
Rafika tertegun di tempatnya. Dia merasa aneh karena melihat Erlangga dan Calvin hanya berdiri saja. Dia pikir saat tadi meninggalkan Erlangga sendiri, laki-laki itu berinisiatif untuk duduk tanpa harus dia suruh.
"Pak Bos, gak pegel berdiri terus?" tanya Rafika seraya menyimpan keempat botol minuman dingin di lantai.
"Kita harus duduk di mana?" tanya Erlangga celingukan.
"Ya di lantai lah, Bos. Emang mau di mana lagi? Aku kan gak punya kursi." Rafika langsung menarik tangan Erlangga agar segera duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Fika, yang benar saja. Kamu menyuruh Bos duduk di lantai," cela Calvin.
"Cobain deh, duduk di lantai. Kita bisa selunjuran, bisa tiduran di paha orang, bisa ...." Rafika tidak melanjutkan ucapannya saat Erlangga langsung memotong ucapannya.
"Besok pindah saja ke apartemen."
"Mana ada duit, Bos. Kerja saja baru sebulan. Udah dikirim pula ke kampung. Kita hanya nyisain buat makan," kelit Rafika.
"Tinggal di apartemen aku. Aku jarang pulang ke sana. Kalian bisa tinggal di kamar yang satunya, karena ada dua kamar dalam apartemen itu. Hanya saja, setiap hari kalian harus membersihkannya. Aku tidak mau saat aku datang, apartemennya berantakan," terang Erlangga.
"Uang sewanya gimana, Bos?" tanya Kiranti tiba-tiba. Dia baru saja datang dari dalam kamar.
"Tidak usah. Kalian hanya perlu merawatnya saja."
"Baiklah, Bos. Aku mau kalau begitu. Lumayan Fika, uang buat bayar kontrakan bisa kita tabung buat nikah," Kiranti tersenyum senang mendapat tawaran dari Erlangga.
Dia sudah membayangkan bisa tidur di kasur empuk. Soal bersih-bersih sih tidak jadi masalah. Rafika rajin bersih-bersih, hanya saja gadis itu tidak pernah mau jika disuruh memasak.
"Tapi, Bos. Emang beneran gak apa?"
"Iya, di sana lebih dekat dengan perusahaan. Kamu pasti betah tinggal di sana. Tidak jauh dari apartemen, ada danau buatan untuk kalian menikmati matahari terbenam," jelas Erlangga.
"Bos, emang apartemennya ada di kawasan Mangkarta ya?" tebak Kiranti.
"Iya, Fika kan pernah ke sana."
__ADS_1
Mata Rafika langsung membulat sempurna. Dia teringat dengan kejadian saat terbangun di kamar yang mewah. Dengan wajah yang meringis, Rafika akhirnya berkata, "Jadi apartemen itu? Bos, amnesianya gak lagi kambuh, kan? Apartemen itu mewah sekali, bagaimana aku bisa tinggal di sana?"
"Kamu tinggal bawa barang-barang penting kamu saja. Sekiranya yang gak penting, mending kamu titipkan ke temanmu atau diberikan saja," timpal Calvin yang sedari tadi diam.
"Maksud aku, apa aku pantas tinggal di sana gratisan?"
"Tentu saja pantas, itu kan milik Kang Asep. Bukankah kamu ingin menikah dengan Kang Asep. Hitung-hitung bantu jagain barang Kang Asep saja," ucap Erlangga dengan senyum menggoda Rafika.
Astaga Elang, kenapa kelakuan kamu jadi ikutan gadis itu? Sepertinya kamu sudah benar-benar terkena racun cinta Rafika, batin Calvin.
"Benar Fika, apa yang Bos katakan. Hitung-hitung kita menjaga harta kekayaan calon suami kamu. Jadi nanti kamu harus rajin bersih-bersih saat sudah tinggal di sana," timpal Kiranti.
"Ya udah deh, kita tinggal di sana," ucap Rafika pasrah.
"Gadis pintar, lebih baik sekarang kamu berkemas. Aku pulang dulu. Nanti digerebek warga kalau kemalaman berkunjung." Erlangga langsung pamitan, karena memang jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh.
