Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 92 Puber Kedua


__ADS_3

Sepulang dari acara berlibur, Erlangga pun kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Dia meminta Rafika untuk membantunya di perusahaan. Karena anak-anak ada Bu Sofie yang menjaganya. Semenjak Rafika memiliki anak kembar, Bu Sofie memang memilih untuk tinggal bersama dengan anak dan cucunya atas permintaan Erlangga.


"A, hari ini jadwal ke kantor pusat. Awas saja kalau genit sama Felisha!" ancam Rafika saat mereka akan berangkat ke kantor


"Sayang, Aa sudah punya kamu. Untuk apa mencari wanita lain yang belum tentu istimewa seperti istri Aa. Lebih baik kita kembali pacaran. Mumpung anak-anak sudah tidak merecoki lagi," ucap Erlangga dengan mengerlingkan matanya.


"Aa ih, puber kedua. Jadi genit begitu sama aku," ledek Rafika.


"Aa genit juga hanya sama istri Aa sendiri bukan sama istri orang."


"Awas saja kalau sama istri orang, aku sunat dua kali itunya. Apalagi kalau main-main sama mantan, krek!." Rafika memainkan jari telunjuk dan jari tengahnya seperti sebuah gunting.


Glek!


Erlangga dan Calvin menelan ludahnya kasar. Mereka refleks menutup terong ungu di balik celananya dengan tangan. Keduanya tidak ingin merasakan disunat untuk yang kedua kalinya.


"Hahaha ...." Rafika tertawa tergelak melihat ekspresi suaminya. Dia tidak menyangka Erlangga akan merespon seperti itu.


"Iseng ya, Mami. Mau Papi hukum sekarang?" tanya Erlangga dengan mulai menggelitik istrinya.


"Bos, jangan di sini mainnya! Aku tidak bisa konsen nyetir," sela Calvin di balik kemudi.


"Yah, A. Ada yang ngintip kita! Lebih baik kita potong gaji saja, kalau digelitikin nanti kita kecelakaan," seru Rafika.


"Boleh, Sayang. Kamu tentuin saja berapa persen yang harus Aa potong


Glek!


Lagi-lagi Calvin menelan ludahnya dengan kasar. Bisa berkurang uang jajan anak-anaknya kalau sampai potong gaji. Apalagi, sekarang Erlangga selalu menuruti semua keinginan istrinya. Entah itu hal yang benar ataupun hal yang konyol.


"Lihat, A! Bang Calvin wajahnya serius begitu, mana tega kita potong gaji ya A. Apalagi hanya masalah sepele," bisik Rafika.


Erlangga tersenyum melihat ekspresi Calvin. Memang benar adanya kalau dia tidak pernah memotong gaji karyawannya. Kecuali kesalahannya sangat fatal dan merugikan perusahaan.


"Sudah jangan bercanda terus. Sebentar lagi sampai. Jangan iseng lagi sama Felisha, kasian!"

__ADS_1


"Aa belain dia?" tanya Rafika dengan wajah cemberut.


"Bukan begitu, Sayang. Aa hanya kasihan saja sama dia. Hidupnya sudah susah, kita jangan menambah lagi kesusahannya."


"Ya itu sih salah dia sendiri. Kenapa suka genit sama Aa, setiap kali Aa ke kantor pusat. Apa mungkin, selama aku tidak ikut, kalian selalu bermain di belakang aku?"


"Mana bisa begitu, Aa kerja tidak pernah berpikir untuk mendekati wanita manapun termasuk Felisha. Apalagi, dia hanya masa lalu."


"Iya, iya. Percaya deh!"


Tidak berapa lama kemudian, mobil sudah terparkir rapi di basement perusahaan Elang Group. Erlangga dan Rafika segera turun dan menuju lift yang ada di sana.


Sesampainya di depan ruangan Erlangga, mereka di sapa ramah oleh sekretaris Erlangga. Janda cantik itu tersenyum manis pada bos sekaligus mantan pacarnya. Dia langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Erlangga.


"Pagi, Elang!" sapa Felisha.


"Pagi, Felly."


Erlangga tidak mengehentikan langkahnya. Dia langsung masuk ke dalam ruangan dengan Rafika yang bergelayut manja di tangannya. Memang bukan hal yang aneh, Rafika selalu memperlihatkan kemesraan mereka di depan Felisha.


"Ini kartu undangan pernikahanku. Kalian datang ya! Kamu lihat Fika, aku tidak mengejar suami kamu karena aku akan menikah dengan laki-laki yang mau menerima aku apa adanya," ucap Felisha.


