
Sepulang dari rumah besar, Erlangga dan Rafika langsung menuju ke kantor. Mereka sengaja pulang pagi-pagi sekali dari rumah Tuan Ageng. Agar keduanya tidak telat datang ke perusahaan. Meskipun memang benar, Erlangga seorang CEO di sana. Akan tetapi, dia ingin memberi contoh yang baik pada karyawannya.
"A, aku gak sabar ingin cepat-cepat ketemu dengan Kiran. Aku penasaran ingin menanyakan dia sudah malam pertama apa belum?" celoteh Rafika saat kedua masih berada di dalam mobil.
"Kamu tuh ada-ada saja. Meskipun kalian bersahabat dekat, tapi masalah pribadi sepeti itu tidak boleh saling terbuka. Biarkan Kiran memiliki sedikit rahasia," ucap Erlangga dengan melirik ke arah istrinya.
"Tapi aku penasaran, A. Selama ini 'kan, mereka selalu terlihat tidak akur. Bagaimana jadinya hubungan mereka sekarang? Apa sudah baikan atau malah saling mendiamkan?"
"Kamu boleh bertanya pada Kiran soal itu, tapi kamu tidak boleh bertanya soal ranjang pada pasangan suami istri. Itu tidak baik," pesan Erlangga.
"Siap, Pak Bos laksanakan!" seru Rafika dengan memberi penghormatan pada Erlangga.
Erlangga hanya tersenyum dengan mata fokus ke depan. Hingga akhirnya, mobil yang dia kendarai sudah memasuki pintu gerbang perusahaan Rivers Automotive. Rafika langsung turun saat mobilnya sudah terparkir rapi. Dia terlihat terburu-buru menuju ke ruangannya. Meninggalkan Erlangga yang masih bengong dengan kepergian istrinya.
Selesai mengunci mobil, Erlangga pun berjalan menuju ke ruangannya. Dia berpapasan dengan Calvin yang akan masuk ke dalam ruangan dengan berkas di tangannya.
"Kamu gak cuti?" tanya Erlangga kaget.
"Aku udah cuti kemarin sehari, Bos. Lihat! Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," tunjuk Calvin pada tumpukan berkas yang dibawanya.
"Pekerjaan memang penting. Tapi keluarga juga jauh lebih penting. Kalau kamu masih ingin cuti, aku bisa mengijinkannya."
"Tidak usah, Elang. Kita selesaikan saja pekerjaan kita secepatnya, agar bisa mengambil cuti buat honeymoon bareng. Kata kamu mau liburan bersama."
"Oh, iya. Baiklah kalau begitu, kita kerja keras dulu sebelum mengambil libur panjang. Biarkan istri-istri kita yang merencanakan ke mana mereka ingin liburan karena bagi suami, liburan yang sangat menyenangkan itu hanya di atas tempat tidur."
Erlangga tertawa kecil, merasa geli dengan apa yang dia katakan. Karena memang benar, pergi jauh-jauh pun, ujungnya yang paling dia nikmati saat berada dia atas tempat tidur berdua bersama dengan istrinya.
Sementara di tempat lain, terlihat Rafika sedang menggoda Kiranti. Gadis itu benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada pengantin baru. Namun, sepertinya Kiranti terlihat kesal karena digoda terus oleh sahabatnya.
"Fika, diem apa? Bagaimana kalau orang-orang tahu, aku menikah dengan Pak Calvin Pasti mereka akan bergosip ria," ketus Kiranti.
"Iya, iya deh. Sorry Neng Kiran! Tapi pulang kerja, kita makan bakso pedas yuk! Dibungkus saja, kita makan di rumah baruku. Rumah baru kamu kan tinggal beresin perabotan," ucap Rafika.
__ADS_1
"Apa katamu? Rumah baru?"
"Iya, memang Bang Calvin belum bilang kalau A Elang kasih kado rumah untuk pernikahan kalian? Rumahnya aja sebelahan dengan rumahku. Kalau nanti kita punya anak, kita bisa jagain bareng. Gak usah kerja lagi di sini. Mending di rumah aja jaga anak," ungkap Rafika.