Setelah kepergian kedua laki-laki itu, Rafika langsung tidur telentang dengan mengangkat tangannya ke atas. Dia menghalangi cahaya yang ingin menerpa wajahnya.
"Kiran, apa kamu yakin untuk tinggal di sana?" tanya Rafika.
...***...
Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan, kedua gadis itu pindah ke apartemen Erlangga. Namun mereka tidak mengatakan yang sebenarnya pada Baim. Khawatir temannya itu akan berprasangka buruk.
Kiranti begitu terkagum-kagum melihat interior apartemen Erlangga yang mewah. Dia sangat senang karena akhirnya bisa merasakan jadi orang kaya meskipun hanya figuran. Berharap, suatu hari nanti dia benar-benar menjadi orang kaya.
"Fika, bagus banget apartemennya. Kamar kita saja bagus, apalagi kamar Kang Asep di sebelah," puji Kiranti saat keduanya sedang membereskan baju di kamar yang akan mereka tempati.
Iya emang bagus. Tapi kenapa aku merasa tidak tenang, batin Rafika.
"Kiran, kamu mending masak saja. Biar ini aku yang bereskan," suruh Rafika.
"Baiklah, Nyonya Elang. Koki Kiran akan segera meluncur ke dapur!" sahut Kiranti segera berdiri dan menuju ke dapur.
__ADS_1
Dia memang sangat suka memasak. Sangat berbeda dengan Rafika yang lebih suka bersih-bersih rumah dibandingkan dengan berperang dengan wajan dan spatula.
Selesai membereskan bajunya dan baju Kiranti, Rafika pun berniat untuk membantu Kiranti menyiapkan masakan gadis itu di meja makan. Tapi sebelumnya, dia mengganti bajunya terlebih dahulu. Hanya hot pants dan baju kedodoran andalannya yang dia pakai.
"Kiran bagaimana, apa sudah mateng?" tanya Rafika celingukan di dapur.
"Bagaimana mau mateng, aku cari bahan makanan tapi gak nemu apapun. Hanya garam sama saus dan kecap. Di kulkas pun hanya ada buah-buahan," jelas Kiranti yang masih membuka satu persatu lemari dapur.
"Kalian mencari apa?" tanya Erlangga yang berdiri di ambang pintu.
"Kiran mau masak Pak Bos. Tapi gak ada apapun," jawab Rafika segera membalikkan badan melihat ke arah asal suara.
Glek!
Erlangga langsung menelan ludahnya dengan kasar. Matanya hampir keluar saat melihat penampilan Rafika yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Paha mulus itu seperti merayunya untuk dia sentuh. Belahan dada yang terlihat sedikit seperti memaksanya untuk melihat lebih jauh isinya seperti apa. Meskipun benar waktu itu dia berhasil membuka baju Rafika. Akan tetapi dia tidak melihat sejelas sekarang karena dia membuka dengan menutup mata.
"Ehm ... Kita makan delivery saja dulu. Aku tidak pernah menyimpan stok makanan karena sangat jarang tinggal di sini." Erlangga berdehem untuk menetralkan kegugupannya.
"Ya udah deh. Ayo Kiran kita beli mie instan saja di bawah! Tadi aku melihat ada minimarket tidak jauh dari lobby," ajak Rafika.
"Jangan! Kamu tunggu saja di sini. Biar nanti Calvin yang siapkan," cegah Erlangga seketika. Dia tidak mengalihkan pandangannya pada Rafika.
"Kenapa gak boleh, Pak Bos?" tanya Rafika heran.
"Kamu bertanya, kenapa?" tanya Erlangga.
"Biar aku saja, Fika." Kiranti langsung berlalu pergi meninggalkan Rafika yang terlihat bingung, sedangkan Erlangga seperti orang kelaparan.
Erlangga langsung berjalan menghampiri gadis yang sudah mengusik hari-harinya. Entah kenapa melihat Rafika penampilannya seperti itu, jiwa lelakinya seperti terpanggil. Sangat berbeda saat bersama dengan Caithlyn. Meskipun gadis itu selalu berpenampilan seksih, sedikit pun Erlangga tidak tertarik.
"Fika, apa kamu ingin menggodaku? Aku lelaki dewasa, yang bisa saja berbuat hal yang tidak akan kamu duga sebelumnya."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....