Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 55 Rahasia Rafika


__ADS_3

Dada Erlangga bergemuruh hebat saat mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh penguntit itu. Setelah tadi dia mentotok orang suruhan Caithlyn, Erlangga langsung meninggalkan mereka di pinggir jalan. Dia menyuruh satpam perusahaannya agar menyerahkan mereka ke polisi.


"Kalian masuklah! Jangan bukakan pintu kalau ada yang bertamu. Aku ada urusan dulu," ucap Erlangga setelah dia mengantarkan kedua gadis itu ke apartemennya.


"Tidak A, aku tidak mengijinkan Aa pergi sekarang." Rafika langsung mencekal tangan Erlangga yang akan berbalik pergi.


"Fika, lepas!"


"Tidak! Tidak perlu menyerang balik, tinggal beberapa hari lagi kita menikah. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan kalau Aa pergi ke sana. Apa A Elang lupa pesan Ibu? Kita hanya perlu menghindari orang cari perkara dengan kita."


"Tapi Fika, kalau didiamkan, dia pasti semakin menjadi."


"Apa A Elang meragukan kemampuan aku?"


"Iya, Kang. Lebih baik jangan pergi! Kang Asep jangan khawatir, Fika dijaga oleh dua aki-aki. Lebih baik Akang istirahat saja. Lagian, calon pengantin itu gak boleh keluyuran. Pamali kalau kata orang tua," timpal Kiranti.


"Maksud kamu dua aki-aki?" tanya Erlangga bingung.


"Lelembut Aki Arya dan Aki Anja. Aku belajar bela diri pada mereka. Sudahlah gak perlu dibahas. Ini rahasia aku, jadi aku minta A Elang tidak bilang pada siapapun."


"Tetap saja aku merasa tidak tenang kalau belum memangkas akar masalahnya."


"Mau aku bikin tenang?" goda Rafika dengan mengedipkan matanya.


Melihat kelakuan calon istrinya, mau tidak mau Erlangga tersenyum. Padahal hatinya masih kesal pada mantan tunangannya. Bisa-bisanya Caithlyn ingin menculik Rafika


"Jangan genit deh, Fika. Ayo kita tidur! Oh Iya Kang, bagaimana kalau pulang kampungnya dipercepat saja. Setidaknya tiga hari sebelum acara sudah ada di kampung," usul Kiranti.


"Boleh, nanti kita bicara dulu pada Calvin. Pasti Kak Helen juga ingin ikut," ucap Erlangga.


"Kak Helen siapa?" tanya Rafika.


"Kakaknya Calvin, bukankah kalian satu bagian?"


"Maksudnya Mbak Helen? Jadi dia kakaknya Bang Calvin? Kenapa baru bilang sekarang? Padahal kita sering gosip bos dan Bang Calvin depan dia." Rafika sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Aku tahu. Ya sudah, aku ke kamar dulu. Kalian juga tidur ya!"


"Iya, tapi awas saja kalau sampai keluar malam-malam dan menemui Caithlyn. Aku akan menganggap Aa masih cinta sama dia," ancam Rafika.

__ADS_1


"Mana ada aku cinta sama dia. Aku menelpon Calvin dulu," sanggah Erlangga seraya mengacak-acak rambut Rafika.


Erlangga pun langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menghubungi Calvin yang masih di Jakarta. Namun, panggilan teleponnya tidak juga diangkat oleh assisten-nya.


"Calvin ke mana? Apa dia sudah tidur?" gumam Erlangga.


Merasa kesal tidak diangkat terus oleh Calvin, Erlangga pun memilih untuk memejamkan matanya. Hatinya semakin was-was setelah Caithlyn, kakeknya pun akan berusaha untuk memisahkan dia dengan Rafika.


"Meskipun kamu memiliki penjaga yang tak kasat mata. Tapi tetap saja aku merasa tidak tenang. Saat belum bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja."


Perlahan mata Erlangga terpejam. Namun, baru saja dia akan membuka pintu gerbang alam mimpinya, terdengar ponselnya berbunyi terus menerus. Akhirnya, dia pun terbangun kembali dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


"Calvin," gumam Erlangga. Dia pun langsung menggulir tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari sahabat nya.


"Halo, Vin! Kamu ke mana saja? Kenapa baru menghubungi aku?"