"Tapi kalau kita tidak kerja, bagaimana kalau ada pelakor yang coba deketin suami kita?"
"Iya juga ya! Kita harus mengencangkan ikat pinggang untuk menghadapi pelakor."
"Kalian berdua ngobrol terus, kapan kerjanya?" celetuk Selvi.
"Ini kita lagi kerja, Mbak. Emang Mbak gak lihat, kalau dari tadi aku mengetik sambil bicara?" balas Rafika.
"Sombong banget kamu, Fika. Mentang-mentang istri Bos," sinis Selvi.
"Sabodo teuing, kumaha ceuk sia we (Terserah kamu mau bilang apa)," balas Rafika dengan bahasa daerahnya yang kasar.
Selvi yang kurang paham dengan apa yang Rafika katakan, hanya berlalu begitu saja. Karena memang tujuannya mesin fotocopy. Yang mau tidak mau harus melewati kubikel Rafika dan Kiranti yang memang bersebelahan.
Sementara kedua gadis itu hanya cekikikan melihat kepergian Selvi. Mereka yakin kalau gadis cantik yang sombong itu tidak mengerti dengan apa yang Rafika katakan.
Saking bahagianya mereka menertawakan Selvi, sehinga tidak menyadari kedatangan Calvin yang sudah ada di belakang kedua gadis itu. Sampai saat Clavin berdehem, barulah Rafika melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Eh, Pak Calvin. Cari Kiran ya!" tebak Rafika.
"Tidak! Aku sedang mencari kamu, Pak Bos ingin bertemu."
"Aku? Mau apa?" tanya Rafika dengan menunjuk mukanya sendiri.
"Silakan ikut denganku! Pak Elang menunggu di ruangannya," suruh Calvin.
"Mau apaan sih, Bang?"
"Silakan ikut bersamaku!" Calvin menampilkan wajah datar agar Rafika tidak banyak bertanya padanya.
__ADS_1
"Baiklah! Aku ikut," sahut Rafika.
Gadis dengan surai panjang itu langsung mengekor di belakang Calvin. Dia hanya asal ikut meskipun tidak mengerti dengan apa yang Erlangga inginkan. Saat tiba di ruangan suaminya, dia disambut dengan senyum hangat Erlangga.
"Aa, ada apa menyuruh aku ke sini?" tanya Rafika terus terang.
"Aa hanya mau bilang, kalau nanti habis jam makan siang mau pergi ke Elang Group." Erlangga menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Fika, apa boleh Aa memegang kembali Elang Group? Perusahaan itu sedang membutuhkan Aa. Kondisinya sedang tidak baik-baik saja."
"Fika akan mendukung semua usaha dan kerja keras Aa, jika itu demi kebaikan kita semua."
"Terima kasih, Sayang." Erlangga mencium kening Rafika lama. Dia tidak peduli pada Calvin yang ada di ruanagan itu. Erlangga justru sengaja memanasi Calvin agar sahabatnya itu melakukan hal yang sama pada pasangannya.
"Elang, ada undangan reuni nanti minggu depan. Apa kamu akan datang?" sela Calvin.
"Reuni apa?" tanya Erlangga.
"Reuni SMA. Kita datang yuk! Pasti mereka sedang penggalangan dana. Mau sumbang berapa?" tanya Calvin
"Beri saja berapa yang mereka minta."
"Oke! Seperti yang kamu suruh. Aku kasih sesuai permintaan mereka," ucap Calvin. "Fika, nanti ikut ya, sama Kiran juga."
"Siap Pak Bos. Asal jangan malu saja ngenalin kita-kita sama teman-teman kalian."
"Kenapa harus malu, Aa malah bangga memiliki istri yang cantik seperti kamu. Udah gitu baik dan tulus," ucap Erlangga dengan mengacak rambut Rafika gemas.
"Kang Asep ih kusut. Nanti pulangnya mau ke apartemen apa ke rumah?"
"Ke apartemen saja."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....