"Wah, selamat ya Mbak Felisha. Aku senang sekali mendengarnya. Makanya, lain kali jangan suka curi-curi pandang sama suami aku. Apalagi cari perhatian. Biar aku gak berpikir yang tidak-tidak," ucap Rafika.


"Aku senang, kamu sudah bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Semoga pernikahan keduamu langgeng dan bahagia," ucap Erlangga dengan mengambil kartu undangan dari Felisha.


"Selamat ya, Felly. Semoga samawa," ucap Calvin


"Terima kasih," ucap Felisha dengan tersenyum manis.


Kemarin aku memang sempat berharap bisa kembali pada Elang. Laki-laki yang selalu memperlakukan aku dengan baik. Tapi setelah lima tahun, Elang sedikit pun tidak menunjukkan sikap yang sama seperti dulu padaku. Aku jadi sadar sesadar-sadarnya, kalau aku sudah tidak ada di hatinya. Rafika yang sudah menggantikan posisiku menjadi ratu di hati Erlangga Bramantyo, batin Felisha.


Setelah mereka cukup berbincang-bincang, Erlangga dan Calvin pun pergi meeting dengan petinggi perusahaan Elang Group. Sementara Rafika tinggal di ruangan suaminya. Dia memilih berkas mana yang harus lebih dulu dikerjakan oleh Erlangga. Agar waktu yang digunakan oleh suaminya lebih efisien.


Setelah memakan waktu kurang lebih dua jam, Erlangga pun kembali ke ruangannya. Dia tersenyum melihat Rafika yang terlihat serius mempelajari berkas yang ada di tangannya. Sampai wanita cantik itu tidak menyadari kalau suaminya sudah datang kembali.

__ADS_1


"Serius sekali, Sayang." Erlangga sukses mengagetkan wanita cantik itu hingga Rafika menjatuhkan berkas di tangannya.


"Aa ikh. Aku tuh coba cek laporan keuangan. Tapi kenapa terasa ada yang timpang ya? Coba cek dulu. Angka di bagian ini dan yang ini harusnya kan sama, tapi ini malah beda," tunjuk Rafika.


"Sini Aa lihat!" pinta Erlangga. Dia melihat perbedaan yang ditunjukkan oleh istrinya. Erlangga mengerutkan keningnya, karena laporannya banyak yang tidak sinkron. Dia pun melihat laporan penjualan dan pembelian. mencocokkan ketiga laporan itu. Benar saja ada selisih angka dari ketiga laporan itu.


"Calvin, suruh semua orang yang memberikan laporan ini menghadap aku sekarang juga!"


"Baik, Bos!" Calvin langsung pergi memanggil semua orang yang memberikan laporan bulanannya.


"Sayang, kamu istirahat saja di penthouse ya! Nanti Aa nyusul ke sana," suruh Erlangga.


"Aa mau marahin mereka?" tanya Rafika dengan menatap lekat suaminya.


"Tidak, Sayang. Aa hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran. Nurut sama Aa ya!"


"Iya, Papi. Aku ke penthouse sekarang ya!" pamit Rafika dengan mencium bibir Erlangga sekilas. Dia naik ke lift yang ada di ruangan itu. Rafika yakin pasti suaminya ingin marah-marah pada bawahannya. Tapi yang dia tidak mengerti, kenapa Erlangga tidak mau kalau dia melihat kemarahan suaminya?


Sementara itu, tidak lama setelah kepergian Rafika, Calvin datang dengan orang-orang yang bertanggung jawab membuat laporan bulanan. Mereka terlihat ketakutan, merasakan hawa dingin di seluruh ruangan itu. Bukan karena dinginnya AC. Tapi karena kemarahan Erlangga yang terpendam.


Bruk!


Erlangga melemparkan semua berkas yang seharusnya dia periksa. Dengan tatapan mengintimidasi, dia lihat satu persatu orang-orang yang berdiri di ruangannya. Erlangga pun bangun dari duduknya dan menghampiri mereka.


"Kalian pikir, perusahaan ini perusahaan main-main? Sampai kalian bekerja semaunya. Aku menggaji kalian bukan untuk menjadikan kalian orang yang pandai memanipulasi data. Kalian pikir aku bodoh? Sampai bisa kalian kelabui dengan laporan sampah seperti itu. Aku tidak mau tahu, dalam waktu dua jam semua laporan yang aali harus ada di mejaku. Kalau tidak ada, maka silahkan ambil surat pemecatan kalian di HRD."


"Maaf, Tuan. Aku membuat laporan penjualan sudah sesuai dengan di lapangan," bela manager marketing.


"Kalian periksa lagi, laporan yang sudah kalian berikan padaku."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2