"Sorry, Lang. Tadi aku lagi mandi. Baru selesai membereskan barang-barang kamu. Ada apa menghubungi aku terus menerus? Apa kamu kehilangan aku?"


"Tidak! Besok kamu buat laporan Caithlyn ke polisi atas kasus penculikan."


"Apa katamu? Penculikan? Siapa yang diculik?" tanya Calvin kaget.


"Gila, Caithlyn! Kalau dia mungkir bagaimana? Apa kamu punya bukti kuat?"


"Apa kamu lupa kalau mobilku ada CCTV-nya?"


"Oke, besok aku urus. Sekarang ijinkan aku istirahat dulu. Aku lelah mendengarkan ceramah dari kakek kamu dan Nyonya Merlina."


...***...


Setelah kejadian itu, Erlangga tidak mau jauh dari Rafika. Selain saat jam kerja. Berangkat dan pulang kerja, dia memaksa Rafika untuk ikut bersamanya. Tentu saja, orang yang tidak suka sama Rafika, hatinya semakin panas.


Namun, apa boleh buat, dia tidak bisa mencari perkara dengan gadis itu karena Erlangga sudah mengumumkan tentang pernikahannya dengan Rafika dan memperingatkan orang-orang yang suka mencari masalah dengan calon istrinya.


"A Elang, pulang kerja ke mall dulu yuk! Besok kan kita pulang kampung. Aku mau cari oleh-oleh dulu," ajak Rafika saat mereka makan siang bersama.


"Boleh! Nanti kita berangkat bersama dengan Calvin dan Kiranti juga. Siapa tahu ada yang mau dibeli," ucap Erlangga.


"Makasih A Elang! Makin deh," ucap Rafika dengan wajah ceria.

__ADS_1


"Makin apa, Fika. Apa makin cinta sama Aa?" tanya Erlangga dengan wajah berbinar.


"Salah satunya sih, tapi sebenarnya aku makin senang karena mau dibayarin sama Aa. Hehehe ...."


"Emang ada bilang Aa mau bayarin?" goda Erlangga.


"Gak ada sih. Emang gak mau bayarin ya! Padahal aku mau beli baju saringan minyak buat malam pertama. Kata Mbak Helen harus beli baju seperti itu biar disayang suami," ucap Rafika.


"Helen ngajarin apa saja?" tanya Erlangga penasaran.


"Banyak sih. Tapi aku gak ngerti dengan maksudnya. Yang aku tahu beli baju saringan minyak di mall. Katanya bagus-bagus," jawab Rafika.


"Kamu tahu model baju saringan minyak seperti apa?"


"Gak tahu. Kiran juga gak tahu. Tapi kata Mbak Helen, nanti minta Aa yang pilih saja. Karena Aa pasti tahu," ucap Rafika.


Kak Helen ada-ada saja. Mana ngerti gadis model Rafika baju seperti itu, batin Erlangga.


Keduanya melanjutkan lagi makan siangnya. Sementara Kiranti hanya diam termenung dengan mengaduk-aduk makanannya. Sepertinya gadis itu sedang banyak pikiran. Berbeda dengan Calvin yang sibuk dengan ponselnya.


"Bos, kata komandan Barra, Caithlyn sudah dibebaskan. Dia mau menandatangani perjanjian itu," ucap Calvin dengan memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.


"Syukurlah! Calvin, pulang kerja kita mall dulu. Beli oleh-oleh buat besok pulang kampung."


"Buat apa beli oleh-oleh? Di sana pasti banyak makanan," tanya Calvin heran.


"Bukan makanan tapi baju sarang minyak," bisik Erlangga.


"Sialan kamu, Lang!" umpat Calvin. "Kiran, kenapa diacak-acak makanannya?"


"Kamu kenapa? Ngelamun terus," tanya Rafika yang baru sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.


"Baim minta putus, dia bilang aku tidak ikhlas bantu dia selama ini. Padahal aku tidak pernah itung-itungan sama dia," ungkap Kiranti.


"Makanya, masih kecil jangan pacar-pacaran. Sakit hati, kan diputuskan?" celetuk Calvin.


"Gak usah koment deh kalau belum pernah pacaran. Dasar bujang alot!" semprot Kiranti


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2