Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 64 Salah Mencintai


__ADS_3

Semburat senja mewarnai cakrawala di atas danau buatan. Terlihat muda-mudi juga tampak asyik memainkan smartphone sambil menyunggingkan senyum. Pohon-pohon pinus dan cemara turut bergoyang di ujung sore yang cerah itu.


Tidak terkecuali Rafika dan Erlangga yang sedang duduk merumput beralaskan tikar sintetis. Kedua pasangan pengantin baru itu nampak asyik menikmati semilir angin yang membelai kulit.


Sementara Kiranti sibuk dengan ponselnya. Gadis itu sibuk membagikan hasil bidikan fotonya di media sosial. Calvin hanya memperhatikan apa yang gadis itu lakukan. Tanpa berniat untuk merecokinya.


"Kiran, bisa kita bicara sebentar?" tanya Baim yang datang tiba-tiba.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Kiranti sinis. Dia masih sakit hati dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"Sebentar saja, Kiran. Please!" mohon Baim.


"Ya sudah! Tapi janji hanya sebentar ya!" Kiranti mau bangun dari duduknya. Tapi tangannya ditahan oleh Calvin.


"Katakan saja di sini. Aku tidak mengijinkan calon istriku pergi denganmu," cegah Calvin.


"Calon istri? Apa benar dia calon suami kamu, Kiran?" tanya Baim kaget karena ternyata laki-laki yang menemani Kiran itu calon suaminya.


"Iya, aku akan menikah besok." Kiranti memalingkan wajahnya saat berbicara pada Baim.


"Aku pikir, Rafika hanya mengada-ada saat bilang kamu akan menikah. Ternyata memang benar. Jadi ... Selama ini kamu sudah mengkhianati aku? Bukan aku ternyata pemainnya, tapi kamu." Baim tertawa sendiri. Meskipun tidak ada yang lucu dari kata-katanya. Tapi dia merasa lucu dengan hidupnya.


"Hahaha ... Bodohnya aku, mengira kamu hanya gadis yang polos. Ternyata kamu tidak lebih dari cewek matre. Menyesal aku pernah berpikir untuk balikan sama kamu karena ternyata kamu seorang pengkhianat."


"Bukan aku yang seorang pengkhianat, tapi kamu! Sudahlah, tidak penting juga aku bicara denganmu," sentak Kiranti. Dia langsung pergi begitu saja tanpa arah dan tujuan.


Bugh!


Tanpa ekspresi, Calvin langsung menonjok Baim. Sebelum dia pergi menyusul Kiranti. "Aku harap, ini terakhir kalinya kamu mengganggu Kiran. Karena kalau ada lain kali, bukan perut luar kamu yang menjadi sasaran, tapi bagian dalamnya. Aku harap kamu mengerti."


Belum selesai keterkejutan Baim, tiba-tiba ada yang mengeplak kepalanya. Dia hanya meringis menahan sakit di perut dan kepalanya, karena Baim sudah bisa menduga siapa pelakunya.


"Ck! Sudah dibilangin jangan ganggu Kiran lagi, masih saja ngeyel. Sekali lagi kamu ganggu dia, aku gak akan sungkan lagi sama kamu, Im. Kita selesaikan dengan cara laki-laki." Rafika berdecak sebal dengan mata yang menatap sinis pada Baim.


"Oke! Sebenarnya, aku hanya ingin bicara baik-baik pada Kiran tapi ternyata malah dihajar preman kampung. Sudahlah, aku mau pulang. Beruntung Zaenal tidak jadian sama kamu, cewek bar-bar yang sok jagoan," cibir Baim.


Sementara di tempat lain, Kiranti sedang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Calvin. Laki-laki itu memang sengaja menyusul calon istrinya, karena dia merasa khawatir pada gadis itu.

__ADS_1


"Sudahlah, Kiran. Jangan dengarkan omongan dia. Apapun yang dia katakan tentang kamu, tidak akan pernah merubah pandangan Abang sama kamu," ucap Calvin.


"Tapi, dia sangat keterlaluan sekali. Padahal, selama ini aku selalu baik sama dia. Tapi dia malah jahat sama aku. Salah aku apa coba?" Kiranti mengelap ingusnya dengan ujung kemeja Calvin. Membuat laki-laki itu meringis.


"Salah kamu hanya satu, kamu telah mencintai laki-laki yang salah."


...***...


