapi dia tidak mendapatkan uang untuk belanja barang dagangan. Hingga akhirnya, Rafika terpaksa membongkar celengannya karena merasa tidak tega melihat ibunya yang kebingungan.


"Sudah Sayang! Hitung-hitung saja Ibu punya tabungan buat ditagih nanti. Karena hutang harus dibayar. Entah itu saat masih di dunia atau sudah di akhirat," timpal Erlangga.


"Iya, sih A. Kenapa Bang Calvin masih belum datang ya A? Apa mungkin dia kabur dari pernikahannya?" Rafika langsung berprasangka buruk pada assiten suaminya.


Baru saja dia selesai bicara, terdengar bel apartemen Erlangga berbunyi. Rafika pun langsung membukakan pintu karena yakin kalau itu orang tua Calvin. Tapi sepertinya, dia telah menebak. Karena ternyata Baim yang berdiri di depan pintu.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Rafika sinis.


"Aku mau bertemu dengan Kiran. Boleh masuk?" tanya Baim.


"Tidak! Aku tidak mau kamu datang lagi untuk menemui Kiran karena dia akan menikah," tolak Rafika.


"Apa? Menikah? Secepat itu? Berarti bukan aku yang mengkhianati dia tapi dia yang sudah mengkhianati aku."


"Sudahlah, Baim. Tempat kamu bukan di sini. Lebih baik kamu pulang sana. Awas saja kalau diam-diam menemui Kiran! Akan aku cincang kamu jadi perkedel," ancam Rafika.


"Sayang, bicara dengan siapa? Kenapa lama sekali di pintunya? Tamunya disuruh masuk saja," teriak Erlangga


"Enggak kho, A. Hanya orang nyasar yang sedang mencari alamat." Rafika pun langsung menutup tanpa berpamitan pada Baim. Dia langsung menghampiri Erlangga yang sedang duduk bersama orang tua Kiranti.


"A, kenapa lama sekali mereka datang?" tanya Rafika


"Sabar, Sayang. Om dan Tante sedang ada di Bandung. Mungkin, mereka langsung ke sini sepulang dari sana," jelas Erlangga.


"Begitu ya!"


Aku hanya khawatir, Kiranti goyah dan memilih kembali pada Baim. Karena aku tahu cintanya begitu besar pada laki-laki brengsekk itu. Sampai-sampai dia menyembunyikan hubungan mereka selama bertahun-tahun. Bodohnya aku, tidak peka pada sahabat sendiri.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2