Keesokan harinya, suasana di mesjid agung nampak tidak seperti biasanya. Riani sengaja menyewa ruang serbaguna mesjid tersebut untuk acara pernikahan putranya. Setelah tadi akad nikah, pasangan pengantin pun dipajang di pelaminan.


Meskipun serba mendadak, kekuatan uang mampu menyulap ruang serbaguna mesjid seperti negeri kahyangan. Tidak banyak yang datang menghadiri pernikahan Calvin dan Kiranti. Hanya keluarga terdekat saja yang mereka undang.


"Selamat ya, Bang. Semoga langgeng, sakinah, mawadah warahmah," ucap Rafika seraya menjabat tangan Calvin. Namun, Erlangga segera mengambil tangan istrinya. "Selamat ya Kiran," lanjutnya.


"Selamat ya, Bro." Erlangga langsung merangkul sahabatnya. Dia senang, sahabatnya sudah memiliki pendamping hidup.


"Thanks, Bro. Aku harap, kamu tidak pernah terlibat dalam rencana Mama," sindir Calvin saat mereka berpelukan.


"Rencana apa?" tanya Erlangga datar.


"Tidak usah memasang wajah seperti itu, Elang. Aku jadi semakin yakin kalau kalian bersekongkol. Sudahlah! Cukup tahu saja," ucap Calvin lagi.


Erlangga asyik mengobrol dengan Calvin. Sementara Rafika dengan Kiranti. Membuat saudara Calvin menunggu lama di bawah pelaminan saat mereka akan memberikan ucapan selamat pada pengantin.


"Bos, gantian!" teriak Darwin dari bawah.


Erlangga pun langsung mengajak istrinya untuk turun dari sana. Mereka hanya tersenyum menanggapi protesan dari yang lain. Keduanya pun memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Erlangga seraya melihat ke sekeliling.


"Sate pake lontong saja A. Pasti enak," jawab Rafika seraya menjilat lidahnya sendiri.


"Jangan seperti itu di depan laki-laki!"


"Kenapa memangnya, A?"


"Kamu sama saja dengan mengundang mereka untuk ikut mencicipi bibir kamu."

__ADS_1


"Apa A Elang tergoda?" Rafika malah sengaja menjilat kembali bibirnya.


"Tidak! Coba sini lihat sebentar!" Erlangga sedikit membungkukkan badannya.


Cup


Dengan tidak tahu malunya, laki-laki itu mengecup singkat bibir istrinya. Tentu saja membuat Rafika sangat terkejut karena dia tidak menyangka kalau Erlangga akan berani mencium bibirnya di tengah keramaian.


"Aa ih, malu." Pipi Rafika langsung bersemu merah. Sementara Erlangga hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah istrinya.


"Kenapa harus malu? Kita kan sudah menikah. Fika sepulang dari sini ke rumah baru kita yuk! Katanya Kiran dan orang tuanya akan berkunjung ke rumah Keluarga Barack. Apa kamu mau ikut?


"Aku gimana Aa saja."


"Kalau Aa maunya kita ke rumah baru. Kemarin perabotannya sudah datang semua. Aa ingin melihat langsung barang-barangnya," ucap Erlangga. "Sekalian kita mencobanya," bisiknya.


"Boleh deh, A. Sudah makan saja yuk kita ke sana. Fika juga penasaran ingin tahu rumah baru kita."


"Pastinya bagus. Aa juga sudah belikan rumah untuk Calvin dan Kiran, sebagai hadiah pernikahan mereka. Tepat di sebelah kita, biar kamu tidak jauh kalau ingin ngerumpi dengan Kiran."


"Kapan Aa pesan? Perasaan sama aku terus," tanya Rafika heran.


"Tinggal telpon saja. Untuk apa Aa datang ke sana?"


"Iya juga sih." Rafika langsung memakan sate yang sudah dimintanya pada petugas stand. Begitupun dengan Erlangga yang ikut menikmati makan sate dengan lontong.


Namun, saat keduanya asyik makan, terlihat Tuan Ageng memasuki ruangan bersama dengan assisten-nya. Mereka mengucapkan selamat kepada Calvin terlebih dahulu sebelum menemui Erlangga dan Rafika.


"Elang, apa kabarmu?" tanya Tuan Ageng.


"Aku baik, Kek. Bagaimana kabar Kakek?" Erlangga balik bertanya dengan mencium punggung tangan kakeknya, yang diikuti oleh Rafika.


"Kakek tidak baik. Elang bisakah nanti ke rumah? Ada hal yang perlu Kakek bicarakan padamu. Istrimu pun boleh diajak